AJARAN KRISTEN SEBAGAI PENUNTUN HIDUP

ajaran kristen tentang banyak hal

Yesus berkata: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Rabu, 29 Oktober 2014

Renungan Harian: Butuh Perbedaan

“Supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. “
1 Korintus 12:25

Tuhan menciptakan manusia sungguh sempurna. Anggota-anggota tubuh semua luar biasa. Di beberapa bagian tubuh manusia dibuat berpasangan, seperti sepasang telinga, sepasang mata, sepasang tangan dan sepasang kaki. Dari keempat pasangan tersebut, sepasang kaki sangat menarik untuk direnungkan. Kaki kanan dan kiri bentuknya berbeda. Untuk dapat bergerak maju salah satu kaki harus melangkah terlebih dahulu, kanan dulu baru kiri atau sebaliknya. Bisa juga kedua kaki bergerak bersama-sama (melompat seperti kanguru), namun cara ini tentunya tidak efektif dan sangat melelahkan. Di samping itu, alas kaki seperti sepatu/sandal juga pasti berbeda, kanan dan kiri. Bisa kita bayangkan jika kita memakai sepatu semuanya sama (kanan semua/kiri semua), pasti tidak akan membuat nyaman di kaki dan bisa dipastikan akan menghambat pergerakan kaki kita, Saudaraku, kita sering berpandangan bahwa perbedaan itu buruk dan bisa mengakibatkan perpecahan. Namun harus kita sadari bahwa perbedaan tidak seluruhnya buruk. Di beberapa kasus justru sangat baik. Contoh: perkembangan teknologi menjadi semakin maju justru karena ada perbedaan. Jika semua orang sepakat bahwa manusia diciptakan Tuhan sebagai mahluk yang tidak bisa terbang, tentunya hari ini kita tidak akan melihat pesawat terbang. Tetapi Wright bersaudara berani berbeda, sehingga mereka mengembangkan mesin terbang kebentuk pesawat terbang bersayap. Mari kita belajar menjadikan perbedaan sebagai sarana untuk bisa lebih maju dan berkembang bukan sebaliknya.

Sumber: https://littleantnotes.wordpress.com/

READ MORE - Renungan Harian: Butuh Perbedaan

Renungan Harian: Refleksi Surgawi


“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!” 
Mazmur 46:11




Seorang teman menunjukkan foto yang dia ambil di Taman Nasional Shinjuku Gyoen, sebuah taman yang besar di tengah kepadatan kota Tokyo. Foto itu menunjukkan langit biru yang indah dengan sebuah pohon di tengah foto.

Ketika saya puji dia atas keindahan hasil jepretannya, dia menjadi geli. Dia berkata, “Kamu melihatnya secara terbalik. Itu adalah gambar pantulan langit pada danau.

Ketika saya perhatikan dengan seksama, saya menyadari bahwa dia berkata benar. Yang sebelumnya saya pikir adalah pemandangan yang indah merupakan pantulan pada permukaan danau, yang persis seperti cermin. Saya kagum betapa bersih langit dan sekitarnya yang tercermin pada air yang tenang. Hal itu membuat saya merenungkan betapa indahnya jika hidup saya mencerminkan kedamaian dan ketenangan surgawi.

Tuhan mengajarkan saya untuk mengetahui bahwa Dia mengawasi dan memegang kontrol atas hidup kita. Dia berkata, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah.” 

Tetapi ketika ada masalah yang datang menimpa, hal itu dapat mengacaukan kehidupan roh saya dan membuat saya tak berdaya. Orang lain dapat melihat gelombang yang mengacaukan hidup saya, dan bukan pantulan ketenangan surgawi.

Saya tidak dapat menghindari badai kehidupan, tetapi badai tersebut tidak boleh merampas damai sejahtera Allah dalam hidup saya. Saya dapat berpegang teguh pada janji Tuhan bahwa pencobaan ini tidak akan melebihi dari yang dapat saya tanggung; Tuhan akan senantiasa menyediakan jalan keluar.

Tuhan juga siap, bersedia dan sanggup memberikan kebaikan dari setiap situasi dan keadaan, jika hati saya siap dan saya mengandalkan tuntunan dan pertolongan dari Tuhan.

