AJARAN KRISTEN SEBAGAI PENUNTUN HIDUP

ajaran kristen tentang banyak hal

Yesus berkata: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Minggu, 24 Februari 2013

Kesaksian : George Frederick Handel

Tuhan itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk.
Mazmur 145:14

George Frederick Handel mungkin adalah komponis yang namanya tidak seterkenal Mozart atau Beethoven. Namun Anda semua pasti mengenal lagu ‘Halleluyah’, atau lebih tepatnya opera ‘The Messiah’. Lagu ini adalah masterpiece Handel. Seorang penulis biografi Handel menulis, "karya tersebut akan tetap menjadi karya terbesar dalam sejarah penggubahan lagu/musik. Mungkin untuk selamanya". 

Handel sebenarnya sudah mulai terkenal sejak usia 8 tahun. Sejak usia itu ia sudah mahir bermain organ dan pernah tampil di depan Pangeran Frederick III dari Berlin. Bahkan kota-kota besar di Eropa juga pernah disambanginya. Namun nama besar bukanlah jaminan. Karena situasi, Handel kehabisan uang, nyaris bangkrut dan antusias penonton tak lagi berpihak padanya. Itu makin diperparah oleh kesehatannya yang semakin memburuk (terkena stroke hingga tangan kanannya lumpuh). Meski akhirnya bisa disembuhkan, Handel memutuskan untuk pensiun dari dunia musik yang telah membesarkannya.

Empat bulan setelah konser perpisahannya, seorang bernama Charles Jennings memberikan sebuah buku musik kepada Handel. Buku itu ditulis berdasarkan kehidupan Yesus. Tak disangka ternyata buku itu mampu mengubah hidup Handel. Ia pun menulis karya-karyanya lagi. Kreativitasnya mengalir terus menerus selama 21 hari tanpa henti dan dalam waktu tiga minggu itu, ia berhasil merampungkan ‘Messiah’ setebal 260 halaman, dengan bobot karya yang tak tertandingi.

Nama besar Handel sempat menjadi contoh sebuah kegagalan. Namun itu bukanlah penghambat untuk seseorang kembali bangkit dan menjadi sukses. Gagal bukanlah aib, kita bisa berkali-kali gagal, namun apakah kita bisa bangkit lagi atau tidak itu intinya. Mungkin sekarang kita sedang terpuruk akibat sesuatu yang kita lakukan atau alami. Namun dari situ, bukan mustahil akan muncul karya masterpiece kita. Asalkan kita berani untuk memulai lagi dan siap menanggung risiko, sukses tentu akan bisa diraih.

Terpuruk tidaklah buruk, berani bangkit akan melejit
READ MORE - Kesaksian : George Frederick Handel

Humor : Kingkong Badannya Besar

Seorang guru sekolah minggu yang masih baru, saat mengajak murid-muridnya menyanyi, tampak grogi.

Guru: "Adik-Adik, kita akan menyanyikan "Kingkong Badannya Besar". Siapa yang pernah lihat kingkong?"

Murid-murid: (berebut) "Saya..!!!" (sambil mengangkat tangan)

Guru: "Di mana?"

Alex yang terkenal paling bandel menjawab dengan santai sambil menunjuk pada sang guru, "Di sini".
READ MORE - Humor : Kingkong Badannya Besar

Sabtu, 09 Februari 2013

Cerita Inspiratif: Teguran Untuk Si Penggosip

Seorang wanita menyebarkan sepotong berita yang memalukan mengenai tetangganya. Dalam beberapa hari, seluruh desa mengetahui berita yang memalukan itu. Dan, orang yang menjadi korbannya merasa sakit hati dan terpukul.
 
Kemudian, wanita yang menyebarluaskan berita buruk tersebut mengetahui bahwa berita itu betul betul salah. Dia menyesal dan mendatangi orang tua yang bijak untuk meminta nasihat mengenai apa yang dapat ia lakukan untuk memperbaiki kesalahannya itu.

Pergilah ke pasar ,kata orang tua bijak itu, dan belilah seekor ayam. Sembelihlah kemudian, dalam perjalanan pulang, cabuti bulu bulunya dan buang satu per satu disepanjang jalan.

