AJARAN KRISTEN SEBAGAI PENUNTUN HIDUP

ajaran kristen tentang banyak hal

Yesus berkata: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Senin, 29 September 2014

Renungan Harian: Jangan dirobohkan

Bacaan: Amsal 14:1

Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.- Amsal 14:1



Tina nyesel udah putus ama Doni. Padahal mereka udah pacaran sejak kuliah tingkat tiga. Doni udah menunjukkan keseriusannya dalam hubungan mereka. Tapi entah kenapa hari itu Tina mengambil keputusan untuk putus. Enggak ada air mata kesedihan waktu dia mengucapkannya di depan Doni. Yang ada hanyalah kemarahan, kejengkelan, kekecewaan terhadap sikap Doni yang akhir-akhir ini dirasakan Tina lebih sering menghabiskan waktu ama temen-temennya dibandingkan ama dirinya. Tina ngerasa udah dikecewakan, enggak dihargai, enggak disayangi lagi, dst. 

Sebulan udah berlalu sejak kejadian itu, dan sekarang Tina nyesel. Doi nyesel kenapa dulu mengucapkan kata putus. Nyesel karena sekarang Doni udah pindah keluar kota dan sulit dihubungi kembali. Nyesel atas tindakannya yang dibakar emosi dan tidak berpikir panjang dan jernih. Tapi sekarang udah terlambat.

Girls, apakah kamu pernah mengalami hal yang hampir sama seperti Tina? Saat pacaran dan terjadi konflik, kita langsung buru-buru mengucapkan kata putus. Dalam hati kecil kita berharap doi bakalan ngemis-ngemis meminta permohonan maaf kita, trus baikan lagi (seperti di film-film romantis geto deh!) Kita enggak menyadari bahwa sikap seperti itu tuh childish ‘n egois banget. Kita enggak berusaha mencari jalan keluar atas masalah yang sedang muncul, tapi lebih memilih untuk lari dari masalah itu. Kita beranggapan bahwa yang salah hanyalah dari pihaknya dan kita enggak perlu introspeksi diri karena kita udah cukup baik kepadanya. Kalo sebelum membangun rumah tangga aja kita udah gampang nyerah, gimana nanti kalo udah menikah? Penulis Amsal yang bijaksana menuliskan,”Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.” Jangan sampai kita menjadi gadis bodoh yang meruntuhkan rumah kita sendiri.

Sumber: http://www.renungan-spirit.com/mudaremaja/jangan_dirobohkan.html
READ MORE - Renungan Harian: Jangan dirobohkan

Renungan Harian: John Wesley

Bacaan: Matius 25:31-46

Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan;- Matius 25:42



Pernahkah Anda mendengar nama John Wesley? Ia seorang yang patut kita teladani dalam caranya menggunakan uang. Wesley dibesarkan dalam keluarga pendeta miskin. Saat dewasa ia akhirnya menjadi pendeta juga seperti ayahnya, namun dengan nasib yang berbeda. Sebagai profesor teologia di Oxford, ia menghasilkan uang yang cukup untuk membalas kepahitan masa kecilnya yang serba kekurangan. Dengan penghasilan 30 pounds setahun, saat itu ia bisa hidup berfoya-foya dengan uangnya.

Namun ia berubah ketika suatu hari ia melihat pembantunya yang miskin berpakaian tipis di musim dingin. Ia bermaksud menolongnya dengan pemberi uang, tapi ternyata tak ada uang yang tersisa di kantongnya. Padahal dinding rumahnya berhiaskan lukisan mahal dan barang-barang mewah. Sejak saat itu ia berjanji dalam hatinya untuk membatasi penggunaan uangnya dengan bijak agar bisa menolong orang banyak.

Dari gajinya yang 30 pounds per tahun ia menyisihkan 2 pounds untuk dibagikan. Tahun berikutnya ketika gajinya naik 2 kali lipat, ia tetap menggunakan 28 ponds untuk dirinya sendiri dan membagikan sisanya 32 pounds kepada orang miskin. Tahun demi tahun ia tetap melakukan hal yang sama sekalipun gajinya telah berlipat ganda. Barulah setelah gajinya mencapai 1400 pounds, ia menaikkan taraf hidupnya menjadi 30 pounds per tahun. Sungguh luar biasa! Tak heran Allah memberikan kepadanya kepercayaan yang besar dalam hal keuangan.

