AJARAN KRISTEN SEBAGAI PENUNTUN HIDUP

ajaran kristen tentang banyak hal

Yesus berkata: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Senin, 27 Oktober 2014

Kesaksiann: Aida Skripnikova - KUK YANG KUPASANG ITU ENAK

Berikut ini adalah kesaksian dari Aida Skripnikova (1961):

Wanita muda itu berdiri di sudut ruangan sambil membagikan kartu- kartu kecil bertuliskan puisi-puisi di dalamnya. Beberapa orang menerima kartu-kartu tersebut karena ingin tahu tentang tulisan yang ada di dalamnya. Beberapa orang tertarik karena ia begitu cantik, tetapi kebanyakan mengambil kartu-kartunya karena sukacita dan kasih yang tampak di dalam senyumnya saat ia menatap ke dalam mata setiap orang dan memberi mereka sebuah kartu. Pada tiap kartu terdapat puisi yang telah ia tulis sendiri. Tiap puisi menyatakan kasih dan sukacita yang ia rasakan setelah mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Namun karena tindakannya itulah ia ditahan dan dibawa ke pengadilan. Di hadapan pengadilan dengan berani ia menyaksikan, "Masyarakat yang sedang kalian bangun, wahai Komunis, tidak pernah dapat menjadi adil karena kalian sendiri tidak adil." Aida dijatuhi hukuman satu tahun penjara.

Ketika dilepaskan, ia langsung kembali ke pekerjaannya semula yaitu melayani di sebuah gereja bawah tanah. Karena kecantikannya, kemauan kerasnya, dan keberaniannya, ia dijuluki "a pirate from the house of prayer" oleh koran Komunis Izvestia.

Salah satu hal yang berani ia tulis adalah, "Kalian para ateis, dapat mengadakan pertemuan bersama setiap saat dan melakukan apa pun yang kalian inginkan -- berbicara, membaca, dan bernyanyi. Jika demikian, mengapa kami tidak dapat saling mengunjungi? Hukum apa yang melarang hal ini? Mengapa kami tidak boleh berdoa atau membaca Alkitab kapan pun kami mau? Kami diijinkan untuk berbicara mengenai Allah hanya di gereja. Kalian pasti tidak akan setuju jika kalian diijinkan untuk berbicara mengenai teater hanya di teater atau mengenai buku-buku hanya di perpustakaan. Dengan cara yang sama, kami tidak dapat diam saat mengetahui ada hal-hal yang bertentangan dengan makna hidup kami -- yaitu Kristus." Untuk ucapannya itu sekali lagi Aida dijatuhi hukuman empat tahun penjara, tetapi hal ini tidak juga membuat imannya goyah.

Pada usia 27, Aida masuk penjara lagi untuk keempat kalinya, tetapi agaknya penjara hanya memberi pengaruh sedikit. Penjara malah semakin meningkatkan cintanya terhadap Firman Allah dan betapa penting firman itu bagi imannya. "Di penjara, hal yang tersulit adalah hidup tanpa Alkitab."

Pernah satu kali, sebuah Injil Markus diselundupkan ke penjara dan diberikan kepadanya. "Ketika para penjaga mengetahui bahwa aku memiliki sebuah Injil, mereka menjadi kuatir dan menggeledah seluruh penampungan. Pada penggeledahan kedua, para penjaga menemukan kitab itu. Aku dihukum karena hal ini dan dikurung sendiri dalam sel tahanan yang dingin selama sepuluh hari dan sepuluh malam dan terasing. Tetapi dua minggu kemudian aku diberi Alkitab Perjanjian Baru yang dapat aku simpan sampai hari pembebasanku."

"Penjara sering kali digeledah, tetapi setiap kali Tuhan membantuku. Aku mengetahui terlebih dahulu mengenai penggeledahan tersebut sehigga aku dapat menyimpan kitab yang berharga itu. Banyak tahanan lain yang membantuku menyembunyikannya, walaupun mereka bukan orang Kristen."

