AJARAN KRISTEN SEBAGAI PENUNTUN HIDUP

ajaran kristen tentang banyak hal

Yesus berkata: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Kamis, 23 Juni 2011

Kesaksian: Hidup Diperbudak Nafsu

Kisah Nyata
Merry, seorang wanita asal Palembang. Pada usia 21 tahun, ia dipaksa menikah oleh pria pilihan mamanya. Namun pernikahan itu tidak seperti yang Merry bayangkan. Di dalam kehidupan rumah tangganya, Merry tidak mendapatkan kepuasan dalam hubungan suami istri. Merry sendiri memiliki sifat seorang pemberontak. Jadi terhadap suaminya sendiri ia melawan sehingga percekcokan di dalam rumah tangganya menjadi hal yang biasa terjadi.

Saat anak terakhirnya lahir, Merry mulai mengenal dunia malam. Merry mulai mengenal banyak sekali laki-laki, sampai akhirnya ia menjabat sebagai seorang wanita panggilan yang bisa dibayar. Merry sangat menikmati apa yang dilakukannya saat itu. Ia mendapatkan uang, mendapatkan apa yang ia inginkan. Tipe laki-laki seperti apapun bisa ia dapatkan. Tapi Merry sama sekali tidak mengabaikan tugas rumah tangganya untuk mengurus anak-anak. 

Ketika perselingkuhan Merry sering dipergoki oleh suaminya, Merry tetap menjalankan apa yang ia senangi itu. Merry sama sekali tidak memperdulikan perasaan suaminya. Setiap laki-laki yang Merry lihat, apalagi yang terlihat memiliki uang banyak, dengan segera didekati oleh Merry atau bahkan sebaliknya para pria itu yang mendekati Merry.

Tak tahan melihat perselingkuhan Merry, suami Merry pun memutuskan untuk berpisah dengannya. Awalnya Merry melakukan kesenangannya itu hanya demi uang namun dalam perjalanan hidupnya, akhirnya Merry mendambakan seorang laki-laki. Merry tak dapat hidup tanpa laki-laki dan seks.

Setelah tujuh tahun hidup bersama dengan seorang pria, Merry baru menyadari bagaimana ia sebagai seorang wanita hidup di atas penderitaan wanita lain. Pria ini adalah pria terakhir yang menjadi selingkuhan Merry karena Merry tidak dapat melupakan perlakuannya yang amat menyakiti hati. 

Suatu hari Merry membutuhkan uang untuk membayar uang sekolah anaknya. Tetapi pria itu memperlakukan Merry seperti seorang pelacur jalanan. Ketika pria itu memberikan uang, saat itu juga dia minta dilayani berhubungan seks. Padahal pada saat itu Merry tidak ingin melakukannya. Saat itu Merry sedang risau karena pembayaran uang sekolah anaknya sudah terlambat. 

Dari situlah mulai timbul perasaan benci terhadap pria itu dan cara hidupnya yang salah. Merry mencoba untuk menolak dan protes sampai akhirnya timbul dendam kepada pria itu, mengapa jika dia memberikan uang, Merry harus melayani kebutuhan seks dia terlebih dahulu. Namun tidak ada pilihan, mau atau tidak mau Merry tetap melayaninya pada saat itu.

Perasaan Merry pun terluka, kebencian dan dendam timbul di hatinya. Tidak ada kasih sama sekali, yang ada hanyalah nafsu belaka. Namun Merry tak dapat melakukan apa-apa karena ia memang membutuhkan uang itu. Tapi, semenjak saat itu Merry memutuskan untuk berhenti dari cara hidupnya yang salah. Apa yang Merry harapkan, kasih sayang dan perlindungan dari seorang pria, tidak pernah ia dapatkan. Yang ia dapatkan justru hidup yang hancur dan nama baik yang tercemar.

Akhirnya Merry bertekuk lutut di kaki Tuhan dan Merry memohon agar Tuhan mengubah hidupnya dan menolongnya untuk menahan gejolak birahi itu yang datang begitu kuat. Merry hanya dapat berteriak, “Tuhan, tolong saya Tuhan… tolong saya…”
Merry sering memukul tangannya di tembok dan mengakui di hadapan Tuhan, ia tak dapat menahan hawa nafsu ini. 