Mungkin kita belum pernah mencoba berlaku se"ekstrim" John Wesley. Namun pasti Tuhan ingin anak-anak-Nya bisa belajar menggunakan uang dengan benar. Tak perlu rencana yang terlalu panjang untuk menunggu kita kaya raya dulu. Dengan apa yang ada pada kita hari ini, kita bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain. Cara seperti ini akan menghindarkan kita dari bahaya ketamakan. Belajar dari John Wesley, bahwa yang namanya kepuasaan di dunia itu tidak ada habisnya, itu sebabnya pastikan kita yang mengatur keuangan kita, bukan uang yang mengatur kehidupan kita. Dengan cara ini kiranya akan membuat kita semakin dipercaya oleh Tuhan dan kiranya Tuhan akan memakai tangan kita untuk memberkati semakin banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita.

Gunakanlah keuangan kita dengan bijak dan hindarkan diri dari kerserakahan.

Sumber: http://www.renungan-spirit.com/ilustrasi-rohani/john_wesley.html
READ MORE - Renungan Harian: John Wesley

Renungan Harian: Menjadi Ibu Rumah Tangga itu Ringan?

Bacaan: Amsal 31:10-31

Isteri yang cakap, siapakah akan mendapatkannya?- Amsal 31:10



Kalau kita mau sedikit lebih jujur, kita harus mengakui bahwa sebagai suami kita seringkali merasa lebih hebat daripada isteri kita. Merasa bahwa kita yang mencari uang, sehingga kita sewenang-wenang dengan isteri yang hanya melewatkan waktu di rumah untuk mengurus anak dan rumah tangga kita. Apakah benar bahwa tugas suami yang mencari nafkah lebih berat daripada tugas isteri yang hanya mengurus rumah tangga?

Sungguh menarik menyimak artikel yang ditulis Detroit Free berdasarkan penelitian Michael Minton tentang nilai isteri jika diukur dengan uang. Isteri merangkap beberapa pekerjaan sekaligus seperti sopir saat menghantar anak ke sekolah, menjadi tukang kebun saat menyapu halaman dan mencabuti rumput liar, menjadi perawat saat memandikan anak, menjadi dokter saat anak sakit, menjadi guru saat mengajari anak di rumah, menjadi pendeta saat bercerita, menjadi tukang cuci, tukang masak, menjadi bendahara keluarga, bahkan menjadi seperti resepsionis yang menerima telpon atau menerima tamu. Dengan menggunakan daftar tugas itu, Minton menghitung nilai kerja seorang ibu rumah tangga sesuai dengan upah yang berlaku di pasaran, dan nilainya adalah Rp. 884.773,89 per minggu atau Rp. 3.539.095,56 per bulan! *

Mengurus rumah tangga tak kalah capeknya dibandingkan kita yang bekerja di kantor. Oleh karena itu, hendaknya kita sebagai suami bisa mengasihi isteri kita dan tidak merasa seolah-olah kita merasa lebih penting dan lebih berjasa daripada isteri kita. Jangan pernah berpikir bahwa tugas mencari uang selalu lebih berat daripada mengurus rumah tangga. Kalau tidak percaya, ambillah waktu untuk cuti dari pekerjaan Anda dan lakukanlah semua tugas yang biasanya dikerjakan oleh isteri Anda di rumah. Saya jamin, tak perlu waktu lama untuk mendengar keluhan akibat rasa capek yang Anda rasakan.

Inti renungan pada hari ini adalah bagaimana kita bisa saling menghargai satu sama lain dalam kehidupan berumah tangga. Jika kita bisa menghargai pasangan kita dan tidak merasa lebih hebat daripadanya, maka akan tercipta sebuah rumah tangga yang lebih harmonis. Percayalah, dengan sikap yang seperti ini, maka pertengkaran dengan pasangan juga akan semakin jarang terjadi.

Belajarlah menghargai pasangan kita satu sama lain.

Sumber: http://www.renungan-spirit.com/artikel-rohani/menjadi_ibu_rumah_tangga_itu_ringan?.html
READ MORE - Renungan Harian: Menjadi Ibu Rumah Tangga itu Ringan?

