AJARAN KRISTEN SEBAGAI PENUNTUN HIDUP

ajaran kristen tentang banyak hal

Yesus berkata: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Rabu, 29 Oktober 2014

Renungan Harian: Butuh Perbedaan

“Supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. “
1 Korintus 12:25

Tuhan menciptakan manusia sungguh sempurna. Anggota-anggota tubuh semua luar biasa. Di beberapa bagian tubuh manusia dibuat berpasangan, seperti sepasang telinga, sepasang mata, sepasang tangan dan sepasang kaki. Dari keempat pasangan tersebut, sepasang kaki sangat menarik untuk direnungkan. Kaki kanan dan kiri bentuknya berbeda. Untuk dapat bergerak maju salah satu kaki harus melangkah terlebih dahulu, kanan dulu baru kiri atau sebaliknya. Bisa juga kedua kaki bergerak bersama-sama (melompat seperti kanguru), namun cara ini tentunya tidak efektif dan sangat melelahkan. Di samping itu, alas kaki seperti sepatu/sandal juga pasti berbeda, kanan dan kiri. Bisa kita bayangkan jika kita memakai sepatu semuanya sama (kanan semua/kiri semua), pasti tidak akan membuat nyaman di kaki dan bisa dipastikan akan menghambat pergerakan kaki kita, Saudaraku, kita sering berpandangan bahwa perbedaan itu buruk dan bisa mengakibatkan perpecahan. Namun harus kita sadari bahwa perbedaan tidak seluruhnya buruk. Di beberapa kasus justru sangat baik. Contoh: perkembangan teknologi menjadi semakin maju justru karena ada perbedaan. Jika semua orang sepakat bahwa manusia diciptakan Tuhan sebagai mahluk yang tidak bisa terbang, tentunya hari ini kita tidak akan melihat pesawat terbang. Tetapi Wright bersaudara berani berbeda, sehingga mereka mengembangkan mesin terbang kebentuk pesawat terbang bersayap. Mari kita belajar menjadikan perbedaan sebagai sarana untuk bisa lebih maju dan berkembang bukan sebaliknya.

Sumber: https://littleantnotes.wordpress.com/

READ MORE - Renungan Harian: Butuh Perbedaan

Renungan Harian: Refleksi Surgawi


“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!” 
Mazmur 46:11




Seorang teman menunjukkan foto yang dia ambil di Taman Nasional Shinjuku Gyoen, sebuah taman yang besar di tengah kepadatan kota Tokyo. Foto itu menunjukkan langit biru yang indah dengan sebuah pohon di tengah foto.

Ketika saya puji dia atas keindahan hasil jepretannya, dia menjadi geli. Dia berkata, “Kamu melihatnya secara terbalik. Itu adalah gambar pantulan langit pada danau.

Ketika saya perhatikan dengan seksama, saya menyadari bahwa dia berkata benar. Yang sebelumnya saya pikir adalah pemandangan yang indah merupakan pantulan pada permukaan danau, yang persis seperti cermin. Saya kagum betapa bersih langit dan sekitarnya yang tercermin pada air yang tenang. Hal itu membuat saya merenungkan betapa indahnya jika hidup saya mencerminkan kedamaian dan ketenangan surgawi.

Tuhan mengajarkan saya untuk mengetahui bahwa Dia mengawasi dan memegang kontrol atas hidup kita. Dia berkata, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah.” 

Tetapi ketika ada masalah yang datang menimpa, hal itu dapat mengacaukan kehidupan roh saya dan membuat saya tak berdaya. Orang lain dapat melihat gelombang yang mengacaukan hidup saya, dan bukan pantulan ketenangan surgawi.

Saya tidak dapat menghindari badai kehidupan, tetapi badai tersebut tidak boleh merampas damai sejahtera Allah dalam hidup saya. Saya dapat berpegang teguh pada janji Tuhan bahwa pencobaan ini tidak akan melebihi dari yang dapat saya tanggung; Tuhan akan senantiasa menyediakan jalan keluar.

Tuhan juga siap, bersedia dan sanggup memberikan kebaikan dari setiap situasi dan keadaan, jika hati saya siap dan saya mengandalkan tuntunan dan pertolongan dari Tuhan.

Sumber: http://www.pelitahidup.com/2014/01/12/refleksi-surgawi/#.VFDV2Vd8G60
READ MORE - Renungan Harian: Refleksi Surgawi

Kesaksian: Pemain Sepak Bola yang Bertanding dalam Piala Dunia 2002

Berikut ini adalah empat dari kesaksian-kesaksian pemain sepak bola yang bertanding dalam pertandingan Piala Dunia 2002 yang dimuat dalam situs "Go the Goal": ==> http://www.gothegoal.com/english/
 
JOSE ROBERTO JUNIOR DA SILVA - ZE ROBERTO
Club : Bayer Leverkusen (Germany)
Negara: Brazil
Posisi: Midfield
Allah mengijinkan banyak hal terjadi dalam hidup kita, terkadang untuk menguji kita dan untuk memperkuat iman kita. Kita harus dipersiapkan untuk menghadapi masa-masa sulit. Manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari Firman yang keluar dari mulut Allah. Hidup tidak hanya dipenuhi dengan kegembiraan saja, tetapi ada juga tantangan.
Saya berasal dari keluarga miskin yang tidak pernah memiliki sesuatu. Terkadang kami harus berjuang keras untuk mendapatkan apa yang kami butuhkan, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari kami sangat kekurangan. Sekarang saya dapat melihat perubahan dalam hidup saya -- saat dimana saya tidak memiliki sesuatu, dan saat ini saya dapat memiliki segalanya. Segala sesuatu yang saya maksudkan di sini bukanlah uang ataupun kepopuleran, tetapi sukacita atas hidup yang saya miliki. Hal ini berawal saat ibu saya menerima Yesus secara pribadi dan setia dalam doa-doanya. Dia tidak pernah memaksa kami -- saya dan kakak-kakak laki saya -- untuk pergi ke gereja. Namun, suatu hari Roh Kudus menjamah hati saya dan saya menyerahkan diri kepada Yesus sama seperti yang dilakukan ibu saya. Semenjak saat itu, Yesus mengubah hidup saya. 

DANIEL ZAFIRIS 
Clubs : Petrolul Ploiesti, National University Team (Romania)
Negara: Romania
Posisi: Forward
Saya menyaksikan film "Jesus of Nazareth" dan film ini sungguh menarik perhatian saya. Akhirnya saya menyimpulkan bahwa hidup tanpa Allah sama seperti bermain sepak bola tanpa sebuah bola. Karena itu, jika tidak ada bola, maka tidak seorang pun dapat bermain sepak bola. Tahun 1991, saya memahami bahwa apapun tujuan hidup saya (sebagai pemain sepak bola), berapa pun kesuksesan yang saya raih, namun jika saya tidak memiliki Yesus sebagai Allah yang hidup, maka semua kesuksesan yang saya raih cepat atau lambat akan segera hilang. Apa gunanya bagi setiap orang di dunia, khususnya para atlet, jika dia dapat meraih dunia tetapi kemudian dia kehilangan jiwanya? Saya telah mendapatkan tujuan baru dalam hidup saya. Sekarang saya tahu mengapa saya hidup. Sebelum menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, saya adalah orang yang mengutamakan diri sendiri. Saya hanya memikirkan kebutuhan diri saya dan apa yang menjadi minat saya. Banyak kali saya tidak mengetahui kemana saya harus pergi dan kepada siapa menceritakan pergumulan saya. Namun sekarang, saya tahu bahwa saya dapat mengandalkan Kristus karena Dia memahami diri saya dan menguatkan saya untuk menghadapi situasi-situasi sulit baik dalam pertandingan, dalam kehidupan keluarga saya maupun dalam kehidupan pribadi saya. 

LUIS VIDIGAL
Club : Napoli (Italy)
Negara: Portugal
Posisi: Midfield
Hidup dengan ketenaran adalah sesuatu yang dapat menyulitkan. Tetapi Yesus mengajarkan bahwa saya tidak dapat meninggalkan dunia ini; saya harus bisa menghadapinya.
Saya yakin bahwa saya dapat mengerjakan segala sesuatu. Saya percaya dengan kemampuan saya untuk mencapai semua tujuan baik yang berhubungan dengan keluarga, sosial, maupun profesional. Namun pada kenyataanya, saya gagal untuk melakukan hal itu semua. Di Portugal ada sebuah persekutuan yang bernama Atletas de Cristo; dalam sebuah persekutuan yang saya ikuti, saya bertemu dengan orang-orang yang menolong saya untuk meraih tujuan-tujuan penting dalam hidup saya. Sejak saat itu, saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Semenjak saat itu tujuan hidup saya menjadi jelas. Saya juga belajar bagaimana caranya mengampuni, menerima diri saya sendiri, termasuk dalam membangun karir saya. 