“Saya berdoa minta tolong karena sangat sulit menahan hawa nafsu itu. Hingga akhirnya saya dibebaskan. Perasaan itu hilang dengan sendirinya. Tuhan menjamah saya. Dan sampai detik ini saya menjadi orang bebas berkat pertolongan Tuhan,” ungkap Merry penuh ucapan syukur.
Merry akhirnya dibebaskan dari keterikatannya akan seks dan Merry mendapati perasaan itu hilang dengan sendirinya. Tuhan menjamah hidup Merry dan perasaan itu tak dirasakannya lagi sampai saat ini. (Kisah ini sudah ditayangkan 17 Maret 2008 dalam acara Solusi di SCTV).
READ MORE - Kesaksian: Hidup Diperbudak Nafsu

Rabu, 22 Juni 2011

Renungan Harian: Hidup Melekat Kepada Kristus

Yohanes 15.4-5
Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” 

Sebuah pohon yang bertumbuh besar akan mempunyai banyak cabang serta ranting. Pohon itu akan terus bertumbuh hingga menghasilkan buah pada waktunya. Dan buahnya akan dinikmati banyak orang. Tetapi jika ada cabang atau ranting yang rusak atau patah maka cabang/ranting tersebut akan menjadi kering, karena sari makanan tidak akan bisa mengalir ke cabang/ranting tersebut. Dan tentunya tidak akan ada buah yang dapat dihasilkan dari cabang/ranting tersebut.

Sang pemilik pohonpun juga akan membersihkan pohon tersebut dan memotong cabang/ranting yang dianggap tidak diperlukan. Cabang/ranting yang rusak dianggap tidak akan menghasilkan buah dan merusak keindahan pohon. Dalam kitab Yohanes, kehidupan rohani umat Kristiani digambarkan seperti cabang/ranting pohon. Sedangkan batang utamanya adalah Kristus. Ketika hidup kita melekat dengan baik kepada Kristus, maka aliran kehidupan, sukacita, damai sejahtera, kekuatan, penghiburan, hikmat dan lainnya akan mengalir bagaikan sari makanan yang mengalir pada ranting pohon yang baik. Kasih Kristus akan senantiasa mengalir dalam hidup kita dan terang Kristus dari hidup kita. Hidup kita akan menghasilkan buah yang baik yang dapat dinikmati oleh orang banyak. Kebaikan hati kita akan diketahui oleh orang banyak.

Tanpa Kristus hidup kita akan menjadi hampa. Segala yang kita miliki tidak akan berarti tanpa Kasih Kristus yang mengalir dalam hidup kita.  Biarlah hari-hari yang ada kita lalui dengan kehidupan yang intim dengan Kristus. Jangan biarkan berkat terlepas dari kehidupan kita karena kita lupa untuk bersekutu denganNya. Raih kehidupan yang penuh dengan berkat berkelimpahan di dalam Kristus Yesus. Haleluya!
Courtesy of PelitaHidup.com
READ MORE - Renungan Harian: Hidup Melekat Kepada Kristus

Senin, 20 Juni 2011

Humor: Berbohong

Tono adalah murid yang sangat nakal dan sering membolos sekolah minggu. Pada suatu hari ia ditegur oleh guru sekolah minggunya, "Tono, kenapa kamu sering bolos sekolah minggu? Kemarin sudah ketiga kalinya kamu bolos."

Tono menjawab, "Saya tidak bolos, Kak. Kemarin adik saya sakit jadi saya harus menjaga adik, karena orang tua saya bekerja."

Kakak pembinanya menukas, "Eh, kamu bohong ya. Lha kemarin kakak melihat adikmu sehat-sehat saja."

Tono berbalik menjawab dengan santai, "Lha, Kakak juga bohong. Saya kan tidak punya adik." (Sumber : Guruku Super Lucu)
READ MORE - Humor: Berbohong

