AJARAN KRISTEN SEBAGAI PENUNTUN HIDUP

ajaran kristen tentang banyak hal

Yesus berkata: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Kamis, 20 Februari 2014

Humor: Membantu Orang

Suatu hari seorang pendeta berkunjung ke rumah jemaatnya. Ia disambut oleh Pak Dermawan dan istrinya. Mereka kemudian berbincang-bincang. Pak Dermawan bercerita tentang sebuah keluarga yang sedang mengalami musibah.
Ia berkata, "Pak, di pinggir kota ini ada sebuah keluarga yang miskin. Sang kepala keluarga telah meninggal dunia. Sang ibu saat ini sedang sakit parah, sehingga tidak bisa pergi kerja. Anak-anaknya mulai kelaparan. Kalau sampai akhir minggu ini tidak ada orang yang membantu membayarkan uang sewa rumahnya, mereka akan kehilangan tempat tinggal mereka. Tidak punya tempat berlindung dari panas dan hujan. Padahal uang sewanya hanya 500 ribu."
Pak Pendeta tampak terharu, "Betapa menyedihkan. Dari mana Bapak tahu tentang cerita ini?"
Pak Dermawan menjawab, "Saya pemilik rumah sewa mereka."


"Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus."
(Galatia 6:2) 

Sumber: http://kgpmmesiasranomut.blogspot.com/p/humor-rohani.html
READ MORE - Humor: Membantu Orang

Minggu, 09 Februari 2014

Cerita Inspiratif: Membeli Waktu Papa

Steven adalah seorang karyawan perusaah an yang cukup terkenal diJakarta, memiliki dua putra. Putra pertama baru berusia 6 tahun bernama Leo dan putra ke dua berusia dua tahun bernama Kristian. Seperti biasa jam 21.00 Steven sampai di rumahnya di salah satu sudut Jakarta, setelah seharianpenuh bekeja di kantornya. Dalam keremangan lampu halaman rumahnya diamelihat Leo putra pertamanya di temani bik Yati pembantunya menyambut digerbang rumah.

"Kok belum tidur Leo?" sapa Steven sambil mencium anaknya. Biasanya Leo sudah tider ketika Steven pulang dari kantor dan baru bangun menjelang Steven berangkat ke kantor keesokan harinya.
 "Leo menunggu Papa pulang, Leo mau tanya, gaji Papa itu berapa sih Pa?" kata Leo sambil membuntuti papanya.
"Ada apa nih kok tanya gaji papa segala?"
"Leo Cuma pingin tahu aja kok Pah?
"Baiklah coba Leo hitung sendiri ya. Kerja papa sehari di gaji Rp 600.000,-, nah selama sebulan rata-rata dihitung 25hari kerja. Nah berapa gaji papa sebulan?"
"Se hari Papa kerja berapa jam Pa?" tanya Leo lebih lanjut.
"Seha ri papa kerja 10 jam Leo, nah hitung sana, Papa mau melepas sepatu dulu."
Leo berlari ke meja belajarnya dan sibuk mencoret-coret dalam kertasnya menghitung gaji papanya. Sementara Steven melepas sepatu dan meminum teh hangat buatan istri tercintanya.
"Kalau begitu, satu bulan Papa di gaji Rp 15.000.000,-, ya Pah? Dan satu jam papa di gaji Rp. 60.000,-." Kata Leo setelah mencorat-coret sebentar dalam kertasnya sambil membuntuti Steven yang beranjak menuju kamarnya.
"Nah, pinter kamu Leo. Sekarang Leo cuci kaki lalu bobok." Perintah Steven, namun Leo masih saja membuntuti Steven sambil terus memandang papanya yang benrganti pakaian .
"Pah, boleh tidak Leo pinjam uang Papa Rp. 5.000,- saja?" tanya Leo dengan hati-hati sambil menundukkan kepalanya.
"Sudahlah Leo, nggak usah macam-macam, untuk apa minta uang malam-malam begini. Kalau mau uang besok saja, Papa kan capek mau mandi dulu. Sekarang Leo tidur supaya besok tidak terlambat ke sekolah!"
"Tapi Pah.."
"Leooo !! Papa bilang tidur!"bentak Steven mengejutkan Leo.
Segera Leo beranjak menuju kamarnya.
Setelah mandi Steven menengok kamar anaknya dan menjumpai Leo belum tidur. Leo sedang terisak pelan sambil memegangi sejumlah uang. Steven nampak menyesal dengan bentakannya.