Renungan Harian: Tak Tersisa Makna

Bacaan: II Timotius 3:5 Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.- II Tim 3:5

 Ini salah satu cerita favorite saya. Seorang pria membeli sebuah beo yang pernah menjadi juara dengan harga yang sangat mahal. Agar beo ini berbicara lebih banyak lagi, maka pria ini sengaja membelikan sebuah sangkar yang benar-benar elegan dan besar. Herannya, di sangkar yang sedemikian bagus, beo itu tidak mengeluarkan suara sedikitpun juga. Pria ini mulai kuatir lalu mencoba konsultasi dengan penjual burung beo itu. Sang penjual segera menyarankan agar pria ini membeli cermin, sebab dengan adanya cermin maka beo ini akan merasa nyaman. Tetapi usaha ini tak membuahkan hasil. Kembali si penjual beo itu menyarankan agar pria ini membeli tangga dan ayunan supaya beo itu senang. Namun tetap saja usaha ini sia-sia, dan beo itu benar-benar melakukan aksi bungkam mulut. Beberapa hari kemudian beo itu tergolek lemah dan tiba-tiba mengeluarkan suara yang selama ini ditunggu-tunggu. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, beo itu berkata, “Apakah benar tidak ada makanan selain cermin, tangga dan ayunan mahal ini?” 
 
Tahukah Anda maksud cerita itu? Beo itu diperlengkapi dengan fasilitas yang bagus dan mahal, tetapi sayang pria ini lupa memberi makan kepadanya. Tak heran kalau beo ini tidak mau bersuara dan akhirnya mati. Hal yang penting dan mendasar justru dilupakan, sebaliknya pria ini berkonsentrasi kepada hal-hal yang sebenarnya tidak perlu.
 
Mengabaikan hal yang penting karena disibukkan hal-hal yang kurang perlu. Pemandangan ini akan semakin jelas menjelang hari Natal atau hari Paskah, atau acara perayaan penting di gereja. Mempersiapkan diri begitu rupa menyongsong “hari suci” sampai tak menyadari bahwa ia sudah kehilangan makna yang sebenarnya. Sibuk rapat, mencari dana begitu rupa, latihan paduan suara, menyiapkan operet dan drama atau melakukan apapun yang dianggap penting pada momen ini. Namun pada gilirannya, ia melupakan makna yang sebenarnya dari momentum yang sedang ia rayakan. Setelah semuanya berlalu, maka tak tersisa sedikitpun makna yang bisa direnungkan. Kecuali hanya menyisakan keletihan, kejengkelan dan kecapekan yang luar biasa. Kiranya renungan ini selalu mengingatkan agar di saat kita menyibukkan diri pada sebuah momentum yang sedang kita rayakan, kita tidak kehilangan makna yang sebenarnya dari momentum itu.

Sebuah momen tidak akan pernah berarti jika sudah kehilangan maknanya.

Sumber: http://www.renungan-spirit.com/renungan-kristen.html
READ MORE - Renungan Harian: Tak Tersisa Makna

Kesaksian: Kisah Nyata Romo Magnis yang Mencintai Indonesia

Pemilihan Umum 2014 merupakan pesta demokrasi yang sangat ditunggu-tunggu oleh sebagian besar seluruh warga negara Indonesia, termasuk Profesor Doktor Romo Frans Magnis Suseno. Walau lahir dan dibesarkan di lingkungan bangsawan Jerman, tetapi Romo Magnis merasa memiliki ikatan yang kuat dengan negeri yang sudah didiaminya puluhan tahun ini. 
Ia tidak menampik awalnya ia merasa biasa-biasa saja dengan Indonesia. Namun seiring waktu, sejalan dengan dilibatkan dirinya dalam masalah-masalah yang terjadi baik tingkat daerah maupun nasional maka ia pun menganggap dirinya sebagai bagian dari NKRI. 
Bagi Romo Magnis, umat Kristiani di Indonesia pada dasarnya memiliki peranan besar dalam rangka menentukan masa depan Indonesia. Oleh sebab itu, ia memandang kehadiran para pengikut Kristus di suatu negara seharusnya memberi warna yang positif kepada wilayah dimana mereka tinggal atau berada. 
Romo Magnis memandang bahwa tidak cukup orang Kristen menjadi Kristen yang jujur dan berintegritas. Lebih dari pada itu, mereka yang mengaku beriman kepada Tuhan Yesus Kristus juga sepatutnya memikirkan nasib bangsa. 
Indonesia memang banyak sekali masalah, tetapi baginya, tidak ada bangsa, negeri, orang, yang tidak ada persoalan.  
Bangkit Dari Masalah
Seperti manusia lain, Romo Magnis juga memiliki masalah di dalam kehidupannya. Ketika situasi itu dialami, ia mengaku memiliki cara tersendiri untuk bangkit. Hal pertama yang biasa ia lakukan adalah ia mengingat kembali panggilan-Nya di dalam Yesus Kristus.   
"Jadi saya merasa ada latar belakang saya. Saya tidak sendirian. Itu (masalah adalah sesuatu yang) normal, Yesus sendiri banyak kesulitan. Jadi saya di situ mendapat motivitasi religius, kalau mau diucapkan begitu."
Selain mengingat panggilan di dalam Yesus Kristus, cara kedua ia bangkit dari masalah adalah ia datang kepada komunitas yang sejak lama ia masuki. Ketika ia menjumpai orang-orang di dalam komunitas lamanya itu, ia sungguh mendapat dukungan yang sangat berarti. Baginya, dua hal yang ia laksanakan tersebut sungguh membantunya di dalam hari-hari sulit yang ia hadapi. 