BERT KONTERMAN
Club : Glasgow Rangers (Scotland)
Negara : Netherlands
Position: Defender
Saya berasal dari sebuah desa Kristen di Belanda. Setiap hari Minggu kami sekeluarga pergi ke gereja. Di sekolah, kami selalu berdoa sebelum memulai pelajaran dan saat menjelang sekolah usai. Kehidupan itu yang saya jalani di desa. Saya selalu berhubungan dengan kekristenan. Di kelas terakhir di Sekolah Menengah saya bertemu dengan seorang guru. Dia setiap pagi mengadakan pemahaman Alkitab dimana dia menjelaskan pasal-pasal Alkitab dan menggunakan kehidupan sehari-harinya sebagai contoh. Waktu-waktu itu sungguh memberikan pengaruh bagi saya karena sejak saat itu saya mulai memikirkan tentang Allah. Saya pikir saat itu merupakan titik balik yang mengubah pandangan saya terhadap Alkitab dan kekristenan. Kristus telah mengubah cara pandang saya tentang hidup. Semua orang di bumi pasti mengalami kesedihan dan permasalahan sekaligus juga mengalami hal-hal yang menyenangkan. Namun jika kita memiliki Allah sebagai tempat bersandar maka kita dapat menghargai segala sesuatu yang kita hadapi. Saya dapat menjalani kehidupan saya dan berjuang menghadapi permasalahan saya dengan bantuan dari Allah.

Sumber: http://misi.sabda.org/saksi_isi.php?id=8
READ MORE - Kesaksian: Pemain Sepak Bola yang Bertanding dalam Piala Dunia 2002

Selasa, 28 Oktober 2014

Kesaksian: Suku Bangsa Gedeo di Etiopia


Jauh di pedalaman suatu daerah berbukit di Ethiopia Tengah sebelah selatan, tinggallah beberapa juta orang petani kopi yang -- meskipun terbagi dalam suku-suku bangsa yang sangat berbeda -- mempunyai kepercayaan bersama kepada suatu eksistensi (keberadaan) yang penuh kebaikan bernama Magano -- Pencipta segala yang ada dan yang hadir di mana-mana. Salah satu dari suku-suku bangsa itu disebut dengan Darassa, atau lebih tepat lagi, suku Gedeo. Sekalipun jumlah suku Gedeo ada setengah juta namun hanya sedikit yang benar-benar berdoa kepada Magano. Malahan, seorang pengamat melihat orang-orang Gedeo lebih aktif berusaha menyenangkan hati suatu eksistensi yang jahat yang disebut Sheit'an. 

Pada suatu hari Albert Brant bertanya kepada sekumpulan orang Gedeo, "Kalian sangat menghormati Magano, tetapi mengapa kalian mempersembahkan kurban kepada Sheit'an itu?" Inilah jawaban yang diterimanya: "Kami mempersembahkan kurban-kurban kepada Sheit'an bukan karena kami mencintainya, tetapi karena hubungan kami dengan Magano tidak begitu akrab, sehingga kami tak berani melepaskan diri dari Sheit'an!" 

Namun ada satu orang Gedeo yang berusaha mendapat jawaban pribadi dari Magano. Nama orang itu adalah Warrasa Wange. Ia adalah anggota "keluarga raja" suku bangsa Gedeo yang tinggal di sebuah kota bernama Dilla yang terletak di daerah yang paling ujung dari tanah suku Gedeo. Cara pendekatannya kepada Magano adalah dengan menaikkan doa sederhana supaya Magano berkenan menyatakan diri-Nya kepada suku Gedeo! 

Warrasa Wange dengan cepat mendapat jawaban. Penglihatan-penglihatan yang mengejutkan menguasai seluruh pikirannya secara dahsyat. Dilihatnya dua orang asing berkulit putih. (Catatan: Namun ada kaum "Caucasophobes" -- yaitu orang-orang yang membenci atau takut kepada "orang-orang putih" yang biasanya disebut orang Caucasian -- tidak setuju dengan keterangan Warrasa, tapi sejarah pastilah tidak dapat menyangkal kenyataan ini.) 

Warrasa melihat kedua orang putih itu mendirikan tempat berlindung yang tipis dan halus di bawah naungan pohon sycamore yang besar dekat Dilla, kampung halaman Warrasa. Tak lama kemudian mereka menegakkan bangunan-bangunan yang lebih permanen dengan atap yang berkilau-kilauan. Akhirnya bangunan-bangunan itu nampak di mana- mana, di seluruh bukit itu! Seumur hidupnya belum pernah si pemimmpi itu melihat bangunan-bangunan yang mirip sedikit pun dengan tempat berlindung yang tipis itu, maupun bangunan permanen yang atapnya berkilauan itu. Semua tempat tinggal di Tanah Gedeo beratapkan rumput. Kemudian Warrasa mendengar suara yang mengatakan, "Orang- orang ini akan menyampaikan kepadamu pesan dari Magano, Allah yang kau cari itu. Tunggulah kedatangan mereka." 

Pada bagian terakhir dari penglihatannya itu, Warrasa melihat dirinya mengangkat tiang-tengah dari rumahnya sendiri. Dalam simbolisme Gedeo, tiang-tengah rumah orang berarti hidupnya sendiri. Kemudian dibawanya tiang itu ke luar kota dan ditanamkannya di tanah di samping salah satu bangunan beratap kemilau milik orang-orang asing. 

Warrasa mengerti maknanya -- kelak hidupnya harus mempunyai hubungan dengan orang-orang asing itu, dan dengan pesan yang mereka bawa dari Magano. Maka menunggulah Warrasa. Delapan tahun berlalu. Selama delapan tahun itu, banyak ahli nujum di antara suku bangsa Gedeo yang meramalkan bahwa tak lama lagi akan datang orang-orang asing membawa pesan dari Magano. 

Pada suatu hari yang sangat panas pada bulan Desember 1948, Albert Brant, seorang Kanada bermata biru, bersama rekannya Glen Cain, tiba- tiba tampak di garis langit, mengendarai sebuah truk yang sudah tua. Tugas mereka -- memulai pelayanan Injil bagi kemuliaan Allah di antara suku Gedeo. Padahal sebenarnya mereka berharap mendapat izin dari pembesar-pembesar Ethiopia untuk memulai misi di pusat wilayah Gedeo, tetapi para pembesar Ethiopia mengatakan kepada mereka bahwa permohonan itu pasti ditolak karena iklim politik saat itu. 

"Mintalah saja supaya diizinkan pergi ke Dilla, kota yang paling jauh dari pusat kota," nasihat orang-orang itu sambil mengedipkan mata. "Kota itu jauh sekali dari pusat wilayah suku Gedeo. Tapi bukan hanya itu saja, orang-orang percaya bahwa suku Gedeo yang tinggal jauh terpencil itu juga tidak mungkin bisa dipengaruhi." 

"Nah, kita sudah sampai," kata Brant kepada Cain. "Memang, ini tempat yang paling ujung dari wilayah Gedeo, tetapi kita harus puas dengan ini." 

Sambil bernafas panjang, dibelokkannya truknya yang tua itu ke arah Dilla. Glen Cain menghapus keringatnya dari dahinya. "Wah, kota ini sungguh panas, Albert," katanya. "Mudah-mudahan kita dapat menemukan tempat yang teduh untuk tenda-tenda kita!" 

"Coba, lihat pohon sycamore besar di sana itu!" jawaban Albert. "Tepat seperti yang kuinginkan!"
Brant mulai menjalankan truknya menaiki lereng bukit. Dari kejauhan Warrasa mendengar bunyi mesin mobil yang bising itu. Dia menengok ke arahnya dan tepat pada saat itu truk yang tua tadi berhenti di bawah cabang-cabang pohon sycamore yang terbentang luas. Dengan perlahan- lahan Warrasa berjalan mendekati truk itu, dan hatinya bertanya- tanya... 

Tiga puluh tahun kemudian, Warrasa (yang sekarang dengan penuh sukacita sudah menjadi pengikut Yesus Kristus, Putra Magano) bersama dengan Albert Brant dan orang-orang lainnya adalah anggota gereja- gereja yang jumlahnya lebih dari 200 orang masing-masing! Dengan bantuan Warrasa dan penduduk Dilla lainnya, hampir seluruh suku Gedeo telah dijamah oleh Injil -- walaupun Dilla letaknya sangat jauh dan terpencil dan orang-orangnya sulit dipengaruhi, kuasa Tuhan sanggup menjamahnya! 

Diambil dan dikutip dari:
Judul Buku : Kerinduan akan Allah yang Sejati
(Eternity in Their Hearts)
Judul Artikel: Suku Gedeo di Ethiopia
Penulis : Don Richardson
Penerbit : Kalam Hidup, Bandung, 1981
Halaman : 89 - 92
READ MORE - Kesaksian: Suku Bangsa Gedeo di Etiopia

Kesaksian: Perpaduan Antara Misi dengan Musik

[Sebuah contoh dari perpaduan antara musik dan misi dengan cara yang kreatif terlihat dalam kehidupan dan pelayanan John Benham, yang memiliki hasrat untuk menghubungkan antara musik dan misi.] 

PERPADUAN ANTARA MISI DENGAN MUSIK
 
Menjangkau berbagai budaya dengan musik untuk menghubungkan hati manusia dengan hati Tuhan: The Music In World Cultures Training Center (Musik dalam Pusat Pelatihan Kebudayaan Dunia). 