Para penjaga melakukan banyak hal untuk melemahkan iman Aida dan berusaha membuatnya menyangkali imannya, tetapi beberapa usaha itu menjadi senjata makan tuan. "Suatu kali seorang penjaga menunjukkan kepadaku satu paket makanan. Ia mengatakan kepadaku bahwa isinya coklat dan berbagai makanan lezat lainnya. Meskipun tidak diberikan kepadaku, paket makanan itu menguatkan aku saat mengetahui bahwa sahabat-sahabatku peduli terhadap diriku. Fakta ini jauh lebih berarti daripada makanan itu sendiri. Pada kesempatan lain, aku diberitahu bahwa ada kiriman sepuluh paket untukku dari Norwegia, tetapi paket-paket ini pun tidak diberikan kepadaku .... Merupakan sukacita yang besar bagi kami untuk mengalami persekutuan roh bersama orang-orang Kristen yang ada di berbagai wilayah. Hal ini memberikan harapan kepada kami yang ada di dalam penjara. Aku ingin mengirimkan sebuah ungkapan kasih dari kami semua yang ada di penjara kepada mereka yang telah peduli terhadap kami dan telah berdoa bagi kami."

Ketika ia dibebaskan dari penjara, Aida telah berubah secara drastis. Kecantikan bagai bintang film yang dimilikinya pada masa mudanya bukan saja lenyap, tetapi pada usianya yang baru 30 tahun, ia tampak seperti berusia lebih dari 50 tahun. Ia kurus kering dan lusuh oleh tahun-tahun yang dihabiskan di dalam penjara. Jika Anda melihatnya, Anda tak akan pernah mengenalinya sebagai wanita yang sama, kecuali untuk satu hal: senyumannya. Senyumnya masih mencerminkan kasih dan sukacita karena pengenalannya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Saat menjalani masa penjaranya yang terakhir dan paling sulit, Aida menulis, "Ada makna satu ayat yang menjadi lebih jelas dari sebelumnya, 'Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.'" (Matius 11:30) dan Yesus sendiri mengatakannya. Selama tiga tahun di dalam penjara itu aku menjadi semakin memahami makna dari ayat tersebut."

Informasi Tambahan

Pada tahun 1991, sekitar 20 tahun setelah Aida menjalani masa penjaranya yang keempat, Uni Soviet pecah karena runtuhnya Komunis. Penganiayaan kaum Kristen yang dilakukan oleh pemerintah berhenti pada saat itu, setidaknya untuk satu masa. Iman dan perjuangan dari Aida dan banyak umat percaya lainnya melalui pelayanan di bawah tanah tidaklah sia-sia.

Pada tahun 1992, utusan dari The Voice of the Martyrs menjumpai Aida di apartemen yang terawat dengan baik di sebuah gedung tua di St. Petersburg. Aida tidak menyimpan kegetiran kepada orang-orang yang telah menyiksanya di penjara, hanya pengampunan yang terpancar dari hatinya. Ia terkejut saat mengetahui kesaksiannya telah menarik banyak perhatian dari umat Kristen di seluruh dunia, dan ia amat bersyukur karena hal itu. Aida mengatakan, "Aku hanya mungkin bertahan karena dukungan banyak doa dari seluruh dunia. Jika tidak, aku tidak akan bertahan."

"Ingatlah akan orang-orang hukuman, karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman. Dan ingatlah akan orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini." 
 (Ibrani 13:3)

Sumber:
Judul Buku : Jesus Freaks
Judul Artikel: A Pirate from The House of Prayer
Penulis : dc Talk and The Voice of the Martyrs
Penerbit : Albury Publishing, Tulsa, Oklahoma, 1999
Halaman : 84 - 87

READ MORE - Kesaksiann: Aida Skripnikova - KUK YANG KUPASANG ITU ENAK

Senin, 29 September 2014

Renungan Harian: Jangan dirobohkan

Bacaan: Amsal 14:1

Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.- Amsal 14:1



Tina nyesel udah putus ama Doni. Padahal mereka udah pacaran sejak kuliah tingkat tiga. Doni udah menunjukkan keseriusannya dalam hubungan mereka. Tapi entah kenapa hari itu Tina mengambil keputusan untuk putus. Enggak ada air mata kesedihan waktu dia mengucapkannya di depan Doni. Yang ada hanyalah kemarahan, kejengkelan, kekecewaan terhadap sikap Doni yang akhir-akhir ini dirasakan Tina lebih sering menghabiskan waktu ama temen-temennya dibandingkan ama dirinya. Tina ngerasa udah dikecewakan, enggak dihargai, enggak disayangi lagi, dst. 

Sebulan udah berlalu sejak kejadian itu, dan sekarang Tina nyesel. Doi nyesel kenapa dulu mengucapkan kata putus. Nyesel karena sekarang Doni udah pindah keluar kota dan sulit dihubungi kembali. Nyesel atas tindakannya yang dibakar emosi dan tidak berpikir panjang dan jernih. Tapi sekarang udah terlambat.