Sumber: http://www.pelitahidup.com/2014/01/12/refleksi-surgawi/#.VFDV2Vd8G60
READ MORE - Renungan Harian: Refleksi Surgawi

Kesaksian: Pemain Sepak Bola yang Bertanding dalam Piala Dunia 2002

Berikut ini adalah empat dari kesaksian-kesaksian pemain sepak bola yang bertanding dalam pertandingan Piala Dunia 2002 yang dimuat dalam situs "Go the Goal": ==> http://www.gothegoal.com/english/
 
JOSE ROBERTO JUNIOR DA SILVA - ZE ROBERTO
Club : Bayer Leverkusen (Germany)
Negara: Brazil
Posisi: Midfield
Allah mengijinkan banyak hal terjadi dalam hidup kita, terkadang untuk menguji kita dan untuk memperkuat iman kita. Kita harus dipersiapkan untuk menghadapi masa-masa sulit. Manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari Firman yang keluar dari mulut Allah. Hidup tidak hanya dipenuhi dengan kegembiraan saja, tetapi ada juga tantangan.
Saya berasal dari keluarga miskin yang tidak pernah memiliki sesuatu. Terkadang kami harus berjuang keras untuk mendapatkan apa yang kami butuhkan, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari kami sangat kekurangan. Sekarang saya dapat melihat perubahan dalam hidup saya -- saat dimana saya tidak memiliki sesuatu, dan saat ini saya dapat memiliki segalanya. Segala sesuatu yang saya maksudkan di sini bukanlah uang ataupun kepopuleran, tetapi sukacita atas hidup yang saya miliki. Hal ini berawal saat ibu saya menerima Yesus secara pribadi dan setia dalam doa-doanya. Dia tidak pernah memaksa kami -- saya dan kakak-kakak laki saya -- untuk pergi ke gereja. Namun, suatu hari Roh Kudus menjamah hati saya dan saya menyerahkan diri kepada Yesus sama seperti yang dilakukan ibu saya. Semenjak saat itu, Yesus mengubah hidup saya. 

DANIEL ZAFIRIS 
Clubs : Petrolul Ploiesti, National University Team (Romania)
Negara: Romania
Posisi: Forward
Saya menyaksikan film "Jesus of Nazareth" dan film ini sungguh menarik perhatian saya. Akhirnya saya menyimpulkan bahwa hidup tanpa Allah sama seperti bermain sepak bola tanpa sebuah bola. Karena itu, jika tidak ada bola, maka tidak seorang pun dapat bermain sepak bola. Tahun 1991, saya memahami bahwa apapun tujuan hidup saya (sebagai pemain sepak bola), berapa pun kesuksesan yang saya raih, namun jika saya tidak memiliki Yesus sebagai Allah yang hidup, maka semua kesuksesan yang saya raih cepat atau lambat akan segera hilang. Apa gunanya bagi setiap orang di dunia, khususnya para atlet, jika dia dapat meraih dunia tetapi kemudian dia kehilangan jiwanya? Saya telah mendapatkan tujuan baru dalam hidup saya. Sekarang saya tahu mengapa saya hidup. Sebelum menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, saya adalah orang yang mengutamakan diri sendiri. Saya hanya memikirkan kebutuhan diri saya dan apa yang menjadi minat saya. Banyak kali saya tidak mengetahui kemana saya harus pergi dan kepada siapa menceritakan pergumulan saya. Namun sekarang, saya tahu bahwa saya dapat mengandalkan Kristus karena Dia memahami diri saya dan menguatkan saya untuk menghadapi situasi-situasi sulit baik dalam pertandingan, dalam kehidupan keluarga saya maupun dalam kehidupan pribadi saya. 

LUIS VIDIGAL
Club : Napoli (Italy)
Negara: Portugal
Posisi: Midfield
Hidup dengan ketenaran adalah sesuatu yang dapat menyulitkan. Tetapi Yesus mengajarkan bahwa saya tidak dapat meninggalkan dunia ini; saya harus bisa menghadapinya.
Saya yakin bahwa saya dapat mengerjakan segala sesuatu. Saya percaya dengan kemampuan saya untuk mencapai semua tujuan baik yang berhubungan dengan keluarga, sosial, maupun profesional. Namun pada kenyataanya, saya gagal untuk melakukan hal itu semua. Di Portugal ada sebuah persekutuan yang bernama Atletas de Cristo; dalam sebuah persekutuan yang saya ikuti, saya bertemu dengan orang-orang yang menolong saya untuk meraih tujuan-tujuan penting dalam hidup saya. Sejak saat itu, saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Semenjak saat itu tujuan hidup saya menjadi jelas. Saya juga belajar bagaimana caranya mengampuni, menerima diri saya sendiri, termasuk dalam membangun karir saya. 