"Didirikan tahun 1989, The Music in World Cultures (MIWC) adalah realisasi dari dua hasrat saya semenjak kecil: panggilan untuk melayani Tuhan dalam misi dan kecintaan saya akan musik. Pergumulan saya menggabungkan dua hasrat ini memakan waktu puluhan tahun. Dua katalis yang mewujudkan terjadinya hasrat saya, yaitu mengembangkan kelas 'Perspektif Alkitabiah tentang Pujian -- Sebuah seminar tentang Pujian dan Budaya,' dan membawakan seminar tersebut di sebuah gereja baru di pulau Taliabo di Indonesia. Misionaris Steve dan Mary Lonetti, yang sedang kembali untuk cuti, ikut serta dalam kelas ini. Undangan dari mereka untuk datang dan mengajar di gereja Taliabo bagi saya jauh dari yang dibayangkan sebelumnya, bahkan oleh mereka sendiri. 

Ada sebuah kebudayaan animisme, yang sangat melibatkan roh-roh yang sangat trampil dalam membunuh orang. Tapi telah terjadi perubahan yang sangat ajaib! Empat suku yang dulunya saling bersaing sekarang hidup bersama dalam damai. Mereka telah 'memberikan hati mereka' -- sekarang mereka hanya memiliki hati Tuhan yang mereka 'bagi bersama.' 

Saat itu bulan Juni, 1989. Sebuah pesawat mendarat di landasan terbang sementara dan saya disambut dengan lagu-lagu pujian baru bagi Tuhan. Ini bukanlah sebuah lagu penyambutan tradisional, tetapi sebuah deklarasi dari iman mereka yang baru di dalam Tuhan. Mereka telah "membuat" lebih dari 75 lagu baru. Lagu-lagu tersebut adalah ekspresi ucapan syukur atas kebebasan dari roh-roh dan sebuah ringkasan dari pengajaran-pengajaran tentang keselamatan dan hidup kekal. Kala, seorang mantan dukun suku, dia sendiri telah menggubah hampir seluruh kitab Efesus ke dalam musik. 

Sebuah alat perekam kecil Sony sangat membantu proses perekaman. Kaset demi kaset telah diisi dengan puji-pujian baru. Lagu-lagu ini akan terdengar dari beranda sejak pk. 6.00 pagi. Nyanyi -- rekam -- tulis -- nyanyi bersama; dan kemudian prosesnya dimulai dari awal lagi. Kami melakukannya seharian penuh sampai malam hari, setiap hari, setiap malam. Hal ini sangat melelahkan, tapi mudah menular. Pengalaman-pengalaman dalam seluruh hidup saya terpusat pada peristiwa tersebut. Dua hasrat saya telah terpadu. 

Perjalanan pertama itu diakhiri dengan undangan untuk melayani delapan suku lainnya dan ini merupakan kesempatan untuk menghabiskan sisa hidup saya di Indonesia. Tetapi sungguh tidak realistis jika berpikir bahwa permintaan-permintaan yang tidak terlalu banyak itu hanya dapat dilakukan oleh satu orang saja. Orang lain harus diperlengkapi juga. Inilah jawabannya: sebuah Pusat Etnomusikologi (Ethnomusicology Center -- ilmu yang mempelajari musik dalam suatu bangsa) dengan misinya untuk "memperlengkapi para pemusik, misionaris, dan pemimpin gereja dengan budaya musik etnik, sehingga seluruh bangsa dapat memuji Tuhan dalam roh dan kebenaran dengan menggunakan bahasa musik mereka sendiri." 

Dengan pimpinan Tuhan dan kepemimpinan visionaris di Crown College (St. Bonafacius, Minnesota), sebuah kerja sama dibangun untuk menyelenggarakan sebuah program Master of Art dalam bidang Etnomusikologi. Kurikulum dan bahan-bahannya dikembangkan, termasuk sebuah laboratorium komputer musik dan sebuah pusat sumber daya. Selama 10 tahun di Crown College, pusat sumber daya MIWC telah mengembangkan lebih dari 1500 buku versi cetak, 500 kaset audio dan kaset video yang berisi kebudayaan-kebudayaan musik dari berbagai negara. 

Segera setelah itu MIWC mengerjakan proyek-proyek khusus yang menggabungkan musik dengan pelayanan misi. Di tahun 1996 sebuah undangan datang guna menjajagi kemungkinan kerja sama dengan Gabungan Gereja Baptis di Ukraina untuk memulai sebuah proyek bersama dengan para pemusik dari gereja-gereja di Ukraina. Stephen Benham (putra dari John Benham) kemudian memegang tanggung jawab atas proyek ini yang menjadi bagian dari program penelitian S3 (doktor)-nya di bidang musik. 

Visi MIWC:
  • Menyelenggarakan Orkestra Kristen Nasional dan Paduan Suara Ukraina.
  • Memperlengkapi pemimpin-pemimpin pujian gereja dengan Seminar "Perspektif Alkitab tentang Pujian."
  • Mengembangkan sebuah kurikulum pendidikan musik instrumental untuk melatih para anggota orkestra dan paduan suara menjadi guru musik.
  • Menyelenggarakan sekolah-sekolah musik di gereja-gereja untuk tujuan penginjilan.
Hasil MIWC:
  • Menyediakan musik bagi beberapa pelayanan penginjilan termasuk Badan Penginjilan Billy Graham.
  • Membawa tur penginjilan di aula-aula konser di seluruh Ukraina, dengan lebih dari 650 orang menerima Kristus dan bergabung dengan gereja lokal untuk pemuridan.
  • Menghasilkan sebuah CD dan kaset rekaman dari orkestra dan paduan suara.
  • Mendirikan 13 sekolah musik dengan 1/3 dari pendaftar datang dari keluarga yang sebelumnya tidak pergi ke gereja.

    Sumber: Global-Worship Vol. 2, #14 June, 2001
READ MORE - Kesaksian: Perpaduan Antara Misi dengan Musik

Humor: Alkitabnya Beda

Seorang anak kecil mendatangi ayahnya yang sedang bersantai sepulang kerja.

Anak: 
Ayah, apakah isi Alkitab yang biasa dibaca ibu sama dengan Alkitab yang ayah punya?

Ayah: Ya, tentu saja sama.

Anak: Ohh, aku kira punya ibu isinya lebih menarik dibanding punya ayah.

Ayah: Kenapa kamu berpikir begitu?

Anak: Karena Alkitab ibu lebih sering dibaca dibanding punya Ayah.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. 
(Mazmur 1:1-2)

[Sumber: The Last of The Good Clean Joke Books, halaman 14]
READ MORE - Humor: Alkitabnya Beda

Humor: Dari Mana Asalnya?

Bejo bertanya kepada ibunya tentang dari mana dirinya berasal. 

Ibunya menjelaskan, "Burung bangau yang mengantarkanmu ke depan rumah."

 "Lalu, dari mana ibu berasal?" tanya Bejo lagi.

"Nenek menemukan ibu di bawah daun kol," jawab ibunya.


"Kalau begitu dari mana nenek berasal?"

"Seorang malaikat memasukkannya ke dalam keranjang bayi."

"Ibu," kata Bejo, "Jadi maksud Ibu, selama tiga generasi di keluarga kita, tidak ada yang pernah hamil dan melahirkan?"

Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.
 (Mazmur 139:13)

[Sumber: The Last Official Smart Kids Joke Book, Halaman 81]
READ MORE - Humor: Dari Mana Asalnya?

Humor: Pengampunan Dosa



Dalam acara sekolah minggu di sebuah gereja, seorang guru sedang mengajar mengenai dosa dan pertobatan. Untuk menguji murid-muridnya, sang guru mengajukan pertanyaan.




Guru Sekolah Minggu: 
Anak-anak, jadi apa yang harus kita lakukan agar memperoleh pengampunan dosa?

Anak Sekolah Minggu: Saya tahu, Bu Guru.

Guru Sekolah Minggu: Ya kamu, silakan.

Anak Sekolah Minggu: 
Untuk bisa mendapatkan pengampunan dosa, kita terlebih dahulu harus melakukan dosa.

Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. 
(Galatia 6:7)

[Sumber: The Last of the Good Joke Book, halaman 20]
READ MORE - Humor: Pengampunan Dosa

Humor: Satu Kali Setahun

Kehidupan di biara sangat ketat. Setiap biarawan hanya diizinkan berbicara satu kali setahun, itu pun hanya dalam beberapa patah kata.

Pada hari gilirannya berbicara, seorang biarawan berkata, 
"Saya ingin agar kali ini, kita sarapan roti dengan telur ...."

Setahun berlalu dan tiba giliran biarawan yang lain untuk berbicara, 
"Saya lebih senang kalau kita sarapan roti dengan selai ...."

Tahun berikutnya, biarawan ketiga berbicara, 
"Saya bisa gila kalau kalian terus-menerus bertengkar, hanya untuk persoalan menu sarapan pagi."