Girls, apakah kamu pernah mengalami hal yang hampir sama seperti Tina? Saat pacaran dan terjadi konflik, kita langsung buru-buru mengucapkan kata putus. Dalam hati kecil kita berharap doi bakalan ngemis-ngemis meminta permohonan maaf kita, trus baikan lagi (seperti di film-film romantis geto deh!) Kita enggak menyadari bahwa sikap seperti itu tuh childish ‘n egois banget. Kita enggak berusaha mencari jalan keluar atas masalah yang sedang muncul, tapi lebih memilih untuk lari dari masalah itu. Kita beranggapan bahwa yang salah hanyalah dari pihaknya dan kita enggak perlu introspeksi diri karena kita udah cukup baik kepadanya. Kalo sebelum membangun rumah tangga aja kita udah gampang nyerah, gimana nanti kalo udah menikah? Penulis Amsal yang bijaksana menuliskan,”Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.” Jangan sampai kita menjadi gadis bodoh yang meruntuhkan rumah kita sendiri.

Sumber: http://www.renungan-spirit.com/mudaremaja/jangan_dirobohkan.html
READ MORE - Renungan Harian: Jangan dirobohkan

Renungan Harian: John Wesley

Bacaan: Matius 25:31-46

Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan;- Matius 25:42



Pernahkah Anda mendengar nama John Wesley? Ia seorang yang patut kita teladani dalam caranya menggunakan uang. Wesley dibesarkan dalam keluarga pendeta miskin. Saat dewasa ia akhirnya menjadi pendeta juga seperti ayahnya, namun dengan nasib yang berbeda. Sebagai profesor teologia di Oxford, ia menghasilkan uang yang cukup untuk membalas kepahitan masa kecilnya yang serba kekurangan. Dengan penghasilan 30 pounds setahun, saat itu ia bisa hidup berfoya-foya dengan uangnya.

Namun ia berubah ketika suatu hari ia melihat pembantunya yang miskin berpakaian tipis di musim dingin. Ia bermaksud menolongnya dengan pemberi uang, tapi ternyata tak ada uang yang tersisa di kantongnya. Padahal dinding rumahnya berhiaskan lukisan mahal dan barang-barang mewah. Sejak saat itu ia berjanji dalam hatinya untuk membatasi penggunaan uangnya dengan bijak agar bisa menolong orang banyak.

Dari gajinya yang 30 pounds per tahun ia menyisihkan 2 pounds untuk dibagikan. Tahun berikutnya ketika gajinya naik 2 kali lipat, ia tetap menggunakan 28 ponds untuk dirinya sendiri dan membagikan sisanya 32 pounds kepada orang miskin. Tahun demi tahun ia tetap melakukan hal yang sama sekalipun gajinya telah berlipat ganda. Barulah setelah gajinya mencapai 1400 pounds, ia menaikkan taraf hidupnya menjadi 30 pounds per tahun. Sungguh luar biasa! Tak heran Allah memberikan kepadanya kepercayaan yang besar dalam hal keuangan.

Mungkin kita belum pernah mencoba berlaku se"ekstrim" John Wesley. Namun pasti Tuhan ingin anak-anak-Nya bisa belajar menggunakan uang dengan benar. Tak perlu rencana yang terlalu panjang untuk menunggu kita kaya raya dulu. Dengan apa yang ada pada kita hari ini, kita bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain. Cara seperti ini akan menghindarkan kita dari bahaya ketamakan. Belajar dari John Wesley, bahwa yang namanya kepuasaan di dunia itu tidak ada habisnya, itu sebabnya pastikan kita yang mengatur keuangan kita, bukan uang yang mengatur kehidupan kita. Dengan cara ini kiranya akan membuat kita semakin dipercaya oleh Tuhan dan kiranya Tuhan akan memakai tangan kita untuk memberkati semakin banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita.

Gunakanlah keuangan kita dengan bijak dan hindarkan diri dari kerserakahan.

Sumber: http://www.renungan-spirit.com/ilustrasi-rohani/john_wesley.html
READ MORE - Renungan Harian: John Wesley

Renungan Harian: Menjadi Ibu Rumah Tangga itu Ringan?

