AJARAN KRISTEN SEBAGAI PENUNTUN HIDUP

ajaran kristen tentang banyak hal

Yesus berkata: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Rabu, 27 Agustus 2014

Renungan Harian: Bumerang

Bacaan: Amsal 15:1-4,23

Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!- Amsal 15:23



Ingat Australia, Anda pasti ingat dengan bumerang, alat berburu yang sangat khas dari suku Aborigin. Bumerang merupakan salah satu senjata yang unik dibandingkan dengan senjata-senjata lainnya. Apa keistimewaannya? Bumerang akan kembali dengan sendirinya jika tidak mengenai sasaran. Adanya pergeseran titik berat pada bumerang menyebabkan perputaran ke arah semula. 

Geli juga ketika ingat pengalaman sederhana ini. Saya ada janji untuk ketemu dengan salah seorang teman. Karena teman tak kunjung datang, tak ada salahnya saya jalan-jalan di sekitar tempat itu dan mulai melihat barang-barang yang dipajang di sana. Just killing time, demikian pikir saya. Lalu ketika melihat sebuah barang yang cukup menarik, saya iseng bertanya harganya meski tidak ada niatan sama sekali untuk membeli barang itu. Ketika penjual menyebutkan harganya, sekali lagi saya iseng untuk menawar dengan harga yang sangat rendah, karena memang saya tidak ada niat sama sekali untuk membeli barang itu. Yang membuat saya jadi gelagapan adalah ketika si penjual tahu-tahu menurunkan barang itu dan memberikannya kepada saya, tanda jadi transaksi. Cukup menyesal karena saya sebenarnya hanya iseng saja, tapi sekarang harus merogoh kocek untuk barang yang tak ingin saya beli. Meski demikian, bersyukur karena saya dapat sebuah pelajaran berharga, hati-hati dengan setiap kata yang keluar dari mulut kita, karena itu bisa menyulitkan kita.

Bumerang bisa jadi senjata makan tuan, demikian juga halnya dengan perkataan yang keluar dari mulut kita. Perkataan yang tak tepat waktu untuk diucapkan, perkataan yang tidak tepat kepada siapa harus dikatakan, perkataan kosong, sembrono dan perkataan yang sia-sia kadangkala bisa menyulitkan diri kita sendiri pada akhirnya. Itu sebabnya orang bijak akan berpikir berkali-kali sebelum mengeluarkan satu perkataan, bukannya berkata-kata dulu baru kemudian berpikir dengan apa yang sudah dikatakan. Kalau kita mau sedikit lebih jujur, bukankah banyak kesulitan dan masalah yang kita hadapi sekarang ini sebagai akibat perkataan kita yang sembrono dan tak tepat pada waktunya?

Orang bijak mengeluarkan perkataan yang tepat, pada waktu yang tepat dan pada orang yang tepat.

Sumber: http://www.renungan-spirit.com/kiat-sukses/bumerang.html
READ MORE - Renungan Harian: Bumerang

Renungan Harian: Before & After

Bacaan: Roma 12:1-2

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu...- Roma 12:2



"Hei, coba liat nih! Asik banget kayanya, ya! Kita musti coba, nih!" seru Mimi si ceriwis sambil menyodorkan selembar brosur kecantikan. Rupanya ada sebuah klinik kecantikan yang baru aja dibuka di dekat kampus kami. Mimi barusan mendapatkan promosinya. Di brosur itu tertera foto "sebelum" dan "sesudah" menjalani terapi kecantikan. Cewek yang semula gemuk jadi langsing. Yang kulitnya bopeng-bopeng jadi mulus. Yang kulitnya hitam jadi putih bersih. Yang botak jadi berambut panjang indah terurai. Pokoknya klinik itu komplit banget fasilitas dan layanannya. 

Dengan foto "Before" and "After", banyak orang jadi pengen mencoba terapi di klinik itu. Kalo seandainya gambar sebelum dan sesudah sama aja, nggak jauh bedanya, tentu orang nggak akan berminat buat mengikuti terapi kecantikan itu. Buat apa bayar mahal-mahal kalo hasilnya sama aja. 

Sebenernya hidup kita ini bagaikan brosur kecantikan itu. Kita bisa membuat orang tertarik untuk datang kepada Tuhan kalo hidup kita yang sekarang berbeda dari yang dulu. Sejak kita kenal Tuhan dan lahir baru, sikap hidup, tutur kata, perbuatan dan pemikiran kita jadi lebih indah dan nggak amburadul seperti dulu lagi. Perbedaan itu terpancar jelas dalam kehidupan kita. Tanpa perlu bersikap sok rohani pun, orang akan tau ada kemuliaan Tuhan terpancar dari hidup kita sehari-hari. Tapi kalo hidup kita tetep sama hancurnya, nggak mungkin orang akan tertarik untuk mengenal Kristus. Nah, sekarang coba kita cek hidup kita ini. Sudahkah kita menjadi "brosur" yang berguna mengundang orang datang kepada Tuhan? Kalo belum, masih ada kesempatan untuk mengubahnya. Jadilah pribadi yang berbeda setelah mengenal Kristus.