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
(Mazmur 90:12)

[Sumber: "Guyonan Alim"; halaman 36, no. 41]

READ MORE - Humor: Satu Kali Setahun

Cerita Inspiratif: Allah Turut Bekerja Dalam Segala Sesuatu

Satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan sebuah kapal terdampar di pulau yang kecil dan tak berpenghuni. Pria ini segera berdoa supaya Tuhan menyelematkannya, dan setiap hari dia mengamati langit mengharapkan pertolongan, tetapi tidak ada sesuatupun yang datang.

Dengan capainya, akhirnya dia berhasil membangun gubuk kecil dari kayu apung untuk melindungi dirinya dari cuaca, dan untuk menyimpan beberapa barang yang masih dia punyai.

Tetapi suatu hari, setelah dia pergi mencari makan, dia kembali ke gubuknya dan mendapati gubuk kecil itu terbakar, asapnya mengepul ke langit. Dan yang paling parah, hilanglah semuanya.

Dia sedih dan marah. "Tuhan, teganya Engkau melakukan ini padaku?" dia menangis. Pagi- pagi keesokan harinya, dia terbangun oleh suara kapal yang mendekati pulau itu. Kapal itu datang untuk menyelamatkannya.

"Bagaimana kamu tahu bahwa aku di sini?" tanya pria itu kepada penyelamatnya.

"Kami melihat tanda asapmu", jawab mereka.

Mudah sekali untuk menyerah ketika keadaan menjadi buruk. Tetapi kita tidak boleh goyah, karena Tuhan bekerja di dalam hidup kita, juga ketika kita dalam kesakitan dan kesusahan. Ingatlah, ketika gubukmu terbakar, mungkin itu "tanda asap" bagi kuasa Tuhan. Ketika ada kejadian negatif terjadi, kita harus berkata pada diri kita sendiri bahwa Tuhan pasti mempunyai jawaban yang positif untuk kejadian tersebut.

Kamu berkata, "Itu tidak mungkin."
Tuhan berkata, "Tidak ada hal yang tidak mungkin." (Lukas 18:27)

Kamu berkata, "aku terlalu capai."
Tuhan berkata, "Aku akan memberikan kelegaan padamu." (Matius 11:28)

Kamu berkata, "Tidak ada seorangpun yang mencintai aku."
Tuhan berkata, "Aku mencintaimu." (Yohanes 3:16-Yohanes 13:34)

Kamu berkata, "Aku tidak bisa meneruskan."
Tuhan berkata, "Kasih karuniaKu cukup." (2 Korintus 12:9 - Mazmur 91:15)

Kamu berkata, "Aku tidak mengerti."
Tuhan berkata, "Aku akan menuntun langkah-langkahmu." (Amsal 3:5-6)

Kamu berkata, "Aku tidak bisa melakukannya."
Tuhan berkata, "Kamu bisa melakukan semuanya." (Filipi 4:13)

Kamu berkata, "Ini tidak berharga."
Tuhan berkata, "Itu akan berharga." (Roma 8:28)

Kamu berkata, "Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri."
Tuhan berkata, "Aku memaafkanmu." (1 Yohanes 1:9-Roma 8:1)

Kamu berkata, "Aku tidak bisa mengatasi."
Tuhan berkata, "Aku akan menyediakan kebutuhanmu." (Filipi 4:19)

Kamu berkata, "Aku takut."
Tuhan berkata, "Aku tidak memberikan padamu roh ketakutan." (II Timotius 1:7)

Kamu berkata, "Aku selalu kuatir dan frustasi."
Tuhan berkata, "Serahkan segala kekuatiranmu kepadaku." (I Petrus 5:7)

Kamu berkata, "Aku tidak mempunyai iman yang kuat."
Tuhan berkata, "Aku memberi setiap orang iman menurut ukurannya." (Roma 12:3)

Kamu berkata, "Aku tidak pandai."
Tuhan berkata, "Aku memberikan padamu hikmat." (I Korintus 1:30)

Kamu berkata, "Aku merasa aku sendirian."
Tuhan berkata, "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu atau membiarkanmu." (Ibrani 13:5)

Wartakanlah ini pada siapa yang membutuhkan, Saya percaya ada saat-saat di mana kita merasa "gubuk" kita terbakar.

Sumber: http://giajemursarisurabaya.blogspot.com/2010/06/allah-turut-bekerja-dalam-segala.html
READ MORE - Cerita Inspiratif: Allah Turut Bekerja Dalam Segala Sesuatu

Cerita Inspiratf: Mengucap Syukurlah

 
 
Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak kaya...
Lalu Dia menunjukkan seorang pria dengan banyak harta, tetapi hidup kesepian, dan tidak memiliki siapapun untuk berbagi.




Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak cantik...
Lalu Dia menunjukkan seorang wanita dengan kecantikan yang melebihi lainnya, tetapi memiliki karakter yang buruk.

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa Ia membiarkan aku menjadi tua...
Lalu Dia menujukkan seorang anak laki-laki berusia 16 tahun sedang terbujur kaku, meninggal karena kecelakaan mobil.

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak memiliki rumah besar...
Lalu Dia menunjukkan sebuah keluarga yang beranggotakan 6 orang, baru saja diusir dari rumah yang kecil sesak...dan terpaksa tinggal dijalanan.

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku harus bekerja...
Lalu Dia menunjukkan seorang pria, yang tidak bisa menemukan satu pekerjaan pun, karena tidak memiliki kesempatan untuk belajar membaca.

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak menjadi orang terkenal...
Lalu Dia menunjukkan seseorang yang memiliki banyak sahabat, tetapi semuanya pergi ketika orang itu tidak memiliki harta lagi.

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak pintar...
Lalu Dia menunjukkan seorang yang terlahir jenius, tetapi dipenjara karena menyalahgunakan kepintarannya untuk kejahatan.

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa Ia begitu sabar dengan orang yang tidak bisa bersyukur seperti aku...
Dia lalu menunjukkan AlkitabNya...Dia menunjukkan AnakNya, yang telah mengambil alih tempatku di Kalvari.

Aku tahu sekarang betapa besar Ia mengasihiku...
Dan itu cukup bagiku.

I TESALONIKA 5:18
'Mengucap syukurlah dalam segala hal,
sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.'
 
Sumber: http://giajemursarisurabaya.blogspot.com/2010/07/mengucap-syukurlah.html
READ MORE - Cerita Inspiratf: Mengucap Syukurlah

Cerita Inspiratif: Dia Membuat Segala Sesuatu Indah Pada WaktuNya

Ada seorang anak laki-laki yang berambisi bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi jenderal angkatan darat. Anak itu pandai dan memiliki ciri-ciri yang lebih daripada cukup untuk dapat membawanya kemanapun ia mau. Untuk itu ia bersyukur kepada Allah, oleh karena ia adalah seorang anak yang takut akan Allah dan ia selalu berdoa agar supaya suatu hari nanti impiannya itu akan menjadi kenyataan. Sayang sekali, ketika saatnya tiba baginya untuk bergabung dengan angkatan darat, ia ditolak oleh karena memiliki telapak kaki rata.

Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan hasratnya untuk menjadi jenderal dan untuk hal itu ia mempersalahkan Allah yang tidak menjawab doanya. Ia merasa seperti berada seorang diri, dengan perasaan yang kalah, dan diatas segalanya, rasa amarah yang belum pernah dialaminya sebelumnya. Amarah yang mulai ditujukannya terhadap Allah. Ia tahu bahwa Allah ada, namun tidak mempercayaiNya lagi sebagai seorang sahabat, tetapi sebagai seorang tiran (penguasa yang lalim). Ia tidak pernah lagi berdoa atau melangkahkan kakinya ke dalam gereja. Ketika orang-orang seperti biasanya berbicara tentang Allah yang Maha Pengasih, maka ia akan mengejek dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan rumit yang akan membuat orang-orang percaya itu kebingungan.

Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan menjadi dokter. Dan begitulah, ia menjadi dokter dan beberapa tahun kemudian menjadi seorang ahli bedah yang handal. Ia menjadi pelopor di dalam pembedahan yang berisiko tinggi dimana pasien tidak memiliki kemungkinan hidup lagi apabila tidak ditangani oleh ahli bedah muda ini. Sekarang, semua pasiennya memiliki kesempatan, suatu hidup yang baru. Selama bertahun-tahun, ia telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa, baik anak-anak maupun orang dewasa. Para orang tua sekarang dapat tinggal dengan berbahagia bersama dengan putra atau putri mereka yang dilahirkan kembali, dan para ibu yang sakit parah sekarang masih dapat mengasihi keluarganya.

