AJARAN KRISTEN SEBAGAI PENUNTUN HIDUP

ajaran kristen tentang banyak hal

Yesus berkata: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Senin, 07 Juli 2014

Humor: Yang Mana yang Pintar?

Dua orang bos yang kaya raya berlibur ke Bali, mereka membicarakan sopir masing-masing.

"Sopirku sangat bodoh. Aku akan tunjukkannya kepadamu," kata bos pertama. Kemudian, ia memanggil sopirnya, "Ini uang seratus ribu rupiah, pergi ke 'showroom' dan beli satu buah mobil Merceds Benz."

"Baik Pak," jawab si sopir, dan segera pergi.

Bos kedua kemudian menimpali, "Sopirku lebih bodoh lagi. Sebentar aku panggilkan." Kemudian, bos kedua memanggil sopirnya, "Tolong kamu pulang ke rumah, dan periksa apakah saya sedang ada di rumah atau tidak."

"Siap Pak," jawab sopir kedua, kemudian ikut pergi.

Sesampainya di luar restoran, kedua sopir tersebut bertemu dan saling bercerita mengenai majikan mereka. "Majikanku sangat bodoh," kata sopir yang pertama, "Masa ya, aku disuruh untuk membeli mobil Mercedes Benz, padahal ini 'kan hari raya Nyepi. Semua 'showroom' di Bali tutup hari ini."

Sopir kedua menimpali, "Itu belum seberapa, barusan majikanku menyuruhku untuk memeriksa apakah dia ada di rumah atau tidak. Padahal, dia 'kan punya 'handphone', kenapa nggak periksa sendiri aja lewat telepon."

[Sumber: Make Them Laugh Help Them Learn, halaman 129]

Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak. (Amsal 12:15)

Sumber: http://sabda.org/humor/yang_mana_yang_pintar
READ MORE - Humor: Yang Mana yang Pintar?

Kisah Inspiratif: Perhatikan dan Belajarlah

Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak.- Amsal 13:20

Pelikan adalah burung penangkap ikan yang ulung. Tetapi di kota Monterey, California hal seperti ini tidak terjadi. Di kota ini, burung-burung pelikan tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan ikan, karena banyak sekali pabrik-pabrik pengalengan ikan. Selama bertahun-tahun mereka berpesta dengan ikan-ikan yang berserakan. Tetapi hal yang menakutkan terjadi ketika ikan di sepanjang pesisir mulai habis, dan pabrik-pabrik pengalengan mulai tutup, burung-burung tersebut mengalami kesulitan. Karena sudah bertahun-tahun tidak menangkap ikan, mereka menjadi gemuk dan malas. Ikan-ikan yang dulu mereka dapatkan dengan mudah sudah tidak ada, sehingga satu persatu dari mereka mulai sekarat dan mati.

Para pencinta lingkungan hidup berusaha keras untuk menyelamatkan mereka. Berbagai cara dicoba untuk mencegah populasi burung ini agar tidak punah. Sampai suatu saat terpikirkan oleh mereka untuk mengimport burung-burung pelikan dari daerah lain, yaitu pelikan-pelikan yang berburu ikan setiap hari. Pelikan-pelikan tersebut lalu bergabung bersama pelikan-pelikan setempat. Hasilnya luar biasa. Pelikan-pelikan baru tersebut dengan segera berburu ikan dengan giatnya, perlahan-lahan pelikan-pelikan yang kelaparan tersebut tergerak untuk berburu ikan juga. Akhirnya pelikan-pelikan di daerah tersebut hidup dengan memburu ikan lagi. 

Les Giblin, seorang pakar hubungan manusia menjelaskan bahwa manusia belajar sesuatu dari panca inderanya. 1% dari rasa, 1½ % dari sentuhan, 3½ % dari penciuman, 11% dari pendengaran, dan 83% dari pengelihatan. John C Maxwel, seorang pakar kepemimpinan dalam sebuah surveinya membuktikan bahwa, “Bagaimana seorang menjadi pemimpin?” 5% akibat dari sebuah krisis, 10% adalah karunia alami, dan 85% adalah dikarenakan pengaruh dari pemimpin mereka.

Demikian halnya jika Anda ingin semakin maju, maka salah satu cara terbaik adalah dengan bergaul dengan orang-orang yang berprestasi yang bisa anda temui. Perhatikan cara mereka bekerja, lihat hidup mereka, pelajari cara berpikir mereka, lihat bagaimana mereka mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup mereka. Memang benar kita dapat belajar dari Tuhan langsung atau melalui pimpinan Roh Kudus, tapi kita juga harus terbuka ketika Tuhan menempatkan orang-orang terbaik yang bisa memacu hidup kita.