Sumber: http://www.renungan-spirit.com/mudaremaja/before_after.html
READ MORE - Renungan Harian: Before & After

Renungan Harian: Aturan 24 Jam

Bacaan: Efesus 4:26-27

Apabila kamu menjadi marah, janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu- Efesus 4:26


Sewaktu liburan, teman saya yang bekerja di luar kota membawa sebuah cerita yang membuat hati saya gemetar. Dia menceritakan ada sebuah keluarga dengan seorang anak kecil yang manis, lucu dan pandai. Dalam usianya yang masih masih balita, anak ini sangat aktif selayaknya anak kecil seusianya. Singkat cerita, keluarga ini membeli sebuah mobil baru dengan sistem kredit. Sang anak yang sedang senang menggambar sering mencoret-coret di segala tempat ia berada, termasuk di tembok-tembok rumahnya. Pada saat rumah sepi, orang tuanya bekerja dan pembantu sedang mengerjakan sesuatu, anak itu menemukan sebuah paku dan terpikir olehnya untuk menggambar sesuatu. Tanpa banyak pertimbangan, dengan lugunya ia mencoretkan paku di mobil ayahnya tersebut, tentu saja dengan lukisan terindah yang ia bisa lakukan. 

Ketika orang tuanya pulang, sesuatu yang bisa ditebak terjadi. Mereka sangat marah dan memukul tangan kecil yang dipakai untuk menggambar dengan sebuah rotan.Tangan kiri yang tidak berbuat pun terpaksa kena imbasnya. Hari berikutnya sang pembantu melaporkan kalau keadaan adek (panggilan sayang untuk sang anak) demam tinggi, tetapi sang orang tua masih marah dan hanya memberikan obat penurun panas. Setelah beberapa hari sang anak semakin parah, baru setelah itu mereka membawanya kerumah sakit. Betapa sangat sangat mengejutkan, luka memar di kedua tangan sang anak ternyata sudah membusuk dan satu-satunya jalan adalah amputasi. Tidak terbayangkan penyesalan kedua orang tuanya, apalagi sang ayah ketika mendengar permintaan anaknya, “Yah....Adek janji tidak akan nakal lagi, Adek janji tidak akan mencoret mobil ayah lagi, tapi tolong kembalikan kedua tangan Adek!”

Ini adalah sebuah kisah nyata tentang aturan 24 jam. Kita harus memadamkan amarah kita sebelum matahari terbenam. Banyak orang melupakan aturan ini dan ketika sadar, penyesalan selalu saja datang terlambat. Dalam ayat selanjutnya dikatakan “dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis“ (Efesus 4:27). Ini menandakan bahwa ada prakarsa lain yang akan ikut ambil keuntungan dari masalah kita. Apapun yang sedang kita hadapi saat ini marilah kita mencoba untuk tenang dan sabar, agar kita tidak dikuasai oleh amarah yang berlarut-larut sehingga mengakibatkan penyesalan yang tiada henti.

Jika hari ini Anda sedang dikuasai marah, ingatlah bahwa aturan 24 jam harus berlaku. 

Sumber: http://www.renungan-spirit.com/renungan-kristen.html
READ MORE - Renungan Harian: Aturan 24 Jam

Keaksian: Rainny: Saya Kecewa Anak Saya Down Syndrome

Rainny, seorang ibu yang merasa terpukul dan kecewa kepada Tuhan sebab harus menerima kenyataan bahwa putranya Aurel lahir dengan keterbelakangan fisik dan mental yang disebut dengan down syndrome. Rainny kecewa sebab Tuhan seakan memberinya beban berat yang harus ditanggung seumur hidupnya.


"Yang saya pertanyakan kepada Tuhan: Kenapa sih harus saya? Saya terbangun malam, saya marah sama Tuhan dan  itu beberapa kali terjadi. Dan anak down syndrome ini kan hypotonus, jadi otot-ototnya lemah, dia tidak bisa mengunyah, dia tidak bisa waktu dia bayi dia tidak bisa nyedot susu," ujar Rainny.


Rainny kerap kali mengeluh dan marah saat menghadapi masa-masa yang sangat melelahkan ketika harus mengurus seorang Aurel dengan kelemahannya yang sangat kompleks itu. Hingga disuatu titik, Rainny menyadari bahwa Aurel pasti memiliki potensi meski mengalami keterbatasan.