Para ayah yang hancur hati oleh karena tak seorangpun yang dapat memelihara keluarganya setelah kematiannya, telah diberikan kesempatan baru. Setelah ia menjadi lebih tua maka ia melatih para ahli bedah lain yang bercita-cita tinggi dengan tekhnik bedah barunya, dan lebih banyak lagi jiwa yang diselamatkan. Pada suatu hari ia menutup matanya dan pergi menjumpai Tuhan. Di situ, masih penuh dengan kebencian, pria itu bertanya kepada Allah mengapa doa-doanya tidak pernah dijawab, dan Tuhan berkata, "Pandanglah ke langit, anakKu, dan lihatlah impianmu menjadi kenyataan." Di sana, ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak laki-laki yang berdoa untuk bisa menjadi seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan Darat dan menjadi prajurit. Di sana ia sombong dan ambisius, dengan pandangan mata yang seakan-akan berkata bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah resimen. Ia kemudian dipanggil untuk mengikuti peperangannya yang pertama, akan tetapi ketika ia berada di kamp di garis depan, sebuah bom jatuh dan membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam peti kayu untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya. Semua ambisinya kini hancur berkeping-keping saat orang tuanya menangis dan terus menangis.

Lalu Tuhan berkata, "Sekarang lihatlah bagaimana rencanaKu telah terpenuhi sekalipun engkau tidak setuju." Sekali lagi ia memandang ke langit. Di sana ia memperhatikan kehidupannya, hari demi hari dan berapa banyak jiwa yang telah diselamatkannya. Ia melihat senyum di wajah pasiennya dan di wajah anggota keluarganya dan kehidupan baru yang telah diberikannya kepada mereka dengan menjadi seorang ahli bedah. Kemudian di antara para pasiennya, ia melihat seorang anak laki-laki yang juga memiliki impian untuk menjadi seorang prajurit kelak, namun sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat bagaimana ia telah menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu melalui pembedahan yang dilakukannya. Hari ini anak laki-laki itu telah dewasa dan menjadi seorang jenderal. Ia hanya dapat menjadi jenderal setelah ahli bedah itu menyelamatkan nyawanya.

Sampai di situ, Ia tahu bahwa Tuhan ternyata selalu berada bersama dengannya. Ia mengerti bagaimana Allah telah memakainya sebagai alatNya untuk menyelamatkan beribu-ribu jiwa, dan memberikan masa depan kepada anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit itu....


Untuk dapat melihat kehendak Allah digenapkan di dalam hidupmu, kamu harus mengikuti Allah dan bukan mengharapkan Allah yang mengikutimu...Apa yg kamu alami hari ini..mungkin kamu tidak mengerti..Satu hal tanamkan di dalam hati...Yang Tuhan beri pastilah indah...Tuhan takkan memberi ular beracun pada yang minta roti...Tantangan, gangguan, hambatan, ancaman, cobaan hidup yang kamu alami takkan melebihi kekuatanmu...
 
Sumber:http://giajemursarisurabaya.blogspot.com/2010/07/dia-membuat-segala-sesuatu-indah-pada.html
READ MORE - Cerita Inspiratif: Dia Membuat Segala Sesuatu Indah Pada WaktuNya

Renungan Harian: Budaya Beribadah

Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan. 
Matius 15:2


Makan itu ada budayanya sendiri. Tiap daerah memiliki budaya yang berbeda. Pergilah ke daratan Cina, Anda harus bersiap-siap menggunakan sumpit sebagai ganti sendok dan jangan kaget atau merasa aneh kalau mereka yang duduk semeja dengan Anda bersendawa dengan bebasnya. Budaya Latin juga berbeda, kalau Anda menghabiskan semua makanan di piring Anda tanpa sisa, itu sama saja memberitahukan kepada tuan rumah bahwa Anda masih lapar. Di Italia, para bangsawan selalu meletakkan pisau dan garpu bersilang setelah selesai makan. Budaya Yahudi berbeda lagi. Ada aturan mutlak yang harus mereka patuhi soal makan, yaitu membasuh tangan lebih dulu sebelum makan.

Suatu ketika murid-murid Yesus mengindahkan tata cara makan ala Yahudi ini. Akibatnya, Yesus ditegur habis-habisan oleh orang-orang Farisi dan ahli taurat hanya karena para murid tidak membasuh tangan lebih dulu sebelum makan. Jawaban Yesus sungguh bijak menanggapi pertanyaan Farisi, bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.

Saya mau beritahu, tapi jangan kaget. Kita seringkali bertindak seperti para Farisi dan ahli taurat itu. Kekristenan tak lebih dari sekedar tata cara dan aturan, bukan kehidupan. Kening kita mengkerut dan tidak suka kalau tata cara beribadah yang dilakukan tidak seperti aturan baku dalam gereja kita. Kita lebih memusingkan soal bertepuk tangan atau tidak. Kita lebih memusingkan antara memakai musik lengkap ataukah hanya menggunakan organ tua. Bagi yang biasa beribadah dengan tenang akan marah kalau suasana ibadah meriah dan hiruk pikuk. Bagi yang biasa beribadah dengan meriah akan mengecam kalau ibadah itu tidak ada urapan, seandainya dilakukan dengan cara yang tenang.

Kekristenan lebih penting hanya dari sekedar tata cara atau budaya saja. Kekristenan bukan hanya sekedar ritual belaka, tapi sungguh merupakan kehidupan nyata. Jadi, bagaimanapun beraneka ragam budaya saat beribadah itu tak terlalu penting, tak perlu dipusingkan, apalagi dipeributkan. Tuhan kita adalah Tuhan diatas segala budaya. Jadi, apakah kita akan memegahkan diri kalau merasa bahwa tata cara ibadah kitalah yang paling berkenan di hadapan Tuhan?

Lebih fokus kepada gaya hidup kita sebagai orang Kristen daripada ritual yang kita lakukan.
 
Sumber: http://giajemursarisurabaya.blogspot.com/2010/11/budaya-beribadah.html
READ MORE - Renungan Harian: Budaya Beribadah

Senin, 27 Oktober 2014

Ceita Inspiratif: Bedil

Pernah ada seseorang yang tak punya makanan apapun untuk keluarganya. Ia masih punya bedil tua dan tiga butir peluru. Jadi, ia putuskan untuk keluar dan menembak sesuatu untuk makan malam.

Saat menelusuri jalan, ia melihat seekor kelinci dan ia tembak kelinci itu tapi luput. Lalu ia melihat seekor bajing, dia tembak tapi juga luput lagi.

Ketika ia jalan lebih jauh lagi, dilihatnya seekor kalkun liar di atas pohon dan ia hanya punya sisa sebutir pelor, tapi terdengar olehnya suatu suara yang berkata begini “Berdoalah dulu, bidik ke atas dan tinggallah tetap terfokus.”

Namun, pada saat bersamaan, ia melihat seekor rusa yang adalah lebih menguntungkan. Senapannya ia turunkan dan dibidiknya rusa itu. Tapi lantas ia melihat ada ular berbisa di antara kakinya, siap-siap untuk mematuknya, jadi dia turunkan lebih ke bawah lagi, mengarah untuk menembak ular itu.

Tetap, suara itu masih berkata kepadanya, “Aku bilang ‘berdoalah dulu,bidik ke atas dan tinggallah tetap terfokus.’”

Jadi orang itu memutuskan untuk menuruti suara itu. Ia berdoa, lalu mengarahkan senapan itu tinggi ke atas pohon, membidik dan menembak kalkun liar itu. Peluru itu mental dari kalkun itu dan mematikan rusa. Pegangan senapan tua itu lepas, jatuh menimpa kepala si ular itu dan membunuhnya sekali. Dan, ketika senapan itu meletus, ia sendiri terpental ke dalam kolam. Saat ia berdiri untuk melihat sekelilingnya, ia dapatkan banyak ikan di dalam semua kantungnya.

Seekor rusa, seekor kalkun dan banyak ikan untuk bekal makanannya. Ular mati konyol sebab orang itu mendengarkan suara Allah.

Berdoalah sebelum kau lakukan apapun, bidik dan arahkan ke atas pada tujuanmu, dan tinggallah terpusat pada Allah.
 
http://giajemursarisurabaya.blogspot.com/2010/11/bedil.html
READ MORE - Ceita Inspiratif: Bedil

Renungan Harian: Pencuri Keakraban

I Yohanes 1:8-9
Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

Seorang laki-laki tua bersahabat dengan seorang anak laki-laki remaja yang bekerja bersamanya di sebuah toko kerajinan kayu. Mereka sering bekerja bersama untuk memasang bagian-bagian rumit dari kerajinan kayu untuk di jual di toko-toko cinderamata lokal.

Suatu hari, anak laki-laki itu mencuri beberapa pahatan kayu di tempat itu. Laki-laki tua yang menyaksikan kejadian itu dari dapur tidak mengatakan apa-apa tentang kejadian itu. Namun beberapa hari kemudian anak itu tidak masuk kerja. Bahkan ketika mereka bertemu, anak itu mulai menjauh dan merasa malu. Persahabatan mereka yang dulunya begitu akrab, kini terputus. Keduanya seperti dua orang asing yang baru bertemu.

Hal yang sama terjadi ketika kita berbuat dosa. Akibat paling berbahaya bukanlah kerugian akibat tindakan kita yang salah, namun rusaknya hubungan kita dengan Allah. Hubungan kita yang akrab dengan Bapa sorgawi terputus, bukan karena Tuhan tidak ingin bersekutu dengan kita, namun karena kita yang bersembunyi dan menjauhkan diri dari-Nya. Namun karena kasihnya yang begitu besar, Yesus hadir dalam hidup kita untuk menghapus semua rasa malu, rasa tertuduh dan juga menanggung semua dosa kita. Hal ini Yesus lakukan, agar hubungan kita dengan Allah Bapa dipulihkan kembali.