Dipegangnyalah kepala Leo pelan dan berkata: "Maafkan Papa ya nak. Papa sayang sekali pada Leo." ditatapnya Leo anaknya dengan penuh kasih sambil ikut berbaring di sampingnya.
" Nah katakan pada Papa, untuk apa sih perlu uang malam-malam begini. Besok kan bisa, jangankan Rp. 5.000,-, lebih banyak dari itupun akan Papa kasih."
"Leo nggak minta uang Papa kok, Leo cuma mau pinjam. Nanti akan Leo kembalikan, kalau Leo udah menabung lagi dari uang jajan Leo."
"Iya, tapi untuk apa Leo?" tanya Steven dengan lembut.
"Leo udah menunggu Papa dari sore tadi, Leo nggak mau tidur sebelum ketemu Papa. Leo pingin ngajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang bahwa waktu papa berharga. Jadi Leo ingin beli waktu Papa."
"Lalu. " tanya Steven penuh perhatian dan kelihatan belum mengerti.
"Tadi Leo membuka tabungan, ada Rp 25.000,-. Tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 60.000,-, maka untuk setengah jam berarti Rp. 30.000,-. Uang tabungan Leo kurang Rp. 5.000,-. Maka Leo ingin pinjam pada Papa. Leo ingin membeli waktu Papa setengah jam saja, untuk menemani Leo main ular tangga. Leo rindu pada Papa." Kata Leo polos dengan masih menyisakan isakannya yang tertahan.

"Steven terdiam, dan kehilangan kata-kata. Bocah kecil itu dipeluknya erat-erat, bocah kecil yang menyadarkan bahwa cinta bukan hanya sekedar ungkapan kata-kata belaka namun berupa ungkapan perhatian dan kepedulian.

Sumber: http://www.klinikrohani.com/2008/01/membeli-waktu-papa.html
READ MORE - Cerita Inspiratif: Membeli Waktu Papa

Senin, 03 Februari 2014

Renungan Harian: Berlagak Kaya

Bacaan: Amsal 13:7, 21:20

Ada orang yang berlagak kaya, tetapi tidak mempunyai apa-apa, ada pula yang berpura-pura miskin, tetapi hartanya banyak.
"Amsal 13:7"

Harta yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak, tetapi orang yang bebal memboroskannya.
"Amsal 21:20"

Bagaimana kita mengatur uang akan sangat mempengaruhi kesuksesan kita. Berapa banyak sebuah usaha akhirnya mengalami gulung tikar karena si pemilik keliru mengatur uang. Uang perusahaan yang harusnya dipakai untuk keperluan usaha justru dipakai untuk hal yang sifatnya konsumtif. Akibatnya, cash flow keuangan perusahaan tersebut menjadi kacau. Modal menjadi kurang atau bahkan tidak ada sama sekali. Akhirnya macet dan bangkrut. Jelas-jelas kebangkrutan tersebut bukan karena usaha tersebut tidak memberi profit, tapi karena kesalahan dalam mengatur uang. 

Ron Blue, seorang konsultan keuangan, menceritakan kisah ini dalam salah satu bukunya. Seorang pria membeli sebuah jam tangan Rolex dengan harga yang sangat mahal. Pria tersebut memberi uang muka dan sisa pembayarannya akan dilunasi dengan cara diangsur. Permasalahan mulai terjadi gara-gara jam bergengsi itu. Ia kesulitan membayar jam tersebut, bahkan terbebani dengan bunga utang yang kalau dikalkulasi menunjukkan bahwa yang ia bayar adalah dua kali harga asli jam tersebut! Apakah orang ini benar-benar mampu beli jam tangan Rolex? Tentu saja tidak! Tetapi dengan membelinya, ia mungkin meninggalkan toko tersebut dengan merasa seperti seorang miliarder! 

