AJARAN KRISTEN SEBAGAI PENUNTUN HIDUP

ajaran kristen tentang banyak hal

Yesus berkata: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Kamis, 18 Juli 2013

Kesaksian Choky Sitohang: Melakukan Bagiannya Sebagai Manusia

Choky Sitohang, presenter di berbagai acara di stasiun TV, mengakui bahwa kesuksesannya dalam "menjual diri' dimulai setelah ia memutuskan untuk melakukan bagiannya sebagai manusia.
Tahun 2006 saya terkena hepatitis A, sementara secara ekonomi saya kurang. Akibat sakit itu, ketika bercermin saya melihat sesosok yang bermata cekung dan bertubuh kurus. Dan itu menyebabkan saya tidak PD. Jadi saya bertanya kepada Tuhan, bagaimana saya bisa bangkit? Saya tidak bisa seperti ini terus jika mau berkompetisi.
Setelah berdoa dana dapat kekuatan dari Firman Tuhan, dan dengan dorongan dari keluarga dan teman-teman, saya bercermin kembali. Lalu saya berkata pada diri sendiri, "Choky, kamu itu unik, special, dan kamu punya talenta yang sudah Tuhan beri dan tidak akan lepas dengan begitu saja. Kamu juga ganteng!" Dan sebagai orang Kristen, saya punya modal lain yang saya percaya bahwa Jesus walk with me!"
Setelah berani mengucapkan hal itu, hati saya menjadi tenteram dan kepercayaan diri saya mulai bangkit kembali, walaupun baru sedikit demi sedikit. Saya kemudian berpikir "what should I do?" Rejeki khan tidak mungkin dilempar dari karung di atas. Dan Tuhan pun memberi hikmat."
Saya bayar Rp.150.000,- untuk pergi ke gym dan mulai diet serta makan teratur. Setelah itu saya mengirimkan CV saya ke beberapa produser yang pernah saya kenal. Saya mengatakan "Pak, saya adalah mantan penyiar radio wartawan, bisa menjadi MC dan membawakan acara lepasan. Ijinkan saya untuk casting." Pokoknya saat itu saya melakukan bagian saya sebagai manusia.
Waktu awal melakukan casting, berkali-kali saya menemukan bahwa yang akhirnya mendapatkan peran adalah mereka yang sudah terkenal dan lebih dulu eksis, sampai akhirnya saya bosan ikut casting. Tapi lewat Firman-Nya Tuhan mengingatkan bahwa kesempatan akan datang bagi saya. "It's just a matter of time." Akhirnya saya termotivasi untuk ikut casting lagi. Dan kali itu, saya berhasil mendapatkannya. Sekarang saya sudah hampir 2 tahun menjalani karir saya sebagai presenter."

Tidak Cuma Menjaga Packaging Luar
Dalam meningkatkan daya jual dirinya, Choky mengakui bahwa ia berusaha meningkatkan packaging luar maupun dalamnya. "Dunia show business itu memang menjual tampang. Karena itu saya rajin diet dan menjaga tubuh di gym. Tapi saya juga harus mempunyai powerful mind. Jadi saya kuliah di jurusan komunikasi politik dan selalu membaca berbagai buku, koran dan majalah.
Kalau untuk buku, biasanya saya suka membaca buku-buku motivasi untuk belajar mengungkapkan kata-kata yang bisa menyentuh pribadi. Beberapa buku yang memotivasi saya adalah "Purpose Driven Life," "Your Best Life Now" dan juga berbagai karya Charles Swindoll tentang tokoh-tokoh Alkitab."

Menjadi Diri Sendiri
Choky juga percaya, pentingnya menjual diri sendiri ketika kita "menjual diri.' "Saya percaya setiap orang punya karakter yang berbeda. Kalau mau jadi professional, biarlah dia menjadi dirinya sendiri. Saya tidak mau mengeluarkan joke-joke yang keluar dari rel, misalnya. Bagi saya, di situlah saya justru menabur dan menunjukkan perbedaan. Bahkan di acara dangdut sekalipun (di program "Stardut", red).
Saya pernah berdoa, "Bapa, saya ingin ngomong di stasiun TV yang efeknya besar lewat suatu program yang dahsyat dan bisa menyentuh jiwa-jiwa. Sebab ketika kita menghibur orang, maka itu pun saya merupakan pelayanan. Saya pernah ditawari untuk jadi presenter di "Indonesian Idol." Bukan saya menolak, tapi disaring oleh Tuhan sendiri.
Waktu casting, mereka meminta saya melupakan program Stardut selama 6 bulan supaya image saya berubah. Tapi saya merasa saya justru dipakai Tuhan di program Stardut karena disitu saya bisa bereksplorasi mengolah kata, membawa perubahan dan menampilkan perbedaan. Beberapa senior juga mengatakan program ini tidak level, tapi saya justru berpikir bahwa saya tidak mau membajak lahan orang lain. Setiap orang dirancang untuk ada di tempat yang berbeda."