Carilah pergaulan yang dapat membangun kerohanian dan kehidupan Anda!

Sumber: http://giajemursarisurabaya.blogspot.com/2012/08/find-and-see.html

READ MORE - Kisah Inspiratif: Perhatikan dan Belajarlah

Renungan Harian: Ketika Dunia Berbalik Menyerang Kita

Bacaan: Lukas 22:47-53

Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?- Lukas 22:48


Ini tidak adil. Ini sangat tidak manusiawi. Bahkan sangat tidak masuk akal dilakukan oleh manusia-manusia yang berakal budi. Bukankah Yesus tidak pernah melakukan yang buruk? Sedikitpun tidak. Ia selalu berbuat baik. Ia selalu memberi pertolongan, bahkan ketika saatNya belum tiba pun, Ia tetap menyelamatkan muka keluarga mempelai di Kana. Ia tidak pernah menggosipkan orang lain, apalagi memfitnahnya. PerkataanNya manis, lembut dan menyegarkan siapa saja yang letih. Ia tidak pernah meminta atau menuntut lebih, Ia selalu memberi. Ia tidak pernah menjadi batu sandungan, Ia menjadi berkat. Ia membuat mujijat dan memberikannya kepada mereka yang butuh mujijat. Tak terhitung lagi kaki lumpuh yang bisa berjalan, atau mata buta yang celik, si bisu yang akhirnya berujar, atau si tuli yang sekarang bisa enjoy dengar musik easy listening.

Yesus buat semuanya itu. Tapi apa yang Ia dapat? Pengkhianatan. Olokan. Cercaan. Tatapan sinis. Bahkan paduan suara yang sedemikian kompak, “Salibkan Dia!” Bisa jadi yang berteriak lantang adalah mereka yang pernah mengecap kebaikanNya atau bahkan yang mengalami sendiri mujijatNya. Dua belas murid yang Ia andalkan juga tiba-tiba melempem. Nyalinya ciut dan memilih menyelamatkan diri masing-masing. Meski semula mereka gembar-gembor bahwa nyawa pun akan dipertaruhkan demi guruNya. Pengkhianatan. Bukan hanya Yudas saja, tapi sebenarnya semua murid mengkhianati Dia, karena membiarkan Dia sendirian menanggung semuanya itu.

Yesus dikhianati oleh orang-orang yang selama tiga tahun terakhir ini selalu bersamaNya. Yesus disalibkan oleh orang-orang yang pernah ditolongNya. Mungkin saja mereka yang memaki Yesus adalah mereka juga yang pernah dibuatnya bicara dari kebisuan. Yesus mengalami semuanya itu, tapi Ia tetap teguh. KasihNya tidak tergoncang. Pengkhianatan tak mampu mengubah kasihNya. Meski dunia berbalik melawanNya, Ia tetap mengampuni. Teladan hidup yang luar biasa.

Bagaimana jika dunia berbalik melawan kita? Bagaimana jika orang yang pernah kita tolong memberikan ciuman Yudas? Marilah kita belajar dari Yesus. Hidup yang dikuasai kasih. Memang berat. Daging kita berontak. Logika kita tidak bisa menerima. Bagaimana mungkin mengasihi mereka yang berbalik melawan kita. Tapi itulah kasih. Kasih bukanlah kasih kalau tidak bisa mengasihi musuh kita.

Apakah kita tetap mengasihi mereka yang berbalik melawan kita?

Sumber:http://www.renungan-spirit.com/artikel-rohani/ketika_dunia_berbalik_menyerang_kita.html
READ MORE - Renungan Harian: Ketika Dunia Berbalik Menyerang Kita

Renungan Harian: Macan dengan Nyali Tikus

Bacaan: II Timotius 1:3-1

Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, - II Timotius 1:7


Salah satu alasan mengapa kita tidak bisa mengembangkan senyum lebih lebar adalah karena kita terlampau dicekam oleh ketakutan kita sendiri. Boleh percaya boleh tidak, namun fakta berkata bahwa ketakutan adalah seperti kanker ganas yang menggerogoti sukacita kita. Semakin kita mengijinkan ketakutan mempengaruhi kehidupan kita, maka semakin sulit kita merasakan sukacita.