Jika hari ini Anda merasa ada yang menjadi penghalang hubungan Anda dengan Bapa, apakah itu rasa bersalah, kemarahan, kebencian atau dosa lainnya, datanglah kepada Yesus. Akuilah dengan kerendahan hati semua yang telah Anda lakukan dan alami. Mintalah Yesus untuk memulihkan Anda, dan mencairkan kebekuan yang ada dalam hubungan Anda dengan Bapa.

Allah sedang menantikan Anda, Dia ingin berbincang akrab dengan Anda kembali. Jangan biarkan dosa mencuri keakraban Anda dengan Bapa Sorgawi.
source: http://giajemursarisurabaya.blogspot.com/2010/12/pencuri-keakraban.html
READ MORE - Renungan Harian: Pencuri Keakraban

Kesaksiann: Aida Skripnikova - KUK YANG KUPASANG ITU ENAK

Berikut ini adalah kesaksian dari Aida Skripnikova (1961):

Wanita muda itu berdiri di sudut ruangan sambil membagikan kartu- kartu kecil bertuliskan puisi-puisi di dalamnya. Beberapa orang menerima kartu-kartu tersebut karena ingin tahu tentang tulisan yang ada di dalamnya. Beberapa orang tertarik karena ia begitu cantik, tetapi kebanyakan mengambil kartu-kartunya karena sukacita dan kasih yang tampak di dalam senyumnya saat ia menatap ke dalam mata setiap orang dan memberi mereka sebuah kartu. Pada tiap kartu terdapat puisi yang telah ia tulis sendiri. Tiap puisi menyatakan kasih dan sukacita yang ia rasakan setelah mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Namun karena tindakannya itulah ia ditahan dan dibawa ke pengadilan. Di hadapan pengadilan dengan berani ia menyaksikan, "Masyarakat yang sedang kalian bangun, wahai Komunis, tidak pernah dapat menjadi adil karena kalian sendiri tidak adil." Aida dijatuhi hukuman satu tahun penjara.

Ketika dilepaskan, ia langsung kembali ke pekerjaannya semula yaitu melayani di sebuah gereja bawah tanah. Karena kecantikannya, kemauan kerasnya, dan keberaniannya, ia dijuluki "a pirate from the house of prayer" oleh koran Komunis Izvestia.

Salah satu hal yang berani ia tulis adalah, "Kalian para ateis, dapat mengadakan pertemuan bersama setiap saat dan melakukan apa pun yang kalian inginkan -- berbicara, membaca, dan bernyanyi. Jika demikian, mengapa kami tidak dapat saling mengunjungi? Hukum apa yang melarang hal ini? Mengapa kami tidak boleh berdoa atau membaca Alkitab kapan pun kami mau? Kami diijinkan untuk berbicara mengenai Allah hanya di gereja. Kalian pasti tidak akan setuju jika kalian diijinkan untuk berbicara mengenai teater hanya di teater atau mengenai buku-buku hanya di perpustakaan. Dengan cara yang sama, kami tidak dapat diam saat mengetahui ada hal-hal yang bertentangan dengan makna hidup kami -- yaitu Kristus." Untuk ucapannya itu sekali lagi Aida dijatuhi hukuman empat tahun penjara, tetapi hal ini tidak juga membuat imannya goyah.

Pada usia 27, Aida masuk penjara lagi untuk keempat kalinya, tetapi agaknya penjara hanya memberi pengaruh sedikit. Penjara malah semakin meningkatkan cintanya terhadap Firman Allah dan betapa penting firman itu bagi imannya. "Di penjara, hal yang tersulit adalah hidup tanpa Alkitab."

Pernah satu kali, sebuah Injil Markus diselundupkan ke penjara dan diberikan kepadanya. "Ketika para penjaga mengetahui bahwa aku memiliki sebuah Injil, mereka menjadi kuatir dan menggeledah seluruh penampungan. Pada penggeledahan kedua, para penjaga menemukan kitab itu. Aku dihukum karena hal ini dan dikurung sendiri dalam sel tahanan yang dingin selama sepuluh hari dan sepuluh malam dan terasing. Tetapi dua minggu kemudian aku diberi Alkitab Perjanjian Baru yang dapat aku simpan sampai hari pembebasanku."

"Penjara sering kali digeledah, tetapi setiap kali Tuhan membantuku. Aku mengetahui terlebih dahulu mengenai penggeledahan tersebut sehigga aku dapat menyimpan kitab yang berharga itu. Banyak tahanan lain yang membantuku menyembunyikannya, walaupun mereka bukan orang Kristen."

Para penjaga melakukan banyak hal untuk melemahkan iman Aida dan berusaha membuatnya menyangkali imannya, tetapi beberapa usaha itu menjadi senjata makan tuan. "Suatu kali seorang penjaga menunjukkan kepadaku satu paket makanan. Ia mengatakan kepadaku bahwa isinya coklat dan berbagai makanan lezat lainnya. Meskipun tidak diberikan kepadaku, paket makanan itu menguatkan aku saat mengetahui bahwa sahabat-sahabatku peduli terhadap diriku. Fakta ini jauh lebih berarti daripada makanan itu sendiri. Pada kesempatan lain, aku diberitahu bahwa ada kiriman sepuluh paket untukku dari Norwegia, tetapi paket-paket ini pun tidak diberikan kepadaku .... Merupakan sukacita yang besar bagi kami untuk mengalami persekutuan roh bersama orang-orang Kristen yang ada di berbagai wilayah. Hal ini memberikan harapan kepada kami yang ada di dalam penjara. Aku ingin mengirimkan sebuah ungkapan kasih dari kami semua yang ada di penjara kepada mereka yang telah peduli terhadap kami dan telah berdoa bagi kami."

Ketika ia dibebaskan dari penjara, Aida telah berubah secara drastis. Kecantikan bagai bintang film yang dimilikinya pada masa mudanya bukan saja lenyap, tetapi pada usianya yang baru 30 tahun, ia tampak seperti berusia lebih dari 50 tahun. Ia kurus kering dan lusuh oleh tahun-tahun yang dihabiskan di dalam penjara. Jika Anda melihatnya, Anda tak akan pernah mengenalinya sebagai wanita yang sama, kecuali untuk satu hal: senyumannya. Senyumnya masih mencerminkan kasih dan sukacita karena pengenalannya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Saat menjalani masa penjaranya yang terakhir dan paling sulit, Aida menulis, "Ada makna satu ayat yang menjadi lebih jelas dari sebelumnya, 'Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.'" (Matius 11:30) dan Yesus sendiri mengatakannya. Selama tiga tahun di dalam penjara itu aku menjadi semakin memahami makna dari ayat tersebut."

Informasi Tambahan

Pada tahun 1991, sekitar 20 tahun setelah Aida menjalani masa penjaranya yang keempat, Uni Soviet pecah karena runtuhnya Komunis. Penganiayaan kaum Kristen yang dilakukan oleh pemerintah berhenti pada saat itu, setidaknya untuk satu masa. Iman dan perjuangan dari Aida dan banyak umat percaya lainnya melalui pelayanan di bawah tanah tidaklah sia-sia.

Pada tahun 1992, utusan dari The Voice of the Martyrs menjumpai Aida di apartemen yang terawat dengan baik di sebuah gedung tua di St. Petersburg. Aida tidak menyimpan kegetiran kepada orang-orang yang telah menyiksanya di penjara, hanya pengampunan yang terpancar dari hatinya. Ia terkejut saat mengetahui kesaksiannya telah menarik banyak perhatian dari umat Kristen di seluruh dunia, dan ia amat bersyukur karena hal itu. Aida mengatakan, "Aku hanya mungkin bertahan karena dukungan banyak doa dari seluruh dunia. Jika tidak, aku tidak akan bertahan."

"Ingatlah akan orang-orang hukuman, karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman. Dan ingatlah akan orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini." 
 (Ibrani 13:3)

Sumber:
Judul Buku : Jesus Freaks
Judul Artikel: A Pirate from The House of Prayer
Penulis : dc Talk and The Voice of the Martyrs
Penerbit : Albury Publishing, Tulsa, Oklahoma, 1999
Halaman : 84 - 87

READ MORE - Kesaksiann: Aida Skripnikova - KUK YANG KUPASANG ITU ENAK

Senin, 29 September 2014

Renungan Harian: Jangan dirobohkan

Bacaan: Amsal 14:1

Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.- Amsal 14:1



Tina nyesel udah putus ama Doni. Padahal mereka udah pacaran sejak kuliah tingkat tiga. Doni udah menunjukkan keseriusannya dalam hubungan mereka. Tapi entah kenapa hari itu Tina mengambil keputusan untuk putus. Enggak ada air mata kesedihan waktu dia mengucapkannya di depan Doni. Yang ada hanyalah kemarahan, kejengkelan, kekecewaan terhadap sikap Doni yang akhir-akhir ini dirasakan Tina lebih sering menghabiskan waktu ama temen-temennya dibandingkan ama dirinya. Tina ngerasa udah dikecewakan, enggak dihargai, enggak disayangi lagi, dst. 