Sumber: http://www.jawaban.com/read/article/id/2014/07/04/78/140704150318/Kisah-Nyata-Romo-Magnis-yang-Mencintai-Indonesia
READ MORE - Kesaksian: Kisah Nyata Romo Magnis yang Mencintai Indonesia

Kesaksian: Suwarno, Ekspresikan Kasih Tuhan Melalui Anak Jalanan

Mengorbankan nyawa dan karir demi anak-anak jalanan, hal ini bisa dilihat langsung dari sosok seorang Suwarno Asmoro. Bermula saat pulang kuliah dan bertemu tiga pengamen anak di depan Jakarta Design Centre. Bingung melihat ketiganya yang membawa tas, Suwarno menanyakan apa isi dalam tas tersebut. Ketiganya lantas menunjukkan buku pelajaran Lembar Kerja Siswa (LKS) yang mereka bawa didalam tas. Tergerak, iapun langsung mengajar dan memandu ketiga pengamen tersebut mengerjakan tugas sekolahnya. Tidak disangka ternyata reaksi yang diterima sangat menggembirakan. Mereka melompat dan teriak gembira, saat ditanya kenapa bisa sesenang itu, mereka senang karena tidak akan di hukum lagi di sekolah.

Setelah menjadi seorang apoteker, Suwarno merasa gelisah. Gaji cukup besar dan dia bisa saja kaya dengan penghasilannya. Tetapi ia tidak ingin kaya materi, melainkan kaya yang bermanfaat. Kaya itu adalah ketika kita menginvestasikan diri kita sehingga orang bisa menikmatinya. Bagaimana? Suwarno memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya dan berhenti bekerja. Kepeduliannya akan kaum termarjinalkan muncul sejak pertemuan dengan anak-anak yang sibuk mengamen, sementara kesulitan untuk mengerjakan tugas sekolah dan memahami pelajaran.

Bukan uang yang dibutuhkan anak-anak pengamen ini melainkan pengetahuan. "Saya berpikir, wah ternyata ini needs mereka. Kebutuhan mereka.bukan uang, kalau uang kan nnati diminta orantuanya." Akhirnya Suwarno beralih menjadi guru privat les anak-abnak pengamen. Niat baik juga tidak selamanya tanpa hambatan. Respon yang datang padanya juga pernah menimbulkan kecurigaan, caci-maki hingga berujung pada pertikaian fisik, baginya ini adalah hal yang biasa.

"Pernah ada orang tua yang datang dan dobrak pintu". Ayahnya marah-marah dan memaksa anaknya untuk kembali megamen. Marah, Suwarno mengatakan, "Saya engga mau anak bapak itu seperti bapak, saya mau anak itu pinter." Tetap tidak terima, orang-tua pergi, setelah itu anaknya juga menyusul. Tetapi belum berhenti, ternyata orangtua tersebut kembali, kali ini dengan membawa komplotan preman. Suwarno akhirnya dipukuli dan dan dikeroyok.

Bukan menyerah, tetapi dia berusaha melakukan pendekatan, dengan meyentuh hati keluarga tersebut. Saat ibu dari anak pengamen tersebut sakit, Suwarno merawat dan memwanya kerumah sakit. Luluh, si ayah tadi mengijinkan dan mendukung apa yang dilakukan oleh Suwarno.