Bacaan: Amsal 31:10-31

Isteri yang cakap, siapakah akan mendapatkannya?- Amsal 31:10



Kalau kita mau sedikit lebih jujur, kita harus mengakui bahwa sebagai suami kita seringkali merasa lebih hebat daripada isteri kita. Merasa bahwa kita yang mencari uang, sehingga kita sewenang-wenang dengan isteri yang hanya melewatkan waktu di rumah untuk mengurus anak dan rumah tangga kita. Apakah benar bahwa tugas suami yang mencari nafkah lebih berat daripada tugas isteri yang hanya mengurus rumah tangga?

Sungguh menarik menyimak artikel yang ditulis Detroit Free berdasarkan penelitian Michael Minton tentang nilai isteri jika diukur dengan uang. Isteri merangkap beberapa pekerjaan sekaligus seperti sopir saat menghantar anak ke sekolah, menjadi tukang kebun saat menyapu halaman dan mencabuti rumput liar, menjadi perawat saat memandikan anak, menjadi dokter saat anak sakit, menjadi guru saat mengajari anak di rumah, menjadi pendeta saat bercerita, menjadi tukang cuci, tukang masak, menjadi bendahara keluarga, bahkan menjadi seperti resepsionis yang menerima telpon atau menerima tamu. Dengan menggunakan daftar tugas itu, Minton menghitung nilai kerja seorang ibu rumah tangga sesuai dengan upah yang berlaku di pasaran, dan nilainya adalah Rp. 884.773,89 per minggu atau Rp. 3.539.095,56 per bulan! *

Mengurus rumah tangga tak kalah capeknya dibandingkan kita yang bekerja di kantor. Oleh karena itu, hendaknya kita sebagai suami bisa mengasihi isteri kita dan tidak merasa seolah-olah kita merasa lebih penting dan lebih berjasa daripada isteri kita. Jangan pernah berpikir bahwa tugas mencari uang selalu lebih berat daripada mengurus rumah tangga. Kalau tidak percaya, ambillah waktu untuk cuti dari pekerjaan Anda dan lakukanlah semua tugas yang biasanya dikerjakan oleh isteri Anda di rumah. Saya jamin, tak perlu waktu lama untuk mendengar keluhan akibat rasa capek yang Anda rasakan.

Inti renungan pada hari ini adalah bagaimana kita bisa saling menghargai satu sama lain dalam kehidupan berumah tangga. Jika kita bisa menghargai pasangan kita dan tidak merasa lebih hebat daripadanya, maka akan tercipta sebuah rumah tangga yang lebih harmonis. Percayalah, dengan sikap yang seperti ini, maka pertengkaran dengan pasangan juga akan semakin jarang terjadi.

Belajarlah menghargai pasangan kita satu sama lain.

Sumber: http://www.renungan-spirit.com/artikel-rohani/menjadi_ibu_rumah_tangga_itu_ringan?.html
READ MORE - Renungan Harian: Menjadi Ibu Rumah Tangga itu Ringan?

Renungan Harian: Tak Tersisa Makna

Bacaan: II Timotius 3:5 Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.- II Tim 3:5

 Ini salah satu cerita favorite saya. Seorang pria membeli sebuah beo yang pernah menjadi juara dengan harga yang sangat mahal. Agar beo ini berbicara lebih banyak lagi, maka pria ini sengaja membelikan sebuah sangkar yang benar-benar elegan dan besar. Herannya, di sangkar yang sedemikian bagus, beo itu tidak mengeluarkan suara sedikitpun juga. Pria ini mulai kuatir lalu mencoba konsultasi dengan penjual burung beo itu. Sang penjual segera menyarankan agar pria ini membeli cermin, sebab dengan adanya cermin maka beo ini akan merasa nyaman. Tetapi usaha ini tak membuahkan hasil. Kembali si penjual beo itu menyarankan agar pria ini membeli tangga dan ayunan supaya beo itu senang. Namun tetap saja usaha ini sia-sia, dan beo itu benar-benar melakukan aksi bungkam mulut. Beberapa hari kemudian beo itu tergolek lemah dan tiba-tiba mengeluarkan suara yang selama ini ditunggu-tunggu. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, beo itu berkata, “Apakah benar tidak ada makanan selain cermin, tangga dan ayunan mahal ini?” 
 
Tahukah Anda maksud cerita itu? Beo itu diperlengkapi dengan fasilitas yang bagus dan mahal, tetapi sayang pria ini lupa memberi makan kepadanya. Tak heran kalau beo ini tidak mau bersuara dan akhirnya mati. Hal yang penting dan mendasar justru dilupakan, sebaliknya pria ini berkonsentrasi kepada hal-hal yang sebenarnya tidak perlu.
 