Pengeluaran kita seharusnya tidak boleh melebihi pendapatan kita. Pengeluaran harus kita sesuaikan sampai berada di bawah penghasilan kita. Jika tidak, keuangan kita pasti bermasalah. Jangan sampai kita tergoda untuk dilihat sebagai orang kaya, lalu kita menggunakan uang secara keliru. Berlagak kaya, tapi sebenarnya tidak memiliki apa-apa. Terlalu konsumtif sampai lupa bahwa ada kebutuhan-kebutuhan mendasar yang perlu dicukupi. Kalau sudah begini, kita akan memilih hutang sebagi solusi. Kita pun dililit hutang. Untuk berhutang kita harus memberikan jaminan, entahkah itu rumah, kendaraan atau barang-barang kita. Jika kita gagal membayar pinjaman, maka kita akan kehilangan barang yang kita jaminkan! Sungguh menyedihkan jika sampai hal ini terjadi. Padahal semuanya tak perlu terjadi kalau kita bisa mengendalikan arus keuangan kita.

Sesuaikanlah pengeluaran Anda sampai tingkat di bawah penghasilan Anda!

Sumber: http://www.renungan-spirit.com/ilustrasi-rohani/berlagak_kaya.html
READ MORE - Renungan Harian: Berlagak Kaya

Selasa, 21 Januari 2014

Kesaksian: Benny Manuhutu, Dari Petinju Profesional Jadi Jagoan Jalanan

Benny Manuhutu, seorang jagoan, di setiap aliran darahnya mengalir darah petarung.

"Dulu waktu di Ambon, kami suka berkelahi. Jadi antar kampung, kami berkelahi. Pada suatu hari ketika saya sedang bertarung dengan pemuda desa lain, aparat kepolisian datang. Ditangkap saya saat itu. Seorang petugas disana akhirnya mengajak saya untuk menekuni dunia tinju saja. Saya pun menerima itu dan naik ke dunia tinju," ujar Benny membuka kesaksiannya.
"Waktu itu pelatih yang mengajar saya tinju adalah (Alm) Eddie Van Rohm. Teknik-teknik bertinju kami pelajari dari beliau seperti jab, straight, hook, upper cut, dan teknik-teknik itulah saya pergunakan saat diatas ring"

Tak lama, Benny akhirnya menjadi juara tinju baru di Indonesia. "Saya juara ketiga se-Indonesia, waktu di Makasar juara kedua. Kalau di Ambon tidak ada lawan di kelas saya."

"Saya memang mau menang terus karena sifat pada dasarnya tinju adalah untuk menguasai. Sifatnya untuk membunuh juga ada."

Keganasannya di ring tinju membuat Benny berhasil dikirim Ke Jakarta untuk mengikuti pekan olahraga nasional ke-6. Namun, PON 1965 tersebut dibatalkan dikarenakan peristiwa G/30-S dan Benny harus menanggung akibat dari peristiwa itu. "PON gak jadi, saya gak pulang. Jadi saya, Freddy Lasut, sama Philip Tuguteru, kita petinju bertiga terjun ke Tanjung Priuk. Mulai dari situ, kami jadi rese"

Sang petinju harus rela jadi tukang parkir di pelabuhan dan hidup dalam kerasnya kehidupan jalanan. "Salah satu pool, namanya NS. Disitu tempat kumpul kami. Saya dan teman-teman tidak pernah bayar pesanan kami karena ada orang lain yang akan bayar. Mengapa bisa seperti itu? Karena kami jagoan disana"

Keberaniannya itu bukanlah datang begitu saja. Sebelum terjun ke dunia perkelahian, ia menanamkan ilmu hitam di tubuhnya. "Untuk jaga-jaga badan, saya selalu pake ikat pinggang yang telah diisi oleh paranormal. Saya percaya banget dengan itu. Tidak ada yang saya percayai selain benda tersebut. Hasilnya memang sementara terbukti sehingga saya pun semakin merajalela "bekerja" di jalanan."

Menikah dan Kehidupan Keluarga Saat itu

Dari Priuk, Benny pindah ke Cawang. Pada 1990, ia pun menikah.

Awalnya kehidupan rumah tangga dengan sang istri, A Jacoba penuh dengan kasih. Namun, berjalan waktu, perangainya sebagai petinju mulai nampak. Tak terhitung sudah berapa banyak istrinya, A Jacoba menerima kata-kata kotor dan pukulan darinya. Bahkan ketika melakukan kekerasan kepada pasangan hidupnya itu tidak ada rasa penyesalan di dirinya, yang muncul hanyalah rasa kepuasan.