Selama 12 tahun merawat dan membesarkan Aurel, Rainny tak sekalipun menyerah untuk mengoptimalkan kemampuan Aurel. Aurel pun aktif terlibat dibidang sosial serta memiliki minat dan bakat yang luar biasa di bidang seni dan musik.  Dari sanalah Aurel mulai membuktikan bahwa keterbatasan yang dimilikinya bukan menjadi penghalang bagi dirinya menjadi anak yang berprestasi dan mampu membanggakan sang bunda, Rainny.


Aurel terus mengasah bakat bermain perkusi serta melukis yang membawanya meraih berbagai prestasi, seperti pernah menggelar pameran lukis sendiri, ikut dalam berbagai event charity serta berbagai music show. "(Aurel) belajar melukis dengan bermain perkusi di satu tempat seperti sanggar, yang memang mereka concern sekali sama anak-anak yang berkebutuhan khusus. Dan ternyata dia berkembang, progresnya bagus sekali dari konsentrasinya juga meningkat," terang Rainny.  


Saat ini, Aurel bahkan mulai mengasah bakatnya dalam bermain Piano. "Saya kaget sekali karena adiknya les Piano, baru pertama kali trus dia bisik-bisik sama saya: Mah, abang mau belajar Piano. Buat saya apapun yang saya lakukan toh hanya pengen buat dia happy, kalau dia nggak happy buat apa saya pikir".


Kehadiran seorang anak dalam keluarga adalah sebuah anugerah yang patut disyukuri. Kelemahan fisik bukanlah sebuah kekurangan yang harus terus diratapi, tapi justru dalam kelemahanlah kuasa Tuhan dinyatakan untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang berharap kepada-Nya.

"Saya sebetulnya hanya pengen, selain untuk Aurelnya sendiri pasti dia bangga terhadap dirinya sendiri. Itu yang paling penting dan juga saya mau menunjukkan kepada orang-orang bahwa punya anak down syndrome itu bukan kiamat kog," tutur Rainny.

Sumber: http://www.jawaban.com/index.php/spiritual/detail/id/9/news/140825112724/limit/0/Rainny-Saya-Kecewa-Anak-Saya-Down-Syndrome.html
READ MORE - Keaksian: Rainny: Saya Kecewa Anak Saya Down Syndrome

Kesaksian: Hendrikus Arie, Muliakan Tuhan Lewat Dunia Menggambar

Tidak banyak orang yang mau memilih berkarir di dunia karikatur. Satu dari sedikit orang itu ternyata adalah seorang anak muda yang begitu cinta Tuhan, yakni Hendrikus David Arie Mulyatno. Berikut adalah sepenggal kisah hidup Arie - demikian Hendrikus David Arie Mulyatno disapa - dan dunia gambar-menggambarnya:

Sejak masih sangat kecil, Arie – demikian Hendrikus David Arie Mulyatno – memang sudah menyukai dunia melukis. Lewat tontonan televisi, ia pun mulai bereksperimen menggambar di kertas. Lama-kelamaan hal itu akhirnya mendorongnya untuk bercita-cita untuk menjadi tukang gambar atau bahkan tentara.  

Adapun sebagian besar tema lukisan yang dibuatnya ketika itu adalah berkaitan dengan keadaan-keadaan sosial seperti tukang jualan atau keadaan saat banjir. Ketika usia bertambah dan akhirnya bekerja, ia pun memilih masuk ke perusahaan media cetak.  

Di perusahaan media cetak ini, Arie semakin mendalami karikatur khususnya yang berkaitan opini maupun editorial. Berkat kerja kerasnya, karya karikatur yang berjudul "Rest In Peace (RIP) Penegakan Hukum" meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2013.

Arie sungguh bersyukur kepada Tuhan mendapat penghargaan tersebut. Ia berterima kasih karena Tuhan telah memberinya kesempatan untuk meraih anugerah prestisius di dunia kewartawanan di Indonesia.

Semakin hari bergelut di dunia karikatur, Arie kian menyadari bahwa Tuhan sungguh-sungguh berkarya di dalam hidupnya. Lewat talenta menggambar yang dimiliki, ia tidak ragu untuk mengembalikannya kepada Tuhan lewat pelayanan yang diambilnya di gereja saat ini yakni sebagai illustrator majalah dan pengajar gambar bagi anak-anak.

Sampai nafas berakhir dan mata menutup, Arie tidak akan berhenti untuk menggambar, melukis, apalagi membuat karikatur. Sebab, baginya itu adalah media untuk menunjukkan kepada sesama manusia betapa mulia dan besarnya Tuhan yang Dia sembah, Yesus Kristus Sang Juruselamat.