Sumber: http://www.jawaban.com
READ MORE - Kesaksian Choky Sitohang: Melakukan Bagiannya Sebagai Manusia

Jumat, 12 Juli 2013

Humor: Berdoa dengan Cara Menirukan

Jesica, seorang gadis kecil berusia 3 tahun sering berkata kepada ibunya bahwa dia takut kepada hantu. Oleh karena itu ibunya mengajarkan Jesica berdoa supaya ia tidak takut kepada hantu.

Ibu : "Jesica, Tuhan Yesus sangat berkuasa dan hantu takut dengan Tuhan Yesus. Nah, kalau Jesica takut, Jesica harus usir hantu itu dalam nama Tuhan Yesus."

Ibu Jesica sangat bangga karena sekarang anaknya tidak takut lagi setelah diajarkan bagaimana mengusir hantu, bahkan Jesica berhasil mengingat semua kata-katanya dengan benar berulang-ulang.

Ibu : "Bagus! Coba sekarang ulang sekali lagi."
Jesica : "DALAM NAMA TUHAN YESUS, HANTU PERGI!!!"

Pada saat yang lain ibu Jesica mengajarkan Jesica berdoa makan dengan cara memintanya menirukan kata-kata yang ibunya ucapkan.

Ibu : "Tuhan Yesus ...."
Jesica : "Tuhan Yesus ...."
Ibu : "Jesica mau makan ...."
Jesica : "Jesica mau makan ...."
Ibu : "Terima kasih untuk makanan ini ...."
Jesica : "Terima kasih untuk makanan ini ...."
Ibu : "Dalam nama Tuhan Yesus ...."
Jesica : "HANTU PERGIII ... !!!"
Ibu : "???...... Amin."
Jesica : "Amin."

Sumber: http://ketawa.com/2008/12/17/5475-berdoa-dengan-cara-menirukan.html#ixzz2Yu7llecI
READ MORE - Humor: Berdoa dengan Cara Menirukan