Sebulan udah berlalu sejak kejadian itu, dan sekarang Tina nyesel. Doi nyesel kenapa dulu mengucapkan kata putus. Nyesel karena sekarang Doni udah pindah keluar kota dan sulit dihubungi kembali. Nyesel atas tindakannya yang dibakar emosi dan tidak berpikir panjang dan jernih. Tapi sekarang udah terlambat.

Girls, apakah kamu pernah mengalami hal yang hampir sama seperti Tina? Saat pacaran dan terjadi konflik, kita langsung buru-buru mengucapkan kata putus. Dalam hati kecil kita berharap doi bakalan ngemis-ngemis meminta permohonan maaf kita, trus baikan lagi (seperti di film-film romantis geto deh!) Kita enggak menyadari bahwa sikap seperti itu tuh childish ‘n egois banget. Kita enggak berusaha mencari jalan keluar atas masalah yang sedang muncul, tapi lebih memilih untuk lari dari masalah itu. Kita beranggapan bahwa yang salah hanyalah dari pihaknya dan kita enggak perlu introspeksi diri karena kita udah cukup baik kepadanya. Kalo sebelum membangun rumah tangga aja kita udah gampang nyerah, gimana nanti kalo udah menikah? Penulis Amsal yang bijaksana menuliskan,”Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.” Jangan sampai kita menjadi gadis bodoh yang meruntuhkan rumah kita sendiri.

Sumber: http://www.renungan-spirit.com/mudaremaja/jangan_dirobohkan.html
READ MORE - Renungan Harian: Jangan dirobohkan

Renungan Harian: John Wesley

Bacaan: Matius 25:31-46

Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan;- Matius 25:42



Pernahkah Anda mendengar nama John Wesley? Ia seorang yang patut kita teladani dalam caranya menggunakan uang. Wesley dibesarkan dalam keluarga pendeta miskin. Saat dewasa ia akhirnya menjadi pendeta juga seperti ayahnya, namun dengan nasib yang berbeda. Sebagai profesor teologia di Oxford, ia menghasilkan uang yang cukup untuk membalas kepahitan masa kecilnya yang serba kekurangan. Dengan penghasilan 30 pounds setahun, saat itu ia bisa hidup berfoya-foya dengan uangnya.

Namun ia berubah ketika suatu hari ia melihat pembantunya yang miskin berpakaian tipis di musim dingin. Ia bermaksud menolongnya dengan pemberi uang, tapi ternyata tak ada uang yang tersisa di kantongnya. Padahal dinding rumahnya berhiaskan lukisan mahal dan barang-barang mewah. Sejak saat itu ia berjanji dalam hatinya untuk membatasi penggunaan uangnya dengan bijak agar bisa menolong orang banyak.

Dari gajinya yang 30 pounds per tahun ia menyisihkan 2 pounds untuk dibagikan. Tahun berikutnya ketika gajinya naik 2 kali lipat, ia tetap menggunakan 28 ponds untuk dirinya sendiri dan membagikan sisanya 32 pounds kepada orang miskin. Tahun demi tahun ia tetap melakukan hal yang sama sekalipun gajinya telah berlipat ganda. Barulah setelah gajinya mencapai 1400 pounds, ia menaikkan taraf hidupnya menjadi 30 pounds per tahun. Sungguh luar biasa! Tak heran Allah memberikan kepadanya kepercayaan yang besar dalam hal keuangan.

Mungkin kita belum pernah mencoba berlaku se"ekstrim" John Wesley. Namun pasti Tuhan ingin anak-anak-Nya bisa belajar menggunakan uang dengan benar. Tak perlu rencana yang terlalu panjang untuk menunggu kita kaya raya dulu. Dengan apa yang ada pada kita hari ini, kita bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain. Cara seperti ini akan menghindarkan kita dari bahaya ketamakan. Belajar dari John Wesley, bahwa yang namanya kepuasaan di dunia itu tidak ada habisnya, itu sebabnya pastikan kita yang mengatur keuangan kita, bukan uang yang mengatur kehidupan kita. Dengan cara ini kiranya akan membuat kita semakin dipercaya oleh Tuhan dan kiranya Tuhan akan memakai tangan kita untuk memberkati semakin banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita.

Gunakanlah keuangan kita dengan bijak dan hindarkan diri dari kerserakahan.

Sumber: http://www.renungan-spirit.com/ilustrasi-rohani/john_wesley.html
READ MORE - Renungan Harian: John Wesley

Renungan Harian: Menjadi Ibu Rumah Tangga itu Ringan?

Bacaan: Amsal 31:10-31

Isteri yang cakap, siapakah akan mendapatkannya?- Amsal 31:10



Kalau kita mau sedikit lebih jujur, kita harus mengakui bahwa sebagai suami kita seringkali merasa lebih hebat daripada isteri kita. Merasa bahwa kita yang mencari uang, sehingga kita sewenang-wenang dengan isteri yang hanya melewatkan waktu di rumah untuk mengurus anak dan rumah tangga kita. Apakah benar bahwa tugas suami yang mencari nafkah lebih berat daripada tugas isteri yang hanya mengurus rumah tangga?

Sungguh menarik menyimak artikel yang ditulis Detroit Free berdasarkan penelitian Michael Minton tentang nilai isteri jika diukur dengan uang. Isteri merangkap beberapa pekerjaan sekaligus seperti sopir saat menghantar anak ke sekolah, menjadi tukang kebun saat menyapu halaman dan mencabuti rumput liar, menjadi perawat saat memandikan anak, menjadi dokter saat anak sakit, menjadi guru saat mengajari anak di rumah, menjadi pendeta saat bercerita, menjadi tukang cuci, tukang masak, menjadi bendahara keluarga, bahkan menjadi seperti resepsionis yang menerima telpon atau menerima tamu. Dengan menggunakan daftar tugas itu, Minton menghitung nilai kerja seorang ibu rumah tangga sesuai dengan upah yang berlaku di pasaran, dan nilainya adalah Rp. 884.773,89 per minggu atau Rp. 3.539.095,56 per bulan! *

Mengurus rumah tangga tak kalah capeknya dibandingkan kita yang bekerja di kantor. Oleh karena itu, hendaknya kita sebagai suami bisa mengasihi isteri kita dan tidak merasa seolah-olah kita merasa lebih penting dan lebih berjasa daripada isteri kita. Jangan pernah berpikir bahwa tugas mencari uang selalu lebih berat daripada mengurus rumah tangga. Kalau tidak percaya, ambillah waktu untuk cuti dari pekerjaan Anda dan lakukanlah semua tugas yang biasanya dikerjakan oleh isteri Anda di rumah. Saya jamin, tak perlu waktu lama untuk mendengar keluhan akibat rasa capek yang Anda rasakan.

Inti renungan pada hari ini adalah bagaimana kita bisa saling menghargai satu sama lain dalam kehidupan berumah tangga. Jika kita bisa menghargai pasangan kita dan tidak merasa lebih hebat daripadanya, maka akan tercipta sebuah rumah tangga yang lebih harmonis. Percayalah, dengan sikap yang seperti ini, maka pertengkaran dengan pasangan juga akan semakin jarang terjadi.

Belajarlah menghargai pasangan kita satu sama lain.

Sumber: http://www.renungan-spirit.com/artikel-rohani/menjadi_ibu_rumah_tangga_itu_ringan?.html
READ MORE - Renungan Harian: Menjadi Ibu Rumah Tangga itu Ringan?

Renungan Harian: Tak Tersisa Makna

Bacaan: II Timotius 3:5 Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.- II Tim 3:5

 Ini salah satu cerita favorite saya. Seorang pria membeli sebuah beo yang pernah menjadi juara dengan harga yang sangat mahal. Agar beo ini berbicara lebih banyak lagi, maka pria ini sengaja membelikan sebuah sangkar yang benar-benar elegan dan besar. Herannya, di sangkar yang sedemikian bagus, beo itu tidak mengeluarkan suara sedikitpun juga. Pria ini mulai kuatir lalu mencoba konsultasi dengan penjual burung beo itu. Sang penjual segera menyarankan agar pria ini membeli cermin, sebab dengan adanya cermin maka beo ini akan merasa nyaman. Tetapi usaha ini tak membuahkan hasil. Kembali si penjual beo itu menyarankan agar pria ini membeli tangga dan ayunan supaya beo itu senang. Namun tetap saja usaha ini sia-sia, dan beo itu benar-benar melakukan aksi bungkam mulut. Beberapa hari kemudian beo itu tergolek lemah dan tiba-tiba mengeluarkan suara yang selama ini ditunggu-tunggu. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, beo itu berkata, “Apakah benar tidak ada makanan selain cermin, tangga dan ayunan mahal ini?” 
 