Meskipun terkejut mendengarkan itu, dia melakukan apa yang disarankan orang bijak itu kepadanya. Namun, ia merasa masih belum bisa memperbaiki kesalahannya menyebarluaskan berita bohong itu kepada seluruh penduduk desa. Keesokan harinya, ia kembali mengunjungi orang tua bijak itu dan menanyakan kembali persoalannya. Orang bijak itu berkata, Hmm….kalau begitu, sekarang pergilah dan kumpulkanlah semua bulu yang telah kaubuang kemarin dan bawa kembali kepadaku.

Wanita itu pun menyusuri jalan yang telah dilaluinya kemarin dan berusaha mengumpulkan bulu bulu ayam yang telah dicabutinya. Sayang, angin telah menerbangkan bulu bulu itu kesegala penjuru sehingga mustahilah ia bisa mengumpulkan semuanya. Setelah mencari cari selama berjam jam, ia kembali dan hanya bisa membwa tiga helai bulu. Lalu, ia kembali menemui orang bijak itu.

Lihatlah! kata orang bijak itu, sangat mudah mencabuti bulu ayam dan melemparkannya kemana anda suka, Namun, sangat tidak mungkin mengumpulkannya kembali. Begitu pula dengan gossip dan berita bohong. Tidak sulit untuk menyebarluaskan rumor, tetapi sekali terlempar, Anda tidak akan pernah secara penuh memperbaiki kesalahan anda.

Sumber : http://renunganhidup.com
READ MORE - Cerita Inspiratif: Teguran Untuk Si Penggosip

Rabu, 06 Februari 2013

Renungan Harian : Jujur

Bacaan: Yunus 1:1-17
Nats: Yunus 1:12
"Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu."

Sangat sedikit manusia yang dengan jujur berani mengakui kesalahannya. Daripada bersikap jujur, banyak manusia lebih suka berkelit dan memakai seribu satu macam dalih dan alasan demi pembenaran diri. Bahkan tak segan-segan mereka mengorbankan orang lain untuk dijadikan kambing hitam. Dia yang berbuat kesalahan tapi orang lain lah yang harus menanggung akibatnya. 

Kita menyalahkan lingkungan kerja yang kurang baik, padahal itu hanya untuk menutupi kesalahan yang kita lakukan. Kita menyalahkan orang tua untuk kegagalan kita. Kita menyalahkan gereja karena iman kita lemah. Kita menyalahkan Tuhan atas dosa yang kita perbuat. Aneh memang, tapi itulah yang terjadi! Padahal seharusnya jika iman kita lemah, itu adalah tanggung jawab kita sendiri, bukan tanggung jawab gereja. Atau jika kita jatuh ke dalam dosa, itu adalah masalah kita bukannya kita menyalahkan Tuhan karena Ia membiarkan kita melakukan dosa itu.

Aksi pembenaran diri dan saling melemparkan kesalahan sebenarnya sudah ada sejak dulu. Manusia pertama yang memulainya. Bukannya mengakui kesalahannya, Adam justru menyalahkan Hawa sebagai biang kerok bahkan ia juga menyalahkan Tuhan atas insiden ini, seolah-olah Tuhan dipersalahkan karena menempatkan Hawa di sisinya. Gantian Hawa menyalahkan si ular yang menggodanya. 

Meski Yunus lari dari panggilan Tuhan, saya masih melihat ada sikap positif dari Yunus yang bisa kita tiru, kejujurannya dalam mengaku kesalahan. Saat badai menggoncangkan kapal yang ditumpanginya, ia mengakui dengan jujur bahwa semuanya ini terjadi karena kesalahan yang ia buat. Yunus tidak menyalahkan alam yang tak bisa diajak kompromi. Yunus tak menyalahkan nahkoda yang tak becus mengemudikan kapal.Yunus tak menyalahkan Tuhan sebagai pengatur alam. Yunus tak mengelak dan mengkambinghitamkan orang lain untuk menutupi kesalahannya. Mungkin karena kejujurannya inilah Yunus diberi kesempatan oleh Tuhan hidup saat berada di perut ikan selama tiga hari. 

Apa reaksi yang kita buat saat melakukan kesalahan? Akankah kita bersikap jujur untuk mengakui kesalahan itu dan melakukan perbaikan diri, ataukah kita lebih suka berkelit, berdalih, mencari alasan dan menyalahkan orang lain?

Jika hari Anda melakukan kesalahan, akuilah dan katakanlah dengan jujur.