Minggu, 19 Juni 2011

Renungan Harian: Bertumbuh dan Menjadi Dampak yang Baik

Yoh 1:42
"Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: "Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)."
Dalam hidup ini kita sebenarnya tidak hanya bertumbuh namun juga apakah dalam pertumbuhan kita dapat memberikan sebuah dampak bagi orang lain?
Saat ini siapa yang tidak tahu dengan yang namanya Yahoo?? Bagaimana tidak beberapa tahun yang lalu, dimana seseorang yang bernama Jerry Yang berusaha untuk membeli yang namanya mesin “Yahoo”, dimana awalnya hanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Seiring dengan perkembangannya, ia menyadari bahwa banyak orang yang juga membutuhkan, sehingga ia berupaya untuk terus mengembangkannya hingga dapat memberikan dampak bagi orang lain. Hingga saat ini, Yahoo telah dikenal diseluruh penjuru dunia, baik email, yahoo messenger, bahkan kita bisa melakukan bisnis melalui situs ini. Hal ini terjadi karena adanya tujuan, ketekunan dan kekreatifan dari sang penemu yahoo.
Dalam injil Yohanes pun tertulis bahwa Simon yang dibawa oleh Andreas kepada Yesus, yang kemudian Yesus berkata bahwa ia tidak lagi menjadi Simon melainkan Petrus. Simon yang hanya seorang nelayan akhirnya mampu menjadi orang yang berdampak bagi kehidupan di bumi. Dalam kisahnya Simon sempat kembali bekerja menjadi nelayan, dan saat Yesus menemuinya Ia berkata : ” Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?. Jawab Petrus kepadaNya : Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau”. Yesus menjawab : Gembalakanlah domba-dombaKu..
dan Petrus pun meninggalkan semua nya, mengerjakan pekerjaan yang Tuhan Yesus perintahkan kepadanya. Ia tahu tujuan hidupnya bagi Tuhan, ia tekun dalam Tuhan. Hingga akhirnya membawa dampak bagi kehidupan kristiani sampai saat ini.
Kita pun sebagai anak-anakNya, yang telah dipilih oleh Allah untuk berjalan bersamaNya dan melakukan pekerjaan2Nya., patutlah kita tekun dalam Kristus, lakukan perubahan dalam hidupmu dan berikanlah dampak positif bagi sekitarmu sehingga dunia akan melihat bahwa Kristus ada dalam hidup kita, memuliakan namaNya, sebagai Tuhan yang hidup.
Dalam kehidupan kita, apapun pekerjaan kita bertumbuhlah dan lakukan perubahan untuk memberikan dampak yg baik pula bagi orang lain. Banyak orang bertumbuh dalam Tuhan, mengenal Tuhan, mengerti suara Tuhan namun masih banyak juga yang tidak memberikan dampak, hal ini dikarenakan kita tidak tahu apa sebenarnya tujuan hidup kita. Jika seandainya kita telah tahu apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita, justru kita yang tidak tekun sehingga tidak mampu menjadi berkat bagi orang lain.
Jika Simon dengan kesederhanaannya mampu memberikan dampak positif bagi kehidupan kristiani di dunia ini, melalui ketekunannya.. Kita sebagai anak-anak Allah pasti juga bisa jadi berkat bagi orang lain. Temukan tujuan hidup kita, minta petunjuk Kristus dan bertekunlah dalam Tuhan. Lakukan pekerjaanNya, setia.. sehingga kita dapat semakin bertumbuh luar biasa dalam Tuhan dan memberikan dampak baik serta berkat bagi orang lain. Mencerminkan hidup Kristus dalam hidup kita.
READ MORE - Renungan Harian: Bertumbuh dan Menjadi Dampak yang Baik

Cerita Inspiratif: Pengampunan

Ketika Karol Wojtyla dulu masih mengajar di sebuah universitas di Polandia, ia mempunyai mahasiswa yang sangat dekat dengannya yang bernama Adam Zielinski. Ia tidak menyadari/ curiga bahwa sebenarnya muridnya itu adalah mata-mata dikirim oleh Partai Komunis di pemerintahan Polandia baru pasca rezim Nazi, untuk mencari-cari kesalahan yang bisa dipakai untuk menangkapnya. Namun, disepanjang pengamatan spionase-nya itu, Zielinski tidak menemukan hal-hal subversif yang dilakukan Wojtyla yang cukup sebagai bukti untuk menjadikannya tersangka dalam keadaan politik yang belum menentu di negara itu. Yang terjadi sebaliknya, ia justru makin mengenal Wojtyla sebagai seorang hamba Tuhan yang sungguh mendedikasikan hidupnya untuk Tuhan, juga bagi bangsa dan negaranya. Akhirnya Zielinski meminta maaf dihadapan gurunya itu.