Cerita lama dari India menceritakan tentang tikus yang ketakutan karena melihat seekor kucing. Itu sebabnya tikus tersebut pergi kepada tukang sihir untuk menyulapnya menjadi kucing. Setelah tikus tersebut jadi kucing, kembali lagi ia dicekam rasa takut karena melihat anjing. Maka segera saja ia kembali ke tukang sihir dan minta mengubahnya menjadi anjing. Setelah jadi anjing, lagi-lagi ia takut ketika bertemu dengan macan dan minta kepada tukang sihir untuk mengubahnya menjadi macan. Tetapi ketika ia datang lagi dengan keluhan bahwa ia bertemu dengan pemburu, si tukang sihir menolak membantu lagi, “Akan saya ubah kamu jadi tikus lagi, sebab, sekalipun badanmu macan, nyalimu masih tetap nyali tikus.”

Ketika kita percaya kepada Yesus, kita diubah menjadi manusia baru. Hanya sayang, kita seperti cerita klasik tersebut. Kita mengaku sudah menjadi manusia baru, tapi “nyali” kita tidak baru. Daripada mengijinkan Kristus menguasai kehidupan kita, kita lebih mengijinkan ketakutan yang menguasai kita. Bukan iman, tapi rasa kuatir. Bukan keberanian, tapi rasa cemas. Tak heran sukacita kita padam. Tak ada senyum. Tak ada keceriaan. Sebaliknya, kegelisahan dan ketakutanlah yang terpancar dari hidup kita. 

Seandainya kita memiliki nyali Kristus, tentu kita bisa bersukacita dalam segala keadaan. Paulus memiliki nyali Kristus, itu sebabnya penjara tak bisa membendung sukacitanya. Demikian juga situasi dan kondisi yang paling buruk sekalipun tak akan pernah bisa memadamkan sukacita kita, seandainya kita memiliki nyali Kristus. Sungguh ironis kalau kita mengaku sebagai anak Tuhan tetapi tak mampu lagi bersukacita karena situasi dan keadaan yang menantang kita. Bukankah seharusnya kita berani menghadapi setiap tantangan hidup dengan optimisme dan sukacita? Kalau tak bisa tersenyum di tengah tantangan hidup, itu seperti seekor macan dengan nyali tikus.

Hadapilah semua tantangan hidup dengan optimisme dan sukacita.

Sumber:http://www.renungan-spirit.com/ilustrasi-rohani/macan_dengan_nyali_tikus.html
READ MORE - Renungan Harian: Macan dengan Nyali Tikus

Minggu, 29 Juni 2014

Kesaksian Dr. Lie Dharmawan: Jangkau Orang Miskin Dengan Rumah Sakit Apung

Dr Lie Dharmawan adalah sosok dibalik kehadiran Floating Hospital atau rumah sakit apung swasta pertama yang melayani para pasien yang tidak terjangkau di pulau-pulau kecil di Indonesia. Sejak pertama kali diresmikan pada 6 Juni 2013 lalu, rumah sakit ini telah melayani lebih dari 1000 pasien di berbagai pulau di Indonesia.

Rumah sakit apung ini menjadi sebuah kapal yang difungsikan sebagai rumah sakit berjalan. Bersama dr Lie, pelayanan kesehatan di atas kapal ini terus berjalan dengan baik. Mereka bahkan bergerak secara langsung melayani masyarakat tanpa memungut bayaran apapun dari masyarakat yang tidak mampu.

Siapa sangka, dibalik pelayanan rumah sakit apung inilah dr Lie  memberikan hidupnya untuk dipakai melayani sesama. Ia pun memutuskan  untuk meninggalkan kenyamanan hidup dan jabatannya sebagai kepala ruang bedah di salah satu rumah sakit di Jakarta. Ia mengaku diilhami oleh kesulitan hidup yang dialaminya dan keluarga. Kehidupan yang serba terbatas tanpa seorang ayah, menumbuhkan tekat dalam diri dr Lie untuk melayani orang-orang yang tidak mampu. "Bohong kalau ada orang mengatakan saya mencintaiMu Tuhan tapi tidak bisa melihat penderitaan orang-orang kecil," terang Lie.

Profesinya sebagai dokter menjadi satu dari banyak karunia yang telah dianugerahkan Tuhan dalam hidupnya. "Tuhan memainkan peranan yang sangat besar bagi saya. Saya sudah banyak mengalami kasih Tuhan. Sebagai anak yang tidak punya ayah, saya sudah berdoa bertahun-tahun setiap pagi ke gereja, saya ingin menjadi seorang dokter yang sekolah di Jerman dan Tuhan mengabulkan itu," ujar dr. Lie.