Sumber : http://www.renungan-spirit.com
READ MORE - Renungan Harian : Jujur

Kamis, 24 Januari 2013

Kesaksian Robby Sugara : Dipulihkan untuk Memulihkan

Tahun 1984, industri perfilman Indonesia jatuh, membuat saya harus mencari cara lain untuk tetap mendapatkan penghasilan. Teman saya mengajak untuk berbisnis. Kami kemudian membuka sebuah perusahaan, dengan harapan nama Robby Sugara sebagai direkturnya bisa menjadi hoki dan menarik banyak transaksi bisnis. Tetapi harapan perusahaan itu akan menghasilkan keuntungan besar ternyata tidak terwujud. Waktu berjalan, perusahaan malah menyedot aset pribadi saya untuk membayar gaji karyawan dan biaya-biaya lain dalam menjalankan perusahaan setiap bulannya. Keadaan finansial saya semakin terjepit, menghidupi seorang istri dan 7 orang anak sungguh sulit karena saya tidak memiliki pendapatan, justru pengeluaran sangat besar untuk keluarga dan perusahaan. Di tengah krisis tersebut, rekan bisnis saya mengenalkan saya dengan seorang wanita, yang menurutnya memiliki koneksi dan relasi bisnis luas sampai ke pejabat tinggi dan keluarga Cendana pada waktu itu.

Rekan saya berharap dengan nama besar saya sebagai artis dan wajah ganteng bisa membuat wanita itu tertarik memberikan banyak bisnis besar pada kami. Harapannya terkabul, wanita itu langsung tertarik pada saya. Bahkan bukan hanya urusan bisnis saja, hubungan pribadi kami semakin hari menjadi semakin dekat dan keluarga semakin terabaikan. Nama besar, masalah perusahaan, dan menafkahi keluarga menjadi beban yang sangat berat bagi saya, yang saya rasa sudah tidak sanggup lagi untuk menanggungnya. Dan tanpa pikir panjang lagi, saya memutuskan untuk meninggalkan istri dan 7 orang anak saya yang masih kecil-kecil (yang paling bungsu berusia 9 bulan), untuk menanggalkan beban saya. Bagaimana nanti anak-anak saya makan, di mana mereka akan tinggal, dan bagaimana mereka akan bersekolah? Saya sudah tidak peduli lagi, hanya satu yang saya pikirkan saat itu, yaitu kebebasan dan kesenangan yang akan saya dapatkan.

Saya pergi jauh dari Jakarta saat itu, meninggalkan semuanya memulai hidup baru bersama wanita itu. Kami membuka usaha rumah penginapan di pinggir pantai, juga berbisnis batu mulia. Usaha itu berjalan sangat baik, sehingga dari hasilnya kami dapat jalan-jalan keluar negeri setiap tahunnya. Selama lebih dari 10 tahun saya tidak tahu-menahu mengenai keluarga saya, saya tidak tahu sama sekali mengenai anak-anak saya, apakah mereka masih hidup, apakah mereka masih makan, apakah mereka masih bersekolah, saya tidak tahu sama sekali. Dalam segala kelimpahan yang saya miliki, saya bahkan tidak pernah berpikir untuk berbagi dengan anak-anak saya dan membantu kehidupan mereka.

Dalam satu kesempatan, saya bertemu dengan mereka semua. Mereka sudah besar-besar sehingga saya hampir tidak lagi mengenali mereka. Hati saya seperti teriris-iris saat mengetahui mereka dengan susah payah berhasil bertahan sepeninggalan saya. Mereka semua masih bersekolah, bahkan ada yang sudah menyelesaikan sekolahnya dan mulai bekerja.

Apa yang telah saya lakukan, tidak ada satu pun andil saya dalam kehidupan mereka. Tapi yang membuat saya semakin tersentuh adalah tidak ada satu pun dari kata-kata kebencian dari mereka, kata-kata menyalahkan saya yang keluar dari mulut mereka. Mereka tidak pernah menyinggung mengapa saya begitu tega menelantarkan dan meninggalkan mereka. Waktu yang ada dimanfaatkan benar-benar oleh mereka untuk melepaskan kerinduannya, yang ada saat itu hanya sukacita luar biasa karena pertemuan itu. Hanya satu kata permintaan yang mereka ucapkan dalam pertemuan itu, "Papi, pulang ...." Sebuah kata sederhana, namun sangat sulit untuk saya kabulkan. Seseorang bisa dengan mudah terjerumus dalam perselingkuhan, hanya semenit ia sudah terikat dalam perselingkuhan, namun sangat sulit kalau bisa dibilang tidak mungkin untuk lepas dari jerat perselingkuhan.