Melihat dan mendengar pengakuan Zielinski yang mengakui kesalahannya dengan menyesal dan hancur hati, Wojtyla mengatakan "if you made mistakes, you already paid for them", maksudnya, penyesalannya yang diungkapkan itu itu sudah cukup untuk membayar kesalahannya. Wojtyla, dengan gampang sekali mengampuninya, ia sama sekali tidak bertanya mengapa ia melakukan perbuatan jahat kepadanya, apa latar belakangnya, ataupun jengkel, marah dan dendam. Zielinski tak pernah menduga bahwa ia mendapatkan maaf dan ampun dari gurunya segampang itu, padahal dialah yang selama ini menyebabkan gurunya itu menderita kesulitan akibat tekanan-tekanan partai komunis. Mengapa Wojtyla begitu mudah mengampuninya? Sebab, harga dari jiwa yang menyesal itu lebih mahal, dan rasa dendam sama sekali tidak sebanding dengan indahnya pertobatan.


Ini salah satu kisah yang diceritakan dalam film "Karol: A Man Who Became Pope", kisah hidup Pope John Paul II, yang diperankan sangat bagus oleh aktor Polandia Piotr Adamczyk. Dan juga musik latar yang bagus dari salah satu komposer terbaik Ennio Morricone. Dan film ini cocok sebagai wujud penghormatan/ tribute bagi salah seorang pemimpin terbaik Gereja, bahkan salah seorang pemimpin terbaik dunia, yang banyak kita kenal keteladanan pribadinya.


ketika sudah menjadi Paus, ia juga melakukan pengampunan yang dicatat dalam sejarah, seorang pemuda Turki Mehmet Ali Agca pada 13 Mei 1981, menembaknya di lapangan Santo Petrus. Setelah sembuh dari lukanya, ia bergegas menemui pemuda itu. Ia merangkul dan memaafkan orang yang berniat membunuhnya itu.
READ MORE - Cerita Inspiratif: Pengampunan

Rabu, 15 Juni 2011

Renungan Harian: Ada Pengorbanan, Ada Hasil

2 korintus 11:24-25 :
"Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut."

Paulus menceritakan betapa beratnya beban yang ia pikul ketika ia melakukan pelayanan untuk memberitakan injil kerajaan surga. Mungkin satu slogan yang cocok untuknya ialah " tiada hari tanpa penderitaan" Namun yang unik di sini adalah bahwa Paulus terus melayani dan melayani kehendak Tuhan walaupun rintangan besar menghadangnya. Pelayanan Paulus berhasil dan saat ini kita bisa menikmati buahnya dengan pengenalan kita akan Yesus Kristus.

Ternyata, menjadi anak Tuhan yang mempunyai kesungguhan untuk mengenal & melayani kehendak Tuhan itu butuh pengorbanan. Waktu yang berjalan akan menunjukkan seperti apakah "buah" pengenalan kita akan Tuhan.

Satu contoh di waktu pagi pada hari minggu dengan kondisi yang lelah karena kemarin sabtu harus lembur kerja, kita diundang oleh Tuhan untuk beribadah. Namun apa daya selain capai ternyata juga hujan yang disertai angin kencang turun seharian. Dengan kondisi yang demikian maka setelah menimang-nimang dan merenung dengan lebih dalam akhirnya undangan ibadah ke gereja tidak jadi dihadiri.

Suatu kali ada seseorang yang mengajak kita untuk ibadah keluarga di suatu daerah terpencil. Namun karena daerah yang memang terpencil dan juga sering terdengar kabar tentang adanya perampokan di daerah itu maka ibadah itu pun urung dihadiri atau ketika kita sibuk bekerja dan pulang-pulang sudah capai maka hal yang paling nyaman untuk kita lakukan adalah tidur seharian tanpa berdoa atau bersaat teduh dengan Tuhan. Kira-kira buah apakah yang bisa kita petik dari contoh ini. Akankah kita bisa mengenal Tuhan dengan lebih dekat? Atau pernahkah suatu mujizat atau kemuliaan Tuhan turun atas kita? Pernahkah kita bisa mendengar suara-NYA?

Pengorbanan menimbulkan hasil sehingga tidak ada pengorbanan berarti juga tidak ada hasil. Demikian juga akan sangat besar hasil yang kita dapatkan ketika kita mau berkorban untuk mengenal Tuhan dan melayani kehendak-NYA. Hasil yang berupa buah yang bisa kita nikmati untuk kemuliaan nama Tuhan. Paulus sudah membuktikan kepada dunia dan kita semua akan hal ini.