Sejak memutuskan untuk keluar dari Rumah Sakit, Dr Lie mengambil langkah untuk melayani setiap orang yang tidak mampu di berbagai kepulauan yang tidak dapat dijangkau oleh pemerintah. Ia menilai bahwa melayani sesama serupa dengan melayani Tuhan. Melalui dr Lie, Indonesia memiliki rumah sakit apung pertama yang telah banyak menolong orang-orang yang tidak mampu. Tindakan dr Lie menggenapi firman Tuhan dalam Yohannes 4: 20 bahwa, "Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah", dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barang siapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya".

Sumber:http://www.jawaban.com/index.php/spiritual/detail/id/9/news/140330222114/limit/0/Dr-Lie-Dharmawan-Jangkau-Orang-Miskin-Dengan-Rumah-Sakit-Apung.html
READ MORE - Kesaksian Dr. Lie Dharmawan: Jangkau Orang Miskin Dengan Rumah Sakit Apung

Minggu, 22 Juni 2014

Humor: Gigi Terakhir

Di dalam pelajaran Biologi, seorang guru SMU bertanya kepada murid-muridnya.
"Gigi yang kita peroleh paling akhir dinamakan gigi apa, anak-anak?" tanya sang guru.
Seorang murid menjawab dengan lantang, "Gigi palsu!"


"Buanglah kebodohan, maka kamu akan hidup, dan ikutilah jalan pengertian." 
(Amsal 9:6)

[Sumber diambil dan disunting dari: Manna sorgawi, Oktober 2007]
READ MORE - Humor: Gigi Terakhir

Cerita Inspiratif: Kisah Burung Rajawali

Tahukah Anda bahwa burung rajawali adalah burung yang paling panjang usianya?
 
Seekor burung rajawali bisa mencapai umur hingga 70 tahun. Tapi untuk mencapai umur tersebut adalah sebuah pilihan bagi seekor rajawali, apakah dia ingin hidup sampai 70 tahun atau hanya sampai 40 tahun.

Ketika burung rajawali mencapai umur 40 tahun, maka untuk dapat hidup lebih panjang 30 tahun lagi, dia harus melewati transformasi tubuh yang sangat menyakitkan. Dan pada saat inilah seekor rajawali harus menentukan pilihan untuk melewati transformasi yang menyakitkan itu atau melewati sisa hidup yang tidak menyakitkan namun singkat menuju kematian.

Pada umur 40 tahun paruh rajawali sudah sangat bengkok dan panjang hingga mencapai lehernya sehingga ia akan kesulitan memakan. Dan cakar-cakarnya juga sudah tidak tajam. Selain itu bulu pada sayapnya sudah sangat tebal sehingga ia sulit untuk dapat terbang tinggi.

Bila seekor rajawali memutuskan untuk melewati transformasi tubuh yang menyakitkan tersebut, maka ia harus terbang mencari pegunungan yang tinggi kemudian membangun sarang di puncak gunung tersebut. Kemudian dia akan mematuk-matuk paruhnya pada bebatuan di gunung sehingga paruhnya lepas. Setelah beberapa lama paruh baru nya akan muncul, dan dengan menggunakan paruhnya yang baru itu ia akan mencabut kukunya satu persatu-satu dan menunggu hingga tumbuh kuku baru yang lebih tajam. Dan ketika kuku-kuku itu telah tumbuh ia akan mencabut bulu sayap nya hingga rontok semua dan menunggu bulu-bulu baru tumbuh pada sayapnya. Dan ketika semua itu sudah dilewati rajawali itu dapat terbang kembali dan menjalani kehidupan normalnya. Begitulah transformasi menyakitkan yang harus dilewati oleh seekor rajawali selama kurang lebih setengah tahun.

Burung rajawali ini ibarat kita sebagai manusia. Ketika sebuah masalah datang dalam kehidupan kita dan kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang harus diambil, dan sering dari pilihan yang kita ambil tersebut kita harus melewati suatu transformasi kehidupan yang menyakitkan bagi jiwa dan tubuh kita. Namun ditengah kesulitan tersebut kita harus ingat ada Tuhan yang menyertai kita, ada masa depan yang Tuhan sediakan untuk kita diakhir perjuangan kita, suatu kehidupan 30 tahun lebih panjang, suatu kehidupan yang lebih baik, suatu pemulihan hubungan, suatu kesembuhan, suatu sukacita ....., suatu yang saudara impikan selama ini.
 
Sumber: http://giajemursarisurabaya.blogspot.com/2012/10/kisah-burung-rajawali.html
READ MORE - Cerita Inspiratif: Kisah Burung Rajawali