Tapi setelah pertemuan itu, saat-saat kami bertemu terus mengganggu saya. Begitu indah dan tidak dapat terganti apa pun. Begitu berlimpahnya hidup saya, namun tidak dapat menggantikan momen-momen yang indah bersama dengan mereka. Kerinduan saya untuk dapat terus bersama dengan mereka semakin lama semakin besar, hingga membuat saya tidak berdaya, hanya mampu berdoa, "Tuhan, persatukan saya kembali dengan mereka." Dalam pertemuan berikutnya, dalam haru saya berkata pada mereka, "Papa janji akan pulang...." Sebuah janji yang saya tidak tahu bagaimana saya mewujudkannya. Ternyata janji itu menyalakan kembali harapan mereka yang hampir padam, anak-anak terus dengan gencar mendoakan kepulangan saya. Setiap tahun mereka membeli hadiah khusus untuk saya, pada hari ulang tahun putri saya yang sulung, karena mereka pikir saya akan memberi kejutan pulang pada hari ulang tahun mereka. Tapi apa yang terjadi, saya tidak pulang. Mereka tidak putus harapan, berdoa lagi, lalu membeli kado lagi khusus buat saya, siap menghadapi kejutan kepulangan saya. Hal itu terjadi setiap tahun, tahun demi tahun, mereka menanti, dan selalu saya kecewakan.

Januari 1998, peristiwa yang dinanti-nantikan mereka pun terjadi, saya dipulangkan oleh wanita itu, bahkan diantar sampai ke depan rumah saya pada tengah malam. Saya tidak pernah bertemu dengannya lagi sejak saat itu. Peristiwa pemulangan saya itu menunjukkan bukan kuat gagah saya melepaskan diri dari jerat itu, tapi itu semata-mata karya Tuhan yang ajaib. Bukan saya yang berusaha dan pulang sendiri meninggalkan semua kenikmatan duniawi itu, melainkan mukjizat Tuhan yang memulangkan saya. Peristiwa itu disambut sukacita luar biasa oleh anak-anak saya, penuh haru dan kerinduan. Walaupun istri saya tidak merespons kepulangan saya, saya memakluminya. Selama 14 tahun kami terpisah, dan setelah semua kejahatan yang saya lakukan padanya, ia butuh waktu untuk menerima saya lagi. Saya tahu bahwa Tuhanlah yang menguasai hati keluarga saya, untuk mau menerima orang yang telah sekian lama menyakiti hati mereka, tidaklah mungkin jikalau bukan karena campur tangan Tuhan. Mereka diberikan-Nya kebesaran hati dan kasih untuk dapat menerima saya lagi. Kalau bukan karena campur tangan Tuhan, itu tidak mungkin.

Setelah kembalinya saya ke rumah, semuanya tidak selesai begitu saja. Saya menghadapi sebuah pergumulan baru. Saya harus mengambil lagi beban yang saya tinggalkan, yaitu menghidupi keluarga saya. Saya tidak punya apa-apa sama sekali saat pulang pada mereka. Hanya membawa satu kantong plastik kecil berisi baju kotor. Saya memutar otak, bagaimana mendapatkan penghasilan. Kemudian saya mulai menghubungi teman-teman lama saya dalam dunia film, berharap nama besar Robby Sugara pada masa lalu masih bisa dijual saat ini. Saya menanti-nanti, tidak juga ada jawaban. Sampai akhirnya Tuhan tegur saya, agar saya tidak mengandalkan kekuatan saya, melainkan mengikuti jejak anak-anak saya yang hanya mengharapkan Tuhan untuk memulangkan saya. Saya menyadarinya, dan meminta ampun kalau saya masih mengandalkan nama besar. Dan menyerahkan sepenuhnya, segala sesuatunya ke dalam tangan Tuhan.