Satu hal yang harus kita ingat dan yang terpenting adalah bahwa saat ini kita berada di penghujung acaranya Tuhan. Di penghujung acara ini Tuhan membutuhkan Paulus-Paulus rohani yang mau berkorban untuk banyak membawa buah dan jiwa demi kemuliaan nama Tuhan. Siapkah kita akan hal itu? Mari saya, kamu dan kita semua renungkan!!

God bless you

Jesus saved my live
Jesus save me
Jesus love everything about you

Source: www.Jesus-care.blogspot >
READ MORE - Renungan Harian: Ada Pengorbanan, Ada Hasil

Kesaksian: Tiga Hari

Pdt. Petrus Agung pernah mengisahkan beberapa kejadian yang unik. Pertama, seorang temannya mengajak Pdt. ini mendoakan seorang ibu yang tiba-tiba sakit berat sehingga harus dirawat di ICU. Banyak peralatan yang menolong kehidupan dipasang di beberapa bagian tubuhnya. Dari tampak luar, kecil kemungkinan si ibu ini dapat dipulihkan. Ketika berdoa memohon belas kasihan Tuhan dan kesembuhan atas ibu ini, sang Pdt. mendengar suara: "Tiga hari..." Ia tidak tahu apa artinya 3 hari itu. Ia bertanya kepada Tuhan, "Apa arti tiga hari ini? Apakah ibu ini akan disembuhkan Tuhan dalam 3 hari atau dalam 3 hari si ibu akan dipanggil Tuhan?" Namun tak ada jawaban.

Ketika akan pulang meninggalkan ICU tersebut Pdt. Petrus Agung menyampaikan pesan Tuhan, "Tiga hari..." Keluarga si ibu ini kebingungan dengan pernyataan sang Pdt. Walaupun dikejar terus, Pdt. Petrus Agung tidak dapat memberi keterangan lebih lanjut. Ia hanya berkata, "Tunggu saja dalam 3 hari ini..." Lalu ia buru-buru meninggalkan keluarga yang masih diliputi tanda tanya ini.

Tiga hari kemudian, Pdt. Petrus Agung mendapat telpon dari temannya. "Puji Tuhan, pak Agung, ternyata si ibu ini telah disembuhkan Tuhan sepenuhnya. Ia kini sudah bisa berjalan dan akan segera pulang dari rumah sakit."

Beberapa minggu kemudian keluarga si ibu yang sakit ini menelpon lagi. "Wah, ada apa lagi nih?" Rupanya keluarga ini memiliki orang tua, sang ayah, yang sudah sakit-sakitan. Sudah bolak balik di doakan, tidak sembuh-sembuh, juga tidak mati-mati. Pdt. Petrus segera mengunjungi dan mendoakan orang tua yang keadaannya mengenaskan ini. Sang Pendeta hanya berkata,"Tuhan, nyatakanlah belas kasih-Mu pada orang tua ini.." Ia mencoba mendengar pesan Tuhan, apakah doanya dikabulkan atau ada pesanlain. Ditunggu-tunggu, ternyata tidak ada pesan apa-apa. Oleh karena itu sang Pendeta berkata, "Coba tunggu dalam 3 hari ini..."

Benar, 3 hari kemudian orang tua ini mendapatkan perhentiannya yang penuh damai. Ia dipanggil pulang setelah 3 hari didoakan.

Beberapa minggu yang lalu, datang telpon dari teman baiknya ini. Saat itu sang Pendeta dengan keluarganya masih ada dalam perjalanan. Ada kabar bahwa teman baiknya ini kena stroke ringan sehingga mulutnya mencong dan tidak dapat berkata-kata. Segera sang pendeta mengunjungi tempat kediaman teman baiknya ini dan berdoa. Jelas sekali Tuhan berpesan, "Kalau temanmu ini terus membaca firman Tuhan dengan bersuara, dalam tiga hari akan Aku sembuhkan." Teman ini rupanya orang yang taat. Meskipun amat sulit baginya untuk membaca Alkitab dengan bersuara karena mulutnya sudah mencong, ia usahakan dan ia coba terus meskipun bunyi yang keluar tidak jelas. Dalam 3 hari, sakit strokenya sembuh tanpa dibawa ke dokter atau dirawat di Rumah Sakit. Puji Tuhan !

Tiga hari, apakah artinya bagi anda?
READ MORE - Kesaksian: Tiga Hari