Di lain pihak, A. Jacoba yang menjadi obyek kekerasan sang suami tetaplah menjadi wanita yang setia. Tak pernah sekalipun kata-kata perceraian keluar dari mulutnya. Baginya, sekali menikah maka itu adalah pernikahan sekali dan selamanya.

Perlakuan kasar yang ia terima dari sang suami ia balas dengan berdoa kepada Tuhan dan membaca Alkitab. Jauh di relung hatinya yang paling dalam, ia rindu Benny bertobat dan berbalik dari jalan-jalannya yang jahat.

Sementara itu, di saat keadaan rumah tangga yang penuh kekacauan sebuah kejadian malang menimpa putri tercinta keempat dari Benny dan A Jacoba. "Jadi, dia punya kuping itu keluar darah. Dokter berkata itu adalah radang otak dan harus segera dioperasi," ungkap Benny.

Dalam kondisi yang panik, Benny teringat dengan adiknya yang bekerja di sebuah perusahaan minyak. Ia pun akhirnya menyuruh A. Jacoba untuk pergi kesana dan meminjamkan uang kepadanya.

Perintah itu pun dilaksanakan oleh sang istri. Bersama dengan putrinya yang sakit, A Jacoba mendatangi rumah adik Benny. Setiba disana, bukannya uang yang didapat, melainkan kata-kata nasihat dari sang adik yang meminta agar abangnya sendiri yang datang kesitu karena kepala rumah tangganya adalah abangnya, bukan istrinya.

Hal itu pun disampaikan A. Jacoba kepada Benny. Dengan segera, Benny bersama istri pun pergi ke rumah adiknya. Ketika ketiganya bertemu, mereka pun berbicara dari hati ke hati. Di tengah perbincangan, sebuah kalimat yang tak pernah terduga keluar dari mulut sang adik. "Dia bilang, kamu dan istri pulang, bertobat, berdoa kepada Tuhan, itu saja yang bisa menolong kamu"

Bertobat dan Hidup Baru

Pertemuan singkat itu ternyata benar-benar membuat dirinya tersentak. Perlahan, ia menunjukkan perubahan. Ia pun mulai mengikuti apa kata-kata dari sang adik.

Ia dan istri berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan putri keempatnya itu.  Mukjizat terjadi. Darah yang keluar dari kuping anaknya berhenti keluar.

Benny begitu takjub dengan apa yang dialaminya di dalam Tuhan. Walau begitu, perilaku kasarnya tetap belum 100% berubah. Suatu ketika, saat sedang bermain catur dengan seorang teman, ia menjadi naik pitam kepada rekannya tersebut. Pasalnya, temannya tersebut dianggap telah melakukan kecurangan.

Tidak terima dengan hal tersebut, Benny memukul temannya tersebut. Bersamaan dengan peristiwa itu, keadaan putrinya yang keempat yang mulanya telah membaik menjadi parah kembali.

Benny yang mengetahui hal ini pun langsung menuju ke rumah. Ia pun segera pergi ke kamar dimana putrinya yang sakit itu berada. Dilihat disana ada istri, adiknya, dan seorang pendeta. Mereka pun secara bersama-sama berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan putrinya tersebut. Akan tetapi, kali ini yang terjadi, putrinya justru menghembuskan nafas terakhir.

"Saya hancur, saya mundur, benar-benar mundur. Pendeta saja sudah bilang putri saya sudah meninggal. Di saat suasana sedih seperti itu, adik saya berkata putri saya belum meninggal. Ia berkata bahwa putri saya hanya tidur sementara. Ia pun berdoa kepada Tuhan. Saya dan orang-orang yang ada disitu pun turut melakukannya."

Tiga jam berlalu, putri keempat dari Benny dan A. Jacoba menunjukkan tanda-tanda kehidupan: tangannya bergerak, nafasnya ada kembali, dan terakhir matanya terbuka. Mereka sangat bersukacita melihat hal itu.

Putri Benny dan A. Jacoba itu pun akhirnya bercerita kepada orang-orang yang berkumpul di kamarnya tesebut tentang perjalanan singkat dirinya ke surga. Ia berkata bagaimana surga itu begitu indah. Namun menurutnya, ada satu yang kurang di surga yakni ia tidak dapat bertemu ayah dan ibunya.

Mendengar itu, Benny seperti dicemeti oleh Tuhan. Ia tahu ini adalah tanda untuk ia bertobat sungguh-sungguh.