Minggu, 07 Juli 2013

Cerita Inspiratif: 20 Berkat

  1. Mengapa saya berkata “Saya tidak bisa” jika Alkitab mengatakan bahwa saya bisa melakukan segala sesuatu di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada saya? (Fil 4:13)
  2. Mengapa saya merasa kurang jika saya tahu bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan saya menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus? (Fil 4:19)
  3. Mengapa saya harus merasa takut jika Alkitab berkata bahwa Tuhan tidak memberi saya roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, ketertiban? (2 Tim 1:7)
  4. Mengapa saya harus merasa kurang iman jika saya tahu bahwa Allah telah mengaruniakan kepada saya ukuran iman tertentu? (Rom 12:3)
  5. Mengapa saya menjadi lemah jika Alkitab berkata bahwa Allah adalah terang dan keselamatan saya dan bahwa saya akan tetap kuat dan akan bertindak? (Maz 27:1, Dan 11:32) 
  6. Mengapa saya harus membiarkan iblis menang atas hidup saya jika Roh yang ada di dalam saya lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia? (1 Yoh 4:4)
  7. Mengapa saya harus pasrah kalah jika Alkitab berkata bahwa Allah dalam Kristus selalu membawa kita di jalan kemenanganNya? (2 Kor 2:14)
  8. Mengapa saya harus kekurangan hikmat jika Kristus sendiri telah menjadi hikmat bagi saya dan Allah akan memberi hikmat jika saya minta padaNya? (1 Kor 1:30; Yak 1:5)
  9. Mengapa saya harus depresi jika saya dapat mengingat bahwa saya dapat berharap pada Allah yang kasih setiaNya tidak habis-habisNya setiap pagi? (Rat 3:21-23)
  10. Mengapa saya harus kuatir, resah, dan rewel jika saya dapat menyerahkan segala kekuatiran saya pada Tuhan yang memelihara saya? (1 Pet 5:7)
  11.  Mengapa saya harus selalu hidup dalam beban jika saya tahu bahwa di mana ada Roh Allah, ada kemerdekaan, dan Kristus telah memerdekakan kita? (2 Kor 3:17; Gal 5:1) 
  12. Mengapa saya harus merasa terhukum jika Alkitab berkata bahwa saya tidak ada lagi di bawah penghukuman sebab saya di dalam Kristus? (Rom 8:1)
  13. Mengapa saya harus merasa sendirian jika Yesus berkata Ia akan selalu menyertai saya, tidak akan membiarkan dan tak akan meninggalkan saya? (Mat 28:20; Ibr 13:5)
  14. Mengapa saya harus merasa terkutuk atau merasa saya menjadi korban nasib sial jika Alkitab berkata bahwa Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum taurat sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu? (Gal 3:13-14)
  15. Mengapa saya harus merasa tidak puas dalam hidup ini jika saya,seperti Paulus, bisa belajar untuk menjadi puas dalam segala keadaan? (Fil 4:11)
  16. Mengapa saya harus merasa tidak layak jika Kristus telah dibuat menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah? (2 Kor 5:21)
  17. Mengapa saya merasa takut disiksa orang jika saya tahu bahwa jika Allah di pihak saya tidak ada yang akan melawan saya? (Rom 8:31)
  18. Mengapa saya harus bingung jika Allah adalah Raja Damai dan Ia memberi saya pengetahuan melalui RohNya yang diam di dalam kita? (1 Kor 14:33;2:12)
  19. Mengapa saya harus terus-menerus gagal dan jatuh jika Alkitab berkata bahwa sebagai anak Allah saya lebih daripada orang-orang yang menang dalam segala hal, oleh Dia yang telah mengasihi saya? (Rom 8:37)
  20. Mengapa saya harus membiarkan tekanan hidup mengganggu saya jika saya dapat punya keberanian karena tahu Tuhan Yesus telah menang atas dunia dan penderitaan (Yoh 16:33)? ” Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah ! ” (Mazmur 46:11a)
READ MORE - Cerita Inspiratif: 20 Berkat

Minggu, 30 Juni 2013

Renungan Harian: Tak Lagi Letih

Ia menyegarkan jiwaku.
Mazmur 23:3 

Tak perlu menunggu ia mengatakannya. Dari sorot matanya kita tahu bahwa ia letih. Bahunya terkulai. Langkahnya juga tak pasti. Kegetiran hidup mengurasnya. Kekecewaan membayanginya. Beban dan tekanan hidup yang berat menindihnya. Letih.

Kawanan domba juga kenal dengan istilah letih. Menempuh perjalanan yang jauh bisa menjadi penyebabnya. Tapi gembala punya cara sendiri untuk memulihkan kawanan domba itu, ia membawa ke sebuah sungai yang berair tenang dan membiarkan kawanan domba itu merasakan segarnya air yang mengalir.

Ia tahu keletihan kita. Ia tahu kita tak bisa menahan beban yang menindih lebih lama lagi. Itu sebabnya Sang Gembala berkata lembut, "Marilah datang kepadaKu,

semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu." Kata-kata yang menyegarkan jiwa. Seperti air segar yang mengguyur. Hanya masalahnya apakah kita mau datang kepada Gembala yang baik? Ataukah sebaliknya kita terlalu sombong dan memilih mengeraskan hati? Tak cukup datang, tapi juga mau mempercayakan beban kita kepadaNya. Sayangnya, beberapa orang memilih terus menanggung beban keletihan itu. Seperti seseorang yang telah menempuh perjalanan jauh dan ketika memutuskan untuk berhenti, ia beristirahat dengan tas ransel berat yang terus dipikulnya! Bukankah ini sangat konyol sekaligus bodoh?

Letakan beban kita di bawah kakiNya. Lepaskan diri dari beban yang selama ini menindih. Biarkan Ia menyegarkan jiwa kita yang letih.

Sumber: http://www.renungan-spirit.com

READ MORE - Renungan Harian: Tak Lagi Letih

Selasa, 25 Juni 2013

Kesaksian : Didik Nini Thowok

Sosok Didik Nini Thowok adalah sosok yang lekat dengan tarian humoris. Membawakan karakter perempuan dan gerak-gerak tarian yang " diplesetkan", Didik selalu berhasil membuat penontonnya tertawa terpingkal-pingkal. Setelah puluhan tahun belajar seni tari dari berbagai daerah, antara lain Jawa, Sunda, Bali, dan Jepang, kini Didik berhasil memadukan semua gaya itu menjadi tarian dengan gayanya sendiri yang khas dan humoris. Dengan kemampuannya itu Didik meraih sukses sebagai penari yang melintas batas budaya dan negara.