Sumber: http://www.jawaban.com/index.php/spiritual/detail/id/9/news/140711161352/limit/0/Hendrikus-Arie-Muliakan-Tuhan-Lewat-Dunia-Menggambar.html
READ MORE - Kesaksian: Hendrikus Arie, Muliakan Tuhan Lewat Dunia Menggambar

Kesaksian: Eka Budianta, Ungkapkan Kecintaan Akan Ciptaan Tuhan Lewat Tulisan

Eka Budianta, pria bernama asli Christophorus Apolinaris Eka Budianta adalah seorang sastrawan yang telah banyak menuangkan pemikiran-pemikirannya dalam bentuk tulisan baik berupa buku, essay, cerpen maupun puisi. Sejumlah karya itu bahkan mendapat beragam penghargaan dari pemerintah. 

Mantan wartawan dan koresponden Jepang ini mengaku memakai bakat menulisnya sebagai saksi untuk menyatakan kebaikan dan kebesaran Tuhan atas alam semesta. Melalui tulisan, Eka menuangkan berbagai pemikiran serta rasa syukur-Nya atas kebaikan Tuhan dan ciptaan-nya yang bermanfaat bagi manusia kepada orang lain. "Kita harus berterima kasih dan kita mencermati ciptaan-ciptaan Tuhan itu, menghargainya, merawatnya dan membuat orang lain sayang kepadanya, maka itulah saya menulis buat buku, buat cerpen, buat puisi dan lain-lain," ujar Eka.

Di tengah semakin tingginya pencemaran lingkungan, rasa prihatin Eka mendorongnya untuk menggalakkan solusi lewat pemikiran-pemikiran itu. "Saya menulis itu untuk membuktikan kita mencintai ciptaan Tuhan. Setiap orang kalau mau mencintai lingkungan harus cermat mempelajari lingkungannya, mengenal lingkungannya dengan baik".

Selain itu, ia menyampaikan agar setiap orang harus mempunyai keterampilan untuk memanfaatkan dan menjaga lingkungan, serta mengajak orang lain untuk mencintai lingkungan itu sendiri. Konsistensi yang ditunjuan sosok Eka sebagai pecinta lingkungan adalah cinta kasih, dalam artian bahwa setiap orang patut mengasihi, memahami dan memperbaiki tingkah laku terhadap segala hal di sekitarnya termasuk lingkungan.

Profesinya sebagai sastrawan hingga pengamat lingkungan diyakini pria yang juga mengemban tugas sebagai pengurus dalam mitra lingkungan ini sebagai sebuah jalan yang telah dituliskan oleh Tuhan.  Ia percaya bahwa riwayat hidup setiap orang sudah dituliskan oleh sang pencipta.

"Jalan hidup kita, siapa-siapa yang akan kita temui, saya percaya bahwa pada lazimnya riwayat hidupnya Eka, semua itu sudah ditulis dalam buku besar Tuhan, tinggal kita ini menjalani hidup sebaik-baiknya".

Ia pun berpesan agar manusia tetap cermat terhadap hal-hal yang sederhana seperti mencintai lingkungan. Dengan sikap itu, ia percaya bahwa apapun di sekitar manusia dapat dijadikan sebagai sumber berkah, sehingga kita dapat menjadi sumber inspirasi bagi orang lain. "Kalau kita bisa memetik inspirasi dari sebatang pohon, dari selembar daun pun bisa dapat uang, bisa dapat nafkah, bisa hidup. Mencintai lingkungan itu justru memuliakan Tuhan dan mendapatkan berkah dari Tuhan," pungkasnya.
READ MORE - Kesaksian: Eka Budianta, Ungkapkan Kecintaan Akan Ciptaan Tuhan Lewat Tulisan

Humor: Handuk Terbaik

Seorang istri mengatakan kepada suaminya, yang baru saja pulang dari kantor, bahwa pembantu mereka pada hari terahir kerjanya telah mencuri dua handuk kesayangan mereka sebagai tanda perpisahan.

"BERANI SEKALI DIA!" kata sang suami dengan suara keras.

"Iya, Pa!" kata sang istri, "padahal dua-duanya adalah handuk terbaik kita lho, Pa. Itu lho, yang kita ambil dari Hotel Hilton waktu liburan Natal tahun lalu."

Setiap orang mendapat ganjaran sesuai dengan kata-kata dan
perbuatannya; masing-masing diberi upah yang setimpal. 

[Sumber: http://jokes.ochristian.com/Home/Our_Best_Towels.shtml]
READ MORE - Humor: Handuk Terbaik