Tidak lama kemudian, jawaban Tuhan datang, saya mendapat peran dalam sebuah sinetron yang masih terkenal sampai saat ini, yaitu "Tersanjung". Setelah sinetron itu berkat Tuhan mengalir, hingga saya boleh diizinkan menyelesaikan puluhan judul sinetron. Saya sungguh rindu untuk melayani Tuhan, namun pelayanan saya sering kali terhambat dengan jadwal syuting yang sering berubah-ubah. Bila saya sudah dijadwalkan untuk bersaksi pada sebuah tempat, mendadak jadwal syuting juga berubah dan bentrok dengan jadwal melayani. Dengan sangat terpaksa saya harus mengikuti syuting karena sudah terikat kontrak. Hal ini membuat saya takut untuk menerima pelayanan kesaksian, takut saya mengecewakan jemaat yang mengundang, karena saya tidak bisa datang, bentrok dengan jadwal syuting yang berubah.

Saya berdoa pada Tuhan akan kerinduan besar saya untuk melayani Dia, dan keadaan pekerjaan saya saat itu. Pada sebuah sinetron yang saya perankan berjudul "Cintailah Aku", saya melihat judul dari sinetron itu memakai huruf besar untuk tulisan AKU. Saya percaya, ini adalah sebuah tanda dari Tuhan, agar saya melayani Dia sepenuhnya. Agar saya betul-betul mencintai hanya Dia seorang, meninggalkan segala sesuatunya, dan menyerahkan seluruh pemeliharaan hidup saya dalam tangan-Nya. Maka saya memutuskan untuk meninggalkan dunia keartisan, dan terjun sepenuhnya kepelayanan. Sungguh sebuah sukacita dapat melayani Tuhan Yesus yang telah memulihkan hidup dan keluarga saya. Orang bertanya, lalu dari mana saya memenuhi kebutuhan materi keluarga. Saya hanya tersenyum, Tuhan Yesus pasti mencukupi segala sesuatunya. Saya sudah melihat dan merasakan kebaikan-Nya, Ia selalu mencukupkan apa yang saya butuhkan, terpujilah nama-Nya.

Sumber : VOICE Indonesia, Edisi 88, Tahun 2007
READ MORE - Kesaksian Robby Sugara : Dipulihkan untuk Memulihkan

Minggu, 13 Januari 2013

Humor : Berdoa Terlebih Dahulu

Seorang pendeta punya hobi main bilyar dan tentu saja dia jadi mahir sekali dalam permainan itu.

Tetapi pada suatu malam setelah dia menang tujuh kali permainan secara berturut-turut teman-temannya semua pada protes : "Pak, Pendeta curang, ah! Sebelum sodok bola berdoa dulu, sih!!
READ MORE - Humor : Berdoa Terlebih Dahulu

Senin, 07 Januari 2013

Cerita Inspiraif : Suara Sang Katak

Sekelompok katak berjalan melewati hutan, dan dua di antaranya terperosok ke dalam sebuah sumur yang dalam. Katak yang lain berkumpul di sekitar sumur itu. Ketika mereka melihat betapa dalamnya sumur itu, mereka berkata pada kedua katak itu sebaiknya mereka mati saja.

Kedua katak itu tidak menghiraukan komentar kawan-kawannya itu dan berusaha melompat keluar dari sumur dengan segenap kekuatan mereka. Katak-katak yang lain berteriak agar mereka menyerah, sebaiknya mereka mati saja. Akhirnya salah satu katak mengikuti yang diteriakkan teman-temannya dan menyerah. Ia jatuh dan mati.

Katak yang lain terus meloncat sekuat ia bisa. Sekali lagi, kawan-kawannya berteriak agar katak itu menghentikan usahanya yang sia-sia dan mati saja. Tetapi katak itu berusaha makin kuat dan akhirnya berhasil keluar. Setelah berada di luar, katak-katak yang lain bertanya, “Apa kau mendengar teriakan kami?” Katak itu menjelaskan pada kawan-kawannya bahwa ia tuli. Ia mengira bahwa kawan-kawannya menyemangati dia terus menerus.

Cerita ini mengajarkan kita dua hal:
  • Lidah kita memiliki kekuatan mati dan hidup. Kata-kata yang membangkitkan semangat pada seseorang yang sedang dalam kesulitan dapat mengangkat dia dan menolong dia melewati hari-harinya.
  • Kata-kata yang meruntuhkan semangat dapat membunuh orang itu. Hati-hatilah pada apa yang Anda ucapkan. Berbicaralah positif pada orang-orang yang Anda jumpai.
Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita, dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang sama keluar berkat dan kutuk. Saudara-saudaraku, hal ini tidak boleh demikian terjadi.

Sumber: Renunganhidup.com
READ MORE - Cerita Inspiraif : Suara Sang Katak