Penampilannya yang selalu mengundang kegembiraan itu tidak hanya dapat dinikmati di atas panggung tapi juga dalam hidup kesehariannya. Tawa renyah yang selalu dihadirkannya seolah membuat orang tidak percaya bahwa iapun pernah menderita. Padahal sebenarnya kehidupan lelaki kelahiran Temanggung, 13 November 1954 itu tidak tergolong berkelimpahan.

Terlahir sebagai Kwee Tjoen Lian yang kemudian diganti menjadi Kwee Yoe An karena sakit-sakitan, ia sulung dari lima bersaudara pasangan Kwee Yoe Tiang dan Suminah. Keluarga besarnya hidup pas-pasan. Ayahnya pedagang kulit sapi dan kambing yang bangkrut dan kemudian menjadi supir truk.

Ibunya membuka warung kelontong kecil-kecilan. Begitu seret rejeki keluarga ini sampai-sampai Didik kecil harus ikut bekerja membantu orang tuanya.

Meski dari segi materi tumbuh dalam keluarga yang berkekurangan tetapi Didik kecil selalu berkelimpahan dengan kasih sayang. Dalam kesempitan materi, ia menikmati masa kecilnya dengan bekerja, belajar, dan menonton berbagai kesenian, ketoprak, ludruk, dan wayang yang akhirnya mengasah rasa seninya.

Di masa itu, Didik bukan hanya belajar bekerja keras tapi juga belajar bersabar. Sejak kecil ia memang suka membawakan tarian yang lemah gemulai seperti perempuan, karena itu ia diejek oleh orang-orang sekitarnya, "Kamu ini anak laki-laki apaan sih? Kok menarinya seperti perempuan?".

Setiap kali diejek, ia menjadi sangat sedih. Ia hanya bisa diam, tidak membalas dan tidak mengadu pada orang tuanya. Ia hanya berdoa sambil menangis, "Tuhan, aku marah tapi aku tidak akan membalasnya. Aku yakin Kamulah yang akan membalaskannya untukku." Setelah itu, iapun menjadi lega dan malah lebih semangat berlatih menari. Baru bertahun-tahun kemudian doanya itu terjawab.

Dari pengalaman hidup, perlahan-lahan iapun memahami bahwa semua hal yang membuatnya sedih, kemiskinan, dan penghinaan hanyalah cara Tuhan mengajaknya bercanda. Ia menjadi yakin Tuhan tidak akan membuatnya sengsara sehingga ia lebih tenang dan pasrah menghadapi berbagai persoalan. Pemahamannya ini merupakan buah pengasuhan orang tua dan kakek neneknya yang cukup disiplin. Pendidikan dan kasih sayang mereka menjadikannya pribadi yang setia dalam doa, tegar, suka bekerja keras, dan berperasaan halus.

Semasa kuliah di ASTI ( Akademi Seni Tari Indonesia ), ketika Didik mulai mendapat honor dari pertunjukan dan melatih menari, ia ingin sekali membeli sepeda motor supaya tidak kelelahan mengayuh sepedanya kesana kemari. Sejak itu ia betul-betul berhemat. Setelah uangnya terkumpul Rp 200.000, ia sangat gembira, motor yang diidamkan terbayang di depan mata. Tiba-tiba ia teringat ibunya. Bergegas ia pulang ke Temanggung dan mendapati perut ibunya membesar karena kanker. Dengan uang Rp 200.000 itu, ia segera membawa ibunya ke Yogyakarta untuk dioperasi. Operasi itu berhasil baik dan ibunyapun sehat kembali. Didik sangat bahagia, tak secuilpun rasa kecewa menghinggapinya karena belum bisa mendapatkan sepeda motor. Bagi dia kesehatan dan kebahagiaan ibunya diatas segala harta yang bisa ia punya. Ia memahami, saat itu Tuhan memang hanya mencandainya karena selang beberapa tahun, Didik bukan hanya bisa membeli sepeda motor tapi bahkan mobil dan rumah.