Selang beberapa hari, lewat ajakan sang adik, Benny dan istri datang ke pertemuan ibadah. Disitu, ia akhirnya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi.  

Masih ada satu ganjalan dalam pertobatan Benny. Jimat ikat pinggang yang telah menjadi jimatnya selama bertahun-tahun belum dilepaskan. Meski berat, ia memutuskan untuk menghadiri ibadah pelayanan pelepasan di Cempaka Putih. Di sana lah, ia mengakhiri hubungan dengan iblis dan menghancurkan segala jimat yang ia miliki.

Kini, Benny dan keluarga menjalani lembaran kehidupan yang baru, kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan. "Kalau saya tidak terima Tuhan Yesus, kehidupan saya tidak akan seperti ini, dilindungi, dijaga, diberkati. Oleh sebabnya, saya bersyukur kepada Tuhan Yesus atas semua hal yang saya terima sekarang ini. Saya berterima kasih kepada-Nya karena telah memberi kesempatan hidup yang baru untuk saya".

Sumber: http://www.jawaban.com/index.php/spiritual/detail/id/9/news/111222054213/limit/0/Kisah-Nyata-Benny-Manuhutu-Dari-Petinju-Profesional-Jadi-Jagoan-Jalanan.html
READ MORE - Kesaksian: Benny Manuhutu, Dari Petinju Profesional Jadi Jagoan Jalanan

Kamis, 16 Januari 2014

Humor: Tidak Mood

Seorang anak kecil berusia 4 tahun diajak ibunya ke gereja. Selesai kebaktian, mereka bersalaman dengan pendeta di depan pintu. Sambil menatap anak itu, Pak Pendeta berkata, "Halo, apa kabar? Sudah umur berapa, nih?" Anak itu tidak menjawab.
Pak pendeta mendekatkan kepalanya, "Umurmu berapa, Sayang?" tanyanya.
Si anak mengangkat empat jari tangannya. Pak pendeta tersenyum. "Itu berapa?" tanyanya lagi.
Si anak diam. Pak pendeta bertanya lagi, "Nak, kamu bisa omong, tidak?"
Anak itu memandang Pak Pendeta dan berkata, "Pak Pendeta bisa berhitung, tidak?" 

Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik - 1 Tesalonika 5:21

Sumber: http://kgpmmesiasranomut.blogspot.com/p/humor-rohani.html
READ MORE - Humor: Tidak Mood

Senin, 23 Desember 2013

Cerita Inspiratif: Biarlah Tuhan Yang Mengemudikan Hidup Kita

Kita tidak pernah mempertanyakan ke mana sopir bus kota yang kita tumpangi akan membawa busnya. Tetapi kita sering mempertanyakan Tuhan, kemana Dia akan membawa hidup kita ?

Seorang ayah mengajak puterinya, Asa, 6 tahun, mengendarai mobil menuju ke sebuah museum. Sudah lama Asa menginginkannya. Si Ayah kebetulan hari itu mengambil cuti dan sengaja mengantar anaknya ke tempat yang sudah lama diimpikan Asa itu tanpa didampingi Bunda.

Di perjalanan, tak hentinya Asa bertanya kepada si Ayah, "Ayah tahu tempatnya?", tanya Asa yang duduk di samping kemudi Ayah.

"Tahu, jangan kuatir ..., " jawab Ayah sembari tersenyum.

"Emang Ayah tahu jalan-jalannya ?"

"Tahu, jangan kuatir ..."

"Benar, tidak kesasar Ayah ?"

"Benar, jangan kuatir ...," jawab Ayah tetap dengan sabar.

"Nanti kalau Asa haus, bagaimana ?"

"Tenang, nanti Ayah beli air mineral ..."

"Terus kalau lapar?"

"Tenang, Ayah ajak mampir Asa ke restoran ..."

"Emang ayah tahu tempat restorannya ?"

"Tahu, sayang ..."

"Emang ayah bawa cukup uang ?"

"Cukup, sayang ..."

"Kalau Asa pengin ke kamar kecil ?"

"Ayah antar sampai depan pintu toilet wanita ..."

"Emang di musium ada toiletnya ?"

" Ada , jangan kuatir ..."

"Ayah bawa tissue juga ?"

"Bawa, jangan kuatir ...," kata ayah sembari membelokkan mobilnya masuk jalan tikus, karena macet.