Tahukah Anda maksud cerita itu? Beo itu diperlengkapi dengan fasilitas yang bagus dan mahal, tetapi sayang pria ini lupa memberi makan kepadanya. Tak heran kalau beo ini tidak mau bersuara dan akhirnya mati. Hal yang penting dan mendasar justru dilupakan, sebaliknya pria ini berkonsentrasi kepada hal-hal yang sebenarnya tidak perlu.
 
Mengabaikan hal yang penting karena disibukkan hal-hal yang kurang perlu. Pemandangan ini akan semakin jelas menjelang hari Natal atau hari Paskah, atau acara perayaan penting di gereja. Mempersiapkan diri begitu rupa menyongsong “hari suci” sampai tak menyadari bahwa ia sudah kehilangan makna yang sebenarnya. Sibuk rapat, mencari dana begitu rupa, latihan paduan suara, menyiapkan operet dan drama atau melakukan apapun yang dianggap penting pada momen ini. Namun pada gilirannya, ia melupakan makna yang sebenarnya dari momentum yang sedang ia rayakan. Setelah semuanya berlalu, maka tak tersisa sedikitpun makna yang bisa direnungkan. Kecuali hanya menyisakan keletihan, kejengkelan dan kecapekan yang luar biasa. Kiranya renungan ini selalu mengingatkan agar di saat kita menyibukkan diri pada sebuah momentum yang sedang kita rayakan, kita tidak kehilangan makna yang sebenarnya dari momentum itu.

Sebuah momen tidak akan pernah berarti jika sudah kehilangan maknanya.

Sumber: http://www.renungan-spirit.com/renungan-kristen.html
READ MORE - Renungan Harian: Tak Tersisa Makna

Kesaksian: Kisah Nyata Romo Magnis yang Mencintai Indonesia

Pemilihan Umum 2014 merupakan pesta demokrasi yang sangat ditunggu-tunggu oleh sebagian besar seluruh warga negara Indonesia, termasuk Profesor Doktor Romo Frans Magnis Suseno. Walau lahir dan dibesarkan di lingkungan bangsawan Jerman, tetapi Romo Magnis merasa memiliki ikatan yang kuat dengan negeri yang sudah didiaminya puluhan tahun ini. 
Ia tidak menampik awalnya ia merasa biasa-biasa saja dengan Indonesia. Namun seiring waktu, sejalan dengan dilibatkan dirinya dalam masalah-masalah yang terjadi baik tingkat daerah maupun nasional maka ia pun menganggap dirinya sebagai bagian dari NKRI. 
Bagi Romo Magnis, umat Kristiani di Indonesia pada dasarnya memiliki peranan besar dalam rangka menentukan masa depan Indonesia. Oleh sebab itu, ia memandang kehadiran para pengikut Kristus di suatu negara seharusnya memberi warna yang positif kepada wilayah dimana mereka tinggal atau berada. 
Romo Magnis memandang bahwa tidak cukup orang Kristen menjadi Kristen yang jujur dan berintegritas. Lebih dari pada itu, mereka yang mengaku beriman kepada Tuhan Yesus Kristus juga sepatutnya memikirkan nasib bangsa. 
Indonesia memang banyak sekali masalah, tetapi baginya, tidak ada bangsa, negeri, orang, yang tidak ada persoalan.  
Bangkit Dari Masalah
Seperti manusia lain, Romo Magnis juga memiliki masalah di dalam kehidupannya. Ketika situasi itu dialami, ia mengaku memiliki cara tersendiri untuk bangkit. Hal pertama yang biasa ia lakukan adalah ia mengingat kembali panggilan-Nya di dalam Yesus Kristus.   
"Jadi saya merasa ada latar belakang saya. Saya tidak sendirian. Itu (masalah adalah sesuatu yang) normal, Yesus sendiri banyak kesulitan. Jadi saya di situ mendapat motivitasi religius, kalau mau diucapkan begitu."
Selain mengingat panggilan di dalam Yesus Kristus, cara kedua ia bangkit dari masalah adalah ia datang kepada komunitas yang sejak lama ia masuki. Ketika ia menjumpai orang-orang di dalam komunitas lamanya itu, ia sungguh mendapat dukungan yang sangat berarti. Baginya, dua hal yang ia laksanakan tersebut sungguh membantunya di dalam hari-hari sulit yang ia hadapi. 

Sumber: http://www.jawaban.com/read/article/id/2014/07/04/78/140704150318/Kisah-Nyata-Romo-Magnis-yang-Mencintai-Indonesia
READ MORE - Kesaksian: Kisah Nyata Romo Magnis yang Mencintai Indonesia

Kesaksian: Suwarno, Ekspresikan Kasih Tuhan Melalui Anak Jalanan

Mengorbankan nyawa dan karir demi anak-anak jalanan, hal ini bisa dilihat langsung dari sosok seorang Suwarno Asmoro. Bermula saat pulang kuliah dan bertemu tiga pengamen anak di depan Jakarta Design Centre. Bingung melihat ketiganya yang membawa tas, Suwarno menanyakan apa isi dalam tas tersebut. Ketiganya lantas menunjukkan buku pelajaran Lembar Kerja Siswa (LKS) yang mereka bawa didalam tas. Tergerak, iapun langsung mengajar dan memandu ketiga pengamen tersebut mengerjakan tugas sekolahnya. Tidak disangka ternyata reaksi yang diterima sangat menggembirakan. Mereka melompat dan teriak gembira, saat ditanya kenapa bisa sesenang itu, mereka senang karena tidak akan di hukum lagi di sekolah.

Setelah menjadi seorang apoteker, Suwarno merasa gelisah. Gaji cukup besar dan dia bisa saja kaya dengan penghasilannya. Tetapi ia tidak ingin kaya materi, melainkan kaya yang bermanfaat. Kaya itu adalah ketika kita menginvestasikan diri kita sehingga orang bisa menikmatinya. Bagaimana? Suwarno memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya dan berhenti bekerja. Kepeduliannya akan kaum termarjinalkan muncul sejak pertemuan dengan anak-anak yang sibuk mengamen, sementara kesulitan untuk mengerjakan tugas sekolah dan memahami pelajaran.

Bukan uang yang dibutuhkan anak-anak pengamen ini melainkan pengetahuan. "Saya berpikir, wah ternyata ini needs mereka. Kebutuhan mereka.bukan uang, kalau uang kan nnati diminta orantuanya." Akhirnya Suwarno beralih menjadi guru privat les anak-abnak pengamen. Niat baik juga tidak selamanya tanpa hambatan. Respon yang datang padanya juga pernah menimbulkan kecurigaan, caci-maki hingga berujung pada pertikaian fisik, baginya ini adalah hal yang biasa.

"Pernah ada orang tua yang datang dan dobrak pintu". Ayahnya marah-marah dan memaksa anaknya untuk kembali megamen. Marah, Suwarno mengatakan, "Saya engga mau anak bapak itu seperti bapak, saya mau anak itu pinter." Tetap tidak terima, orang-tua pergi, setelah itu anaknya juga menyusul. Tetapi belum berhenti, ternyata orangtua tersebut kembali, kali ini dengan membawa komplotan preman. Suwarno akhirnya dipukuli dan dan dikeroyok.

Bukan menyerah, tetapi dia berusaha melakukan pendekatan, dengan meyentuh hati keluarga tersebut. Saat ibu dari anak pengamen tersebut sakit, Suwarno merawat dan memwanya kerumah sakit. Luluh, si ayah tadi mengijinkan dan mendukung apa yang dilakukan oleh Suwarno.

Hingga saat ini, Suwarno telah 15 tahun mengabdikan hidupnya mengajari anak-anak jalanan di daerah Jakarta. Bukan hanya belajar, tetapi dia juga memenuhi gizi dengan menyediakan susu. Indonesia sendiri, rendah kesadarannya untuk mengkonsumsi susu. Menurutnya susu dapat meningkatkan kemampuan otak dan emmbantu anak-anak dalam memahami pelajaran.
Kasih diwujudkan dalam tindakan yang nyata adalah karakter yang melekat dalam diri Suwarno. "Anak-anak yang akan memimpin bangsa. Jangan sampai mereka kehilangan masa anak-anak yang disebabkan orang-orang dewasa." Jangan sampai Indonesia kehilangan generasi. "Saya bisa begini itu karena Tuhan. Karena Tuhan yang sudah membela hidup saya. Suwarno hanya ingin mengekspresikan kasihya kepada Tuhan lewat anak-anak pengamen ini. "Ga usah banyak bicara, langsung bertindak, berlaku, ekspresikan yang ada dalam hati. Mengasihi sesama adalah ekspresi kita mengasihi Tuhan." Termasuk juga mengasihi bangsa. Orang yang sangat mengasihi Tuhan pasti sangat bermanfaat bagi bangsa ini. Kalau manusia bisa mengasihi Tuhan dengan baik, pasti bisa jadi berkat buat keluarga dan masyarakat

Sumber:http://www.jawaban.com/read/article/id/2014/07/16/9/140716121614/Suwarno%3A-Ekspresikan-Kasih-Tuhan-Melalui-Anak-Jalanan
READ MORE - Kesaksian: Suwarno, Ekspresikan Kasih Tuhan Melalui Anak Jalanan