Sedari kecil dengan berbagai cara Didik belajar bersyukur dan berdoa. Ia suka ikut kakeknya yang beragama Konghucu berdoa di kelenteng dan neneknya yang Kristen ke gereja. Kini ia adalah pengikut Kristen Protestan yang taat. Ia mengakui bahwa ia adalah laki-laki yang cengeng (mudah menangis) setiap kali berdoa. Sebenarnya ia ingin sekali rajin ke gereja tapi kesibukan yang sangat padat membuatnya sering tidak punya kesempatan untuk melaksanakannya setiap minggu. Untuk itu setiap ada kesempatan ia mengundang pendeta untuk mengadakan persekutuan doa di rumahnya. Dalam persekutuan doa itulah ia selalu terharu dan menangis saat memberi kesaksian akan kebesaran Tuhan yang telah ia alami.

Salah satu kesaksiannya adalah tentang rahasia kesuksesannya. Dengan mantap ia mengatakan " Ora et Labora ", dalam segala kesibukan saya selalu berdoa, dimanapun. Setiap kali akan manggung, saya selalu menyediakan waktu untuk berkonsentrasi, kemudian berdoa Syahadat Para Rasul, Bapa Kami dan Salam Maria dari buku doa pemberian Suster Leonie, kakak angkat saya. Tak lupa saya juga selalu mohon restu pada semua guru-guru tari saya yang telah almarhum.

Selama bertahun-tahun Didik sungguh-sungguh merasakan bahwa doa adalah kekuatan di balik semua kesuksesannya. Keyakinan ini membuatnya tidak berani sombong." Saya mengakui, ketika menari seolah-olah ada kekuatan di luar diri yang ikut menggerakkan dan menghiasi tubuh saya. Saya yakin, kekuatan saya sendiri tidak akan mampu menyelenggarakannya tetapi kekuatan itulah yang menjadikan tarian yang saya bawakan terlihat begitu indah dan memberi kegembiraan bagi banyak orang".

Menurut pengakuannya sudah ada banyak orang yang mengamini hal itu. Mereka bilang, ketika menonton Didik menari, mereka melihat pancaran aura yang sama sekali lain dari kesehariannya. Misalnya, dalam suatu pertunjukan seorang ibu melihat ada burung merpati mengelilingi Didik menari. Setelah pertunjukan rampung, ia langsung menelepon Didik menyatakan kekagumannya, " Proficiat, Mas! Tarianmu benar-benar indah, apalagi ada burung merpatinya ". Kaget juga Didik menerima komentar itu karena sebenarnya ia sama sekali tidak menggunakan burung merpati dalam tariannya itu.

Dalam suatu perjalanan ke luar negeri, tas Didik yang berisi passport, uang, kamera, dan dokumen berharga lainnya ketinggalan di kereta api.
Menurut staf KBRI yang dilaporinya tidak ada harapan tas akan kembali. Tentu saja Didik shock, tidak bisa makan dan tidur, tapi selang 2 hari setelah kejadian ia ditelepon oleh staf KBRI bahwa tasnya telah ditemukan. Ajaib juga, setelah diperiksa semua isinya utuh, ini pasti karena buku doa kumal pemberian Suster Leonie ada di dalamnya, Didik hanya bisa tertawa bahagia. Lagi-lagi Tuhan mengajaknya bercanda.

Dalam hidup Didik, ada begitu banyak mukjizat yang telah dibuat Tuhan. Dulu Didik masih berdebar-debar dan menangis sedih setiap kali menghadapi persoalan, tapi kini ia benar-benar tenang dan pasrah. Bagi Didik, Tuhan sering kali memberinya hadiah-hadiah yang tak terduga dan membuatnya bahagia. Pernah pada suatu tur kebudayaan di Eropa, karena perubahan jadwal yang tak terduga, ia tiba-tiba punya kesempatan berziarah ke Vatikan dan berdoa di Gereja St. Petrus dengan khusyuk, ia juga sempat ke Gunung Monserrat untuk mengunjungi Patung Bunda Maria Hitam.

Itulah Didik Nini Thowok yang kesuksesannya tak bisa dilepaskan dari ketekunannya berdoa. Semakin ia berdoa, semakin ia meyakini bahwa Tuhanlah satu-satunya kekuatan dalam hidupnya. Dengan demikian, ia tetap tidak sombong. Didik tetap hidup dengan sederhana di rumahnya yang sederhana di Jl. Jatimulyo, Yogyakarta, di pinggir sungai yang ditinggalinya sejak tahun 1980-an.