Mengabaikan hal yang penting karena disibukkan hal-hal yang kurang perlu. Pemandangan ini akan semakin jelas menjelang hari Natal atau hari Paskah, atau acara perayaan penting di gereja. Mempersiapkan diri begitu rupa menyongsong “hari suci” sampai tak menyadari bahwa ia sudah kehilangan makna yang sebenarnya. Sibuk rapat, mencari dana begitu rupa, latihan paduan suara, menyiapkan operet dan drama atau melakukan apapun yang dianggap penting pada momen ini. Namun pada gilirannya, ia melupakan makna yang sebenarnya dari momentum yang sedang ia rayakan. Setelah semuanya berlalu, maka tak tersisa sedikitpun makna yang bisa direnungkan. Kecuali hanya menyisakan keletihan, kejengkelan dan kecapekan yang luar biasa. Kiranya renungan ini selalu mengingatkan agar di saat kita menyibukkan diri pada sebuah momentum yang sedang kita rayakan, kita tidak kehilangan makna yang sebenarnya dari momentum itu.

Sebuah momen tidak akan pernah berarti jika sudah kehilangan maknanya.

Sumber: http://www.renungan-spirit.com/renungan-kristen.html
READ MORE - Renungan Harian: Tak Tersisa Makna

Kesaksian: Kisah Nyata Romo Magnis yang Mencintai Indonesia

Pemilihan Umum 2014 merupakan pesta demokrasi yang sangat ditunggu-tunggu oleh sebagian besar seluruh warga negara Indonesia, termasuk Profesor Doktor Romo Frans Magnis Suseno. Walau lahir dan dibesarkan di lingkungan bangsawan Jerman, tetapi Romo Magnis merasa memiliki ikatan yang kuat dengan negeri yang sudah didiaminya puluhan tahun ini. 
Ia tidak menampik awalnya ia merasa biasa-biasa saja dengan Indonesia. Namun seiring waktu, sejalan dengan dilibatkan dirinya dalam masalah-masalah yang terjadi baik tingkat daerah maupun nasional maka ia pun menganggap dirinya sebagai bagian dari NKRI. 
Bagi Romo Magnis, umat Kristiani di Indonesia pada dasarnya memiliki peranan besar dalam rangka menentukan masa depan Indonesia. Oleh sebab itu, ia memandang kehadiran para pengikut Kristus di suatu negara seharusnya memberi warna yang positif kepada wilayah dimana mereka tinggal atau berada. 
Romo Magnis memandang bahwa tidak cukup orang Kristen menjadi Kristen yang jujur dan berintegritas. Lebih dari pada itu, mereka yang mengaku beriman kepada Tuhan Yesus Kristus juga sepatutnya memikirkan nasib bangsa. 
Indonesia memang banyak sekali masalah, tetapi baginya, tidak ada bangsa, negeri, orang, yang tidak ada persoalan.  
Bangkit Dari Masalah
Seperti manusia lain, Romo Magnis juga memiliki masalah di dalam kehidupannya. Ketika situasi itu dialami, ia mengaku memiliki cara tersendiri untuk bangkit. Hal pertama yang biasa ia lakukan adalah ia mengingat kembali panggilan-Nya di dalam Yesus Kristus.   
"Jadi saya merasa ada latar belakang saya. Saya tidak sendirian. Itu (masalah adalah sesuatu yang) normal, Yesus sendiri banyak kesulitan. Jadi saya di situ mendapat motivitasi religius, kalau mau diucapkan begitu."
Selain mengingat panggilan di dalam Yesus Kristus, cara kedua ia bangkit dari masalah adalah ia datang kepada komunitas yang sejak lama ia masuki. Ketika ia menjumpai orang-orang di dalam komunitas lamanya itu, ia sungguh mendapat dukungan yang sangat berarti. Baginya, dua hal yang ia laksanakan tersebut sungguh membantunya di dalam hari-hari sulit yang ia hadapi. 