BERT KONTERMAN
Club : Glasgow Rangers (Scotland)
Negara : Netherlands
Position: Defender
Saya berasal dari sebuah desa Kristen di Belanda. Setiap hari Minggu kami sekeluarga pergi ke gereja. Di sekolah, kami selalu berdoa sebelum memulai pelajaran dan saat menjelang sekolah usai. Kehidupan itu yang saya jalani di desa. Saya selalu berhubungan dengan kekristenan. Di kelas terakhir di Sekolah Menengah saya bertemu dengan seorang guru. Dia setiap pagi mengadakan pemahaman Alkitab dimana dia menjelaskan pasal-pasal Alkitab dan menggunakan kehidupan sehari-harinya sebagai contoh. Waktu-waktu itu sungguh memberikan pengaruh bagi saya karena sejak saat itu saya mulai memikirkan tentang Allah. Saya pikir saat itu merupakan titik balik yang mengubah pandangan saya terhadap Alkitab dan kekristenan. Kristus telah mengubah cara pandang saya tentang hidup. Semua orang di bumi pasti mengalami kesedihan dan permasalahan sekaligus juga mengalami hal-hal yang menyenangkan. Namun jika kita memiliki Allah sebagai tempat bersandar maka kita dapat menghargai segala sesuatu yang kita hadapi. Saya dapat menjalani kehidupan saya dan berjuang menghadapi permasalahan saya dengan bantuan dari Allah.

Sumber: http://misi.sabda.org/saksi_isi.php?id=8
READ MORE - Kesaksian: Pemain Sepak Bola yang Bertanding dalam Piala Dunia 2002

Selasa, 28 Oktober 2014

Kesaksian: Suku Bangsa Gedeo di Etiopia


Jauh di pedalaman suatu daerah berbukit di Ethiopia Tengah sebelah selatan, tinggallah beberapa juta orang petani kopi yang -- meskipun terbagi dalam suku-suku bangsa yang sangat berbeda -- mempunyai kepercayaan bersama kepada suatu eksistensi (keberadaan) yang penuh kebaikan bernama Magano -- Pencipta segala yang ada dan yang hadir di mana-mana. Salah satu dari suku-suku bangsa itu disebut dengan Darassa, atau lebih tepat lagi, suku Gedeo. Sekalipun jumlah suku Gedeo ada setengah juta namun hanya sedikit yang benar-benar berdoa kepada Magano. Malahan, seorang pengamat melihat orang-orang Gedeo lebih aktif berusaha menyenangkan hati suatu eksistensi yang jahat yang disebut Sheit'an. 

Pada suatu hari Albert Brant bertanya kepada sekumpulan orang Gedeo, "Kalian sangat menghormati Magano, tetapi mengapa kalian mempersembahkan kurban kepada Sheit'an itu?" Inilah jawaban yang diterimanya: "Kami mempersembahkan kurban-kurban kepada Sheit'an bukan karena kami mencintainya, tetapi karena hubungan kami dengan Magano tidak begitu akrab, sehingga kami tak berani melepaskan diri dari Sheit'an!" 

Namun ada satu orang Gedeo yang berusaha mendapat jawaban pribadi dari Magano. Nama orang itu adalah Warrasa Wange. Ia adalah anggota "keluarga raja" suku bangsa Gedeo yang tinggal di sebuah kota bernama Dilla yang terletak di daerah yang paling ujung dari tanah suku Gedeo. Cara pendekatannya kepada Magano adalah dengan menaikkan doa sederhana supaya Magano berkenan menyatakan diri-Nya kepada suku Gedeo! 

Warrasa Wange dengan cepat mendapat jawaban. Penglihatan-penglihatan yang mengejutkan menguasai seluruh pikirannya secara dahsyat. Dilihatnya dua orang asing berkulit putih. (Catatan: Namun ada kaum "Caucasophobes" -- yaitu orang-orang yang membenci atau takut kepada "orang-orang putih" yang biasanya disebut orang Caucasian -- tidak setuju dengan keterangan Warrasa, tapi sejarah pastilah tidak dapat menyangkal kenyataan ini.) 