"Kok Ayah belok ke jalan jelek dan sempit begini ?"

"Ayah cari jalan yang lebih cepat ... supaya Asa bisa menikmati museum lebih lama nanti ..."

Tidak berapa lama, Asa kemudian tidak bertanya-tanya lagi. Giliran sang Ayah yang bingung,
"Kenapa Asa diam, sayang?"

"Ya, Asa percaya Ayah deh! Ayah pasti tahu, akan antar dan bantu Asa nanti!"

Kita ini seperti Asa si anak kecil ini. Kita bertanya banyak hal mengenai apa yang kita hadapi dan terjadi dalam hidup kita. Terlalu banyak khawatir apa yang akan kita hadapi. Padahal sesungguhnya Tuhan "sedang mengemudi" buat kita semua.

Kadang Ia membawa ke "gang sempit" yang barangkali tidak enak, tetapi itu semua untuk menghindari "kemacetan" di jalan yang lain. Kadang Ia memperlambat "kendaraan-Nya", kadang mempercepat. Semuanya ada maksudnya.

Ada baiknya kalau kita menyerahkan hal-hal yang di luar jangkauan kita kepada-Nya. Biarkan Dia berkarya atas hidup Anda, biarkan Dia mengemudikan hidup Anda, sebaliknya fokuskan hidup Anda kepada hal-hal yang Anda bisa kerjakan di depan mata, dengan berkat kemampuan yang Anda sudah miliki.
Sumber: http://www.klinikrohani.com/2008/01/biarlah-tuhan-yang-mengemudikan-hidup.html
READ MORE - Cerita Inspiratif: Biarlah Tuhan Yang Mengemudikan Hidup Kita

Senin, 25 November 2013

Renungan Harian: Kesungguhan

Bacaan: Pengkhotbah 9:10-12

Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga,... - Pengkhotbah 9:10


Sebelum buku Being Happy! tulisan Andrew Matthews laris sedemikian rupa, naskah tersebut sudah mengalami penolakan berkali-kali dari penerbit, apalagi buku tersebut ditulis oleh pengarang baru yang belum punya nama. Karena tidak ada yang mau, maka Andrew Matthews menggandeng penerbit kecil melakukan penjualan langsung ke konsumen! Membawa mikrofon sendiri ke hampir tiap toko buku, promosi di banyak SMU dan Universitas, di pabrik, di penjara, bahkan di mal-mal. Dari toko ke toko, dari kota ke kota, dari negara ke negara, sampai akhirnya buku tersebut memasuki pasar internasional. Ketika ditanya bagaimana ia bisa menjual buku sampai jutaan copy dan diterjemahkan dalam banyak bahasa, Andrew Matthews menjawab, “Saya promosi buku ini selama enam tahun, terbang beribu-ribu mil, berceramah 500 kali, diwawancarai ribuan kali dan .. kehilangan tas 23 kali!”

Kisah sukses yang sangat inspiratif tersebut memunculkan satu rahasia sukses yaitu kesungguhan. Setiap usaha yang dilakukan dengan penuh kesungguhan akan selalu berakhir dengan kesuksesan. Bahkan ketika usaha tersebut kelihatannya kurang berprospek, memiliki pangsa pasar yang kecil, persaingan yang ketat, bahkan marjin yang tipis, namun jika dijalankan dengan serius dan penuh kesungguhan, usaha tersebut pasti berhasil. Sebaliknya sebuah usaha dengan prospek sebagus apapun, namun jika tidak dijalankan dengan kesungguhan, hasilnya tidak akan pernah maksimal.
Usaha sekecil apapun menuntut kesungguhan, sikap yang profesional, layanan konsumen bak hotel berbintang, dan sumber daya manusia yang benar-benar berkompeten di bidangnya. Hanya dengan cara ini, usaha tersebut bisa berkembang dan menjadi besar. Jika hari ini kita belum mencapai kesuksesan, siapa tahu itu karena diri kita yang belum memiliki kesungguhan dan belum memaksimalkan potensi diri. Firman Tuhan mengajarkan kepada kita untuk mengerjakan tugas dan pekerjaan kita dengan kualitas yang terbaik, sebab hanya itulah kunci untuk kita bisa meraih keberhasilan.

Setiap usaha selalu membutuhkan kesungguhan untuk mencapai kesuksesan.
READ MORE - Renungan Harian: Kesungguhan