Sumber: http://www.jawaban.com/read/article/id/2014/07/04/78/140704150318/Kisah-Nyata-Romo-Magnis-yang-Mencintai-Indonesia
READ MORE - Kesaksian: Kisah Nyata Romo Magnis yang Mencintai Indonesia

Kesaksian: Suwarno, Ekspresikan Kasih Tuhan Melalui Anak Jalanan

Mengorbankan nyawa dan karir demi anak-anak jalanan, hal ini bisa dilihat langsung dari sosok seorang Suwarno Asmoro. Bermula saat pulang kuliah dan bertemu tiga pengamen anak di depan Jakarta Design Centre. Bingung melihat ketiganya yang membawa tas, Suwarno menanyakan apa isi dalam tas tersebut. Ketiganya lantas menunjukkan buku pelajaran Lembar Kerja Siswa (LKS) yang mereka bawa didalam tas. Tergerak, iapun langsung mengajar dan memandu ketiga pengamen tersebut mengerjakan tugas sekolahnya. Tidak disangka ternyata reaksi yang diterima sangat menggembirakan. Mereka melompat dan teriak gembira, saat ditanya kenapa bisa sesenang itu, mereka senang karena tidak akan di hukum lagi di sekolah.

Setelah menjadi seorang apoteker, Suwarno merasa gelisah. Gaji cukup besar dan dia bisa saja kaya dengan penghasilannya. Tetapi ia tidak ingin kaya materi, melainkan kaya yang bermanfaat. Kaya itu adalah ketika kita menginvestasikan diri kita sehingga orang bisa menikmatinya. Bagaimana? Suwarno memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya dan berhenti bekerja. Kepeduliannya akan kaum termarjinalkan muncul sejak pertemuan dengan anak-anak yang sibuk mengamen, sementara kesulitan untuk mengerjakan tugas sekolah dan memahami pelajaran.

Bukan uang yang dibutuhkan anak-anak pengamen ini melainkan pengetahuan. "Saya berpikir, wah ternyata ini needs mereka. Kebutuhan mereka.bukan uang, kalau uang kan nnati diminta orantuanya." Akhirnya Suwarno beralih menjadi guru privat les anak-abnak pengamen. Niat baik juga tidak selamanya tanpa hambatan. Respon yang datang padanya juga pernah menimbulkan kecurigaan, caci-maki hingga berujung pada pertikaian fisik, baginya ini adalah hal yang biasa.

"Pernah ada orang tua yang datang dan dobrak pintu". Ayahnya marah-marah dan memaksa anaknya untuk kembali megamen. Marah, Suwarno mengatakan, "Saya engga mau anak bapak itu seperti bapak, saya mau anak itu pinter." Tetap tidak terima, orang-tua pergi, setelah itu anaknya juga menyusul. Tetapi belum berhenti, ternyata orangtua tersebut kembali, kali ini dengan membawa komplotan preman. Suwarno akhirnya dipukuli dan dan dikeroyok.

Bukan menyerah, tetapi dia berusaha melakukan pendekatan, dengan meyentuh hati keluarga tersebut. Saat ibu dari anak pengamen tersebut sakit, Suwarno merawat dan memwanya kerumah sakit. Luluh, si ayah tadi mengijinkan dan mendukung apa yang dilakukan oleh Suwarno.

Hingga saat ini, Suwarno telah 15 tahun mengabdikan hidupnya mengajari anak-anak jalanan di daerah Jakarta. Bukan hanya belajar, tetapi dia juga memenuhi gizi dengan menyediakan susu. Indonesia sendiri, rendah kesadarannya untuk mengkonsumsi susu. Menurutnya susu dapat meningkatkan kemampuan otak dan emmbantu anak-anak dalam memahami pelajaran.
Kasih diwujudkan dalam tindakan yang nyata adalah karakter yang melekat dalam diri Suwarno. "Anak-anak yang akan memimpin bangsa. Jangan sampai mereka kehilangan masa anak-anak yang disebabkan orang-orang dewasa." Jangan sampai Indonesia kehilangan generasi. "Saya bisa begini itu karena Tuhan. Karena Tuhan yang sudah membela hidup saya. Suwarno hanya ingin mengekspresikan kasihya kepada Tuhan lewat anak-anak pengamen ini. "Ga usah banyak bicara, langsung bertindak, berlaku, ekspresikan yang ada dalam hati. Mengasihi sesama adalah ekspresi kita mengasihi Tuhan." Termasuk juga mengasihi bangsa. Orang yang sangat mengasihi Tuhan pasti sangat bermanfaat bagi bangsa ini. Kalau manusia bisa mengasihi Tuhan dengan baik, pasti bisa jadi berkat buat keluarga dan masyarakat

Sumber:http://www.jawaban.com/read/article/id/2014/07/16/9/140716121614/Suwarno%3A-Ekspresikan-Kasih-Tuhan-Melalui-Anak-Jalanan
READ MORE - Kesaksian: Suwarno, Ekspresikan Kasih Tuhan Melalui Anak Jalanan