Warrasa melihat kedua orang putih itu mendirikan tempat berlindung yang tipis dan halus di bawah naungan pohon sycamore yang besar dekat Dilla, kampung halaman Warrasa. Tak lama kemudian mereka menegakkan bangunan-bangunan yang lebih permanen dengan atap yang berkilau-kilauan. Akhirnya bangunan-bangunan itu nampak di mana- mana, di seluruh bukit itu! Seumur hidupnya belum pernah si pemimmpi itu melihat bangunan-bangunan yang mirip sedikit pun dengan tempat berlindung yang tipis itu, maupun bangunan permanen yang atapnya berkilauan itu. Semua tempat tinggal di Tanah Gedeo beratapkan rumput. Kemudian Warrasa mendengar suara yang mengatakan, "Orang- orang ini akan menyampaikan kepadamu pesan dari Magano, Allah yang kau cari itu. Tunggulah kedatangan mereka." 

Pada bagian terakhir dari penglihatannya itu, Warrasa melihat dirinya mengangkat tiang-tengah dari rumahnya sendiri. Dalam simbolisme Gedeo, tiang-tengah rumah orang berarti hidupnya sendiri. Kemudian dibawanya tiang itu ke luar kota dan ditanamkannya di tanah di samping salah satu bangunan beratap kemilau milik orang-orang asing. 

Warrasa mengerti maknanya -- kelak hidupnya harus mempunyai hubungan dengan orang-orang asing itu, dan dengan pesan yang mereka bawa dari Magano. Maka menunggulah Warrasa. Delapan tahun berlalu. Selama delapan tahun itu, banyak ahli nujum di antara suku bangsa Gedeo yang meramalkan bahwa tak lama lagi akan datang orang-orang asing membawa pesan dari Magano. 

Pada suatu hari yang sangat panas pada bulan Desember 1948, Albert Brant, seorang Kanada bermata biru, bersama rekannya Glen Cain, tiba- tiba tampak di garis langit, mengendarai sebuah truk yang sudah tua. Tugas mereka -- memulai pelayanan Injil bagi kemuliaan Allah di antara suku Gedeo. Padahal sebenarnya mereka berharap mendapat izin dari pembesar-pembesar Ethiopia untuk memulai misi di pusat wilayah Gedeo, tetapi para pembesar Ethiopia mengatakan kepada mereka bahwa permohonan itu pasti ditolak karena iklim politik saat itu. 

"Mintalah saja supaya diizinkan pergi ke Dilla, kota yang paling jauh dari pusat kota," nasihat orang-orang itu sambil mengedipkan mata. "Kota itu jauh sekali dari pusat wilayah suku Gedeo. Tapi bukan hanya itu saja, orang-orang percaya bahwa suku Gedeo yang tinggal jauh terpencil itu juga tidak mungkin bisa dipengaruhi." 

"Nah, kita sudah sampai," kata Brant kepada Cain. "Memang, ini tempat yang paling ujung dari wilayah Gedeo, tetapi kita harus puas dengan ini." 

Sambil bernafas panjang, dibelokkannya truknya yang tua itu ke arah Dilla. Glen Cain menghapus keringatnya dari dahinya. "Wah, kota ini sungguh panas, Albert," katanya. "Mudah-mudahan kita dapat menemukan tempat yang teduh untuk tenda-tenda kita!" 

"Coba, lihat pohon sycamore besar di sana itu!" jawaban Albert. "Tepat seperti yang kuinginkan!"
Brant mulai menjalankan truknya menaiki lereng bukit. Dari kejauhan Warrasa mendengar bunyi mesin mobil yang bising itu. Dia menengok ke arahnya dan tepat pada saat itu truk yang tua tadi berhenti di bawah cabang-cabang pohon sycamore yang terbentang luas. Dengan perlahan- lahan Warrasa berjalan mendekati truk itu, dan hatinya bertanya- tanya... 

Tiga puluh tahun kemudian, Warrasa (yang sekarang dengan penuh sukacita sudah menjadi pengikut Yesus Kristus, Putra Magano) bersama dengan Albert Brant dan orang-orang lainnya adalah anggota gereja- gereja yang jumlahnya lebih dari 200 orang masing-masing! Dengan bantuan Warrasa dan penduduk Dilla lainnya, hampir seluruh suku Gedeo telah dijamah oleh Injil -- walaupun Dilla letaknya sangat jauh dan terpencil dan orang-orangnya sulit dipengaruhi, kuasa Tuhan sanggup menjamahnya! 