Hingga saat ini, Suwarno telah 15 tahun mengabdikan hidupnya mengajari anak-anak jalanan di daerah Jakarta. Bukan hanya belajar, tetapi dia juga memenuhi gizi dengan menyediakan susu. Indonesia sendiri, rendah kesadarannya untuk mengkonsumsi susu. Menurutnya susu dapat meningkatkan kemampuan otak dan emmbantu anak-anak dalam memahami pelajaran.
Kasih diwujudkan dalam tindakan yang nyata adalah karakter yang melekat dalam diri Suwarno. "Anak-anak yang akan memimpin bangsa. Jangan sampai mereka kehilangan masa anak-anak yang disebabkan orang-orang dewasa." Jangan sampai Indonesia kehilangan generasi. "Saya bisa begini itu karena Tuhan. Karena Tuhan yang sudah membela hidup saya. Suwarno hanya ingin mengekspresikan kasihya kepada Tuhan lewat anak-anak pengamen ini. "Ga usah banyak bicara, langsung bertindak, berlaku, ekspresikan yang ada dalam hati. Mengasihi sesama adalah ekspresi kita mengasihi Tuhan." Termasuk juga mengasihi bangsa. Orang yang sangat mengasihi Tuhan pasti sangat bermanfaat bagi bangsa ini. Kalau manusia bisa mengasihi Tuhan dengan baik, pasti bisa jadi berkat buat keluarga dan masyarakat

Sumber:http://www.jawaban.com/read/article/id/2014/07/16/9/140716121614/Suwarno%3A-Ekspresikan-Kasih-Tuhan-Melalui-Anak-Jalanan
READ MORE - Kesaksian: Suwarno, Ekspresikan Kasih Tuhan Melalui Anak Jalanan

Kesaksian: Angelique Widjaja, Bayar Harga Demi Raih Prestasi di Bidang Tenis

Petenis Angelique Widjaja adalah salah satu atlet muda berprestasi Indonesia lewat prestasinya merebut gelar juara Wimbledon Junior  (2001) dan Rolland Garros Junior (2002). Meski sangat berbakat di bidang tenis, yang diakuinya sebagai panggilan hidupnya, namun wanita kelahiran Bandung, 12 Desember 1984 ini tak lekang dari beragam tantangan untuk mencapai puncak prestasi itu.
Angie sapaan akrabnya, mengakui bahwa bakatnya di bidang tenis adalah anugerah yang telah ia terima sejak kecil. Sehingga dengan maksimal Angie akhirnya mampu merebut kedua gelar bersejarah itu di sepanjang karirnya.
"Saya bangga bukan karena saya bisa juara aja, karena diantara yang dua ini (Wimbledon dan Roland Garros) hanya orang Indonesia yang menang, itu hanya saya. Tapi di dalam lubuk hati saya yang paling dalam, itu yang saya paling senang karena saya bisa membanggakan orang tua saya," jelas Angie.
Namun disaat Angie berada di puncak kariernya, tahun 2004 Angie mengalami cedera pada lututnya dan mengharuskannya beristirahat dari lapangan tenis. Hampir setahun lamanya, Angie harus menelan pil pahit berhenti secara total dari lapangan. "Habis operasi pertama itu kan saya harus stop selama hampir setahun, fisikkan dari nol lagi karena nggak pernah kelihatan di lingkungan tenis itu setahun cukup lama. Saya benner-benner latihannya dari titik nol, dari titik yang paling bawah. Latihannya masih kayak orang yang baru main tenis, tapi menurut saya itu harga yang harus saya bayar karena nggak ada sesuatu pun yang bisa saya dapat dengan instan," tuturnya.
Untuk kembali lagi bermain di lapangan, latihan itu pun harus dijalankannya dengan kerja keras demi kembali meraih prestasi dalam bidang tenis. Tahun 2007, Angie kembali merebut juara di ajang tim wanita Indonesia dan memenangkan Asean Games, dilanjutkan dengan prestasinya di ajang ITF di Jakarta sekaligus sebagai akhir dari prestasinya di dunia tenis. Entah alasan apa, ia merasa sangat yakin mengambil keputusan untuk gantung raket saat masih di usia produktif.
"Tuhan memberikan saya kekuatan, ketika saya harus mengambil keputusan itu, saya damai sejahtera sih. Saya nggak pernah menyesal dengan keputusan yang saya ambil".
Setelah pensiun dari lapangan tenis, Angie pun aktif membangun sekolah tenis khusus untuk anak-anak di Jakarta. Ia berharap dengan akademi olahraga ini, tenis dapat menjadi olahraga yang banyak diminati di Indonesia.

Sumber: http://www.jawaban.com/read/article/id/2014/08/04/9/140804193530/Angelique-Widjaja%2C-Bayar-Harga-Demi-Raih-Prestasi-di-Bidang-Tenis
READ MORE - Kesaksian: Angelique Widjaja, Bayar Harga Demi Raih Prestasi di Bidang Tenis