Kini, setelah semua cita-cita masa kecilnya terwujud, ia hanya ingin bersyukur dan bersyukur. Untuk itu ia berbagi kebahagiaan dengan mendirikan yayasan yang menyantuni biaya pendidikan 60 anak. Dan di usianya yang ke-50, kebahagiaannya semakin lengkap ketika ia boleh mengasuh seorang bayi laki-laki yang ia beri nama Aditya Awaras Hadiprayitno, setelah menantikan selama bertahun-tahun.
Menjadi saksi kebesaran Tuhan atas dirinya, ia hanya bisa berkata, "Saya percaya, kesuksesan dan kebahagiaan saya adalah jawaban Tuhan atas semua doa-doa saya. Bahkan sekarang tidak ada lagi yang bisa menghina saya karena menarikan tarian perempuan. Ya, Tuhan memang selalu menguji saya sampai batas waktu terakhir, sampai-sampai, setiap kali saya berdoa, saya tidak tahu lagi apakah saya harus menangis atau tertawa. Memang, Tuhan itu suka bercanda."

Sumber: http://artikel.sabda.org
READ MORE - Kesaksian : Didik Nini Thowok

Kamis, 20 Juni 2013

Humor: Jika Tidak Ada Wanita

Seorang wanita menjadi pembicara dalam sebuah seminar sedang berpidato di antara banyak orang, "Apa yang akan dilakukan oleh para pria saat ini jika tidak ada wanita?"

Dia diam sejenak dan melihat ke sekeliling ruangan untuk menunggu reaksi hadirin, "Saya ulang sekali lagi, apa yang akan dilakukan para pria jika tidak ada wanita?"

Tiba-tiba ada suara pria yang menyahut dari belakang ruangan itu, "Makan strawberry di Taman Eden!"

Sumber: http://ketawa.com/
READ MORE - Humor: Jika Tidak Ada Wanita

Senin, 17 Juni 2013

Cerita Inspiratif : Pengakuan Dosa

Ada seorang bocah laki-laki sedang berkunjung ke kakek dan neneknya dipertanian mereka. Dia mendapat sebuah katapel untuk bermain-main di hutan. Dia berlatih dan berlatih tetapi tidak pernah berhasil mengenai sasaran. Dengan kesal dia kembali pulang untuk makan malam. 

Pada waktu pulang, dilihatnya bebek peliharaan neneknya. Masih dalam keadaan kesal, dibidiknya bebek itu dikepala, matilah si bebek. Dia terperanjat dan sedih.

Dengan panik, disembunyikannya bangkai bebek didalam timbunan kayu, dilihatnya ada kakak perempuannya mengawasi. Sally melihat semuanya, tetapi tidak berkata apapun.

Setelah makan, nenek berkata, “Sally, cuci piring.”

Tetapi Sally berkata, “Nenek, Johnny berkata bahwa dia ingin membantu didapur, bukankah demikian Johnny?”

Dan Sally berbisik, “Ingat bebek?”

Jadi Johnny mencuci piring.

Kemudian kakek menawarkan bila anak-anak mau pergi memancing, dan nenek berkata, “Maafkan, tetapi aku perlu Sally untuk membantu menyiapkan makanan.”

Tetapi Sally tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa, karena Johnny memberitahu kalau ingin membantu.”

Kembali dia berbisik, “Ingat bebek?”

Jadi Sally pergi memancing dan Johnny tinggal dirumah.

Setelah beberapa hari Johnny mengerjakan tugas-tugasnya dan juga tugas-tugas Sally, akhirnya dia tidak dapat bertahan lagi. Ditemuinya nenek dan mengaku telah membunuh bebek neneknya dan meminta ampun.

Nenek berlutut dan merangkulnya, katanya, “Sayangku, aku tahu. Tidakkah kau lihat, aku berdiri dijendela dan melihat semuanya. Karena aku mencintaimu, aku memaafkan. Hanya aku heran berapa lama engkau akan membiarkan Sally memanfaatkanmu.”


Aku tidak tahu masa lalumu. Aku tidak tahu dosa apakah yang dilemparkan musuh kemukamu. Tetapi apapun itu, aku ingin memberitahu sesuatu. Yesus Kristus juga selalu berdiri dijendela. Dan Dia melihat segalanya.

Dan karena Dia mencintaimu, Dia akan mengampunimu bila engkau memintanya. Hanya Dia heran melihat berapa lama engkau membiarkan musuh memperbudakmu.

Hal yang luar biasa adalah Dia tidak hanya mengampuni, tetapi Dia juga melupakan.

Sumber: http://ceritabijak.com/tag/kristen/
READ MORE - Cerita Inspiratif : Pengakuan Dosa