Diambil dan dikutip dari:
Judul Buku : Kerinduan akan Allah yang Sejati
(Eternity in Their Hearts)
Judul Artikel: Suku Gedeo di Ethiopia
Penulis : Don Richardson
Penerbit : Kalam Hidup, Bandung, 1981
Halaman : 89 - 92
READ MORE - Kesaksian: Suku Bangsa Gedeo di Etiopia

Kesaksian: Perpaduan Antara Misi dengan Musik

[Sebuah contoh dari perpaduan antara musik dan misi dengan cara yang kreatif terlihat dalam kehidupan dan pelayanan John Benham, yang memiliki hasrat untuk menghubungkan antara musik dan misi.] 

PERPADUAN ANTARA MISI DENGAN MUSIK
 
Menjangkau berbagai budaya dengan musik untuk menghubungkan hati manusia dengan hati Tuhan: The Music In World Cultures Training Center (Musik dalam Pusat Pelatihan Kebudayaan Dunia). 

"Didirikan tahun 1989, The Music in World Cultures (MIWC) adalah realisasi dari dua hasrat saya semenjak kecil: panggilan untuk melayani Tuhan dalam misi dan kecintaan saya akan musik. Pergumulan saya menggabungkan dua hasrat ini memakan waktu puluhan tahun. Dua katalis yang mewujudkan terjadinya hasrat saya, yaitu mengembangkan kelas 'Perspektif Alkitabiah tentang Pujian -- Sebuah seminar tentang Pujian dan Budaya,' dan membawakan seminar tersebut di sebuah gereja baru di pulau Taliabo di Indonesia. Misionaris Steve dan Mary Lonetti, yang sedang kembali untuk cuti, ikut serta dalam kelas ini. Undangan dari mereka untuk datang dan mengajar di gereja Taliabo bagi saya jauh dari yang dibayangkan sebelumnya, bahkan oleh mereka sendiri. 

Ada sebuah kebudayaan animisme, yang sangat melibatkan roh-roh yang sangat trampil dalam membunuh orang. Tapi telah terjadi perubahan yang sangat ajaib! Empat suku yang dulunya saling bersaing sekarang hidup bersama dalam damai. Mereka telah 'memberikan hati mereka' -- sekarang mereka hanya memiliki hati Tuhan yang mereka 'bagi bersama.' 

Saat itu bulan Juni, 1989. Sebuah pesawat mendarat di landasan terbang sementara dan saya disambut dengan lagu-lagu pujian baru bagi Tuhan. Ini bukanlah sebuah lagu penyambutan tradisional, tetapi sebuah deklarasi dari iman mereka yang baru di dalam Tuhan. Mereka telah "membuat" lebih dari 75 lagu baru. Lagu-lagu tersebut adalah ekspresi ucapan syukur atas kebebasan dari roh-roh dan sebuah ringkasan dari pengajaran-pengajaran tentang keselamatan dan hidup kekal. Kala, seorang mantan dukun suku, dia sendiri telah menggubah hampir seluruh kitab Efesus ke dalam musik. 

Sebuah alat perekam kecil Sony sangat membantu proses perekaman. Kaset demi kaset telah diisi dengan puji-pujian baru. Lagu-lagu ini akan terdengar dari beranda sejak pk. 6.00 pagi. Nyanyi -- rekam -- tulis -- nyanyi bersama; dan kemudian prosesnya dimulai dari awal lagi. Kami melakukannya seharian penuh sampai malam hari, setiap hari, setiap malam. Hal ini sangat melelahkan, tapi mudah menular. Pengalaman-pengalaman dalam seluruh hidup saya terpusat pada peristiwa tersebut. Dua hasrat saya telah terpadu. 

Perjalanan pertama itu diakhiri dengan undangan untuk melayani delapan suku lainnya dan ini merupakan kesempatan untuk menghabiskan sisa hidup saya di Indonesia. Tetapi sungguh tidak realistis jika berpikir bahwa permintaan-permintaan yang tidak terlalu banyak itu hanya dapat dilakukan oleh satu orang saja. Orang lain harus diperlengkapi juga. Inilah jawabannya: sebuah Pusat Etnomusikologi (Ethnomusicology Center -- ilmu yang mempelajari musik dalam suatu bangsa) dengan misinya untuk "memperlengkapi para pemusik, misionaris, dan pemimpin gereja dengan budaya musik etnik, sehingga seluruh bangsa dapat memuji Tuhan dalam roh dan kebenaran dengan menggunakan bahasa musik mereka sendiri." 

Dengan pimpinan Tuhan dan kepemimpinan visionaris di Crown College (St. Bonafacius, Minnesota), sebuah kerja sama dibangun untuk menyelenggarakan sebuah program Master of Art dalam bidang Etnomusikologi. Kurikulum dan bahan-bahannya dikembangkan, termasuk sebuah laboratorium komputer musik dan sebuah pusat sumber daya. Selama 10 tahun di Crown College, pusat sumber daya MIWC telah mengembangkan lebih dari 1500 buku versi cetak, 500 kaset audio dan kaset video yang berisi kebudayaan-kebudayaan musik dari berbagai negara. 

Segera setelah itu MIWC mengerjakan proyek-proyek khusus yang menggabungkan musik dengan pelayanan misi. Di tahun 1996 sebuah undangan datang guna menjajagi kemungkinan kerja sama dengan Gabungan Gereja Baptis di Ukraina untuk memulai sebuah proyek bersama dengan para pemusik dari gereja-gereja di Ukraina. Stephen Benham (putra dari John Benham) kemudian memegang tanggung jawab atas proyek ini yang menjadi bagian dari program penelitian S3 (doktor)-nya di bidang musik. 

Visi MIWC:
  • Menyelenggarakan Orkestra Kristen Nasional dan Paduan Suara Ukraina.
  • Memperlengkapi pemimpin-pemimpin pujian gereja dengan Seminar "Perspektif Alkitab tentang Pujian."
  • Mengembangkan sebuah kurikulum pendidikan musik instrumental untuk melatih para anggota orkestra dan paduan suara menjadi guru musik.
  • Menyelenggarakan sekolah-sekolah musik di gereja-gereja untuk tujuan penginjilan.
Hasil MIWC:
  • Menyediakan musik bagi beberapa pelayanan penginjilan termasuk Badan Penginjilan Billy Graham.
  • Membawa tur penginjilan di aula-aula konser di seluruh Ukraina, dengan lebih dari 650 orang menerima Kristus dan bergabung dengan gereja lokal untuk pemuridan.
  • Menghasilkan sebuah CD dan kaset rekaman dari orkestra dan paduan suara.
  • Mendirikan 13 sekolah musik dengan 1/3 dari pendaftar datang dari keluarga yang sebelumnya tidak pergi ke gereja.

    Sumber: Global-Worship Vol. 2, #14 June, 2001
READ MORE - Kesaksian: Perpaduan Antara Misi dengan Musik

Humor: Alkitabnya Beda

Seorang anak kecil mendatangi ayahnya yang sedang bersantai sepulang kerja.

Anak: 
Ayah, apakah isi Alkitab yang biasa dibaca ibu sama dengan Alkitab yang ayah punya?

Ayah: Ya, tentu saja sama.

Anak: Ohh, aku kira punya ibu isinya lebih menarik dibanding punya ayah.

Ayah: Kenapa kamu berpikir begitu?

Anak: Karena Alkitab ibu lebih sering dibaca dibanding punya Ayah.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. 
(Mazmur 1:1-2)

[Sumber: The Last of The Good Clean Joke Books, halaman 14]
READ MORE - Humor: Alkitabnya Beda

Humor: Dari Mana Asalnya?

Bejo bertanya kepada ibunya tentang dari mana dirinya berasal. 

Ibunya menjelaskan, "Burung bangau yang mengantarkanmu ke depan rumah."

 "Lalu, dari mana ibu berasal?" tanya Bejo lagi.

"Nenek menemukan ibu di bawah daun kol," jawab ibunya.


"Kalau begitu dari mana nenek berasal?"

"Seorang malaikat memasukkannya ke dalam keranjang bayi."

"Ibu," kata Bejo, "Jadi maksud Ibu, selama tiga generasi di keluarga kita, tidak ada yang pernah hamil dan melahirkan?"

Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.
 (Mazmur 139:13)

[Sumber: The Last Official Smart Kids Joke Book, Halaman 81]
READ MORE - Humor: Dari Mana Asalnya?