AJARAN KRISTEN SEBAGAI PENUNTUN HIDUP

ajaran kristen tentang banyak hal

Yesus berkata: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Selasa, 23 April 2013

Cerita Inspiratif : Aku Belajar

Aku belajar….
bahwa tidak selamanya hidup ini indah, kadang TUHAN mengijinkan aku melalui derita.
Tetapi aku tahu bahwa IA tidak pernah meninggalkanku, sebab itu aku belajar menikmati hidup dengan bersyukur. 

Aku belajar….
bahwa tidak semua yang aku harapkan akan menjadi kenyataan, kadang TUHAN membelokkan rencanaku. Tetapi aku tahu bahwa itu lebih baik dari yang aku rencanakan, sebab itu aku belajar menerima semua itu dengan sukacita.

Aku belajar….
bahwa pencobaan itu pasti datang di hidupku, aku tidak mungkin berkata “tidak TUHAN”.
Karena aku tahu bahwa semua itu tidak melampaui kekuatanku, sebab itu aku belajar menghadapinya dengan sabar.

Aku belajar….
bahwa tidak ada kejadian yang harus disesali dan ditangisi, karena semua rancanganNYA indah bagiku.

Maka dari itu aku belajar bersabar, bersyukur, & bersukacita dalam segala perkara. Karena semua itu menyehatkan jiwa & menyegarkan hidupku.

•Ketika “Kaki” sudah tak kuat berdiri… “BERLUTUTLAH”.

•Ketika “Tangan” sudah tak kuat menggenggam… “LIPATLAH”

•Ketika “Kepala” sudah tak kuat ditegakkan… “MENUNDUKLAH”

•Ketika “Hati” sudah tak kuat menahan kesedihan… “MENANGISLAH. 

•Ketika “Hidup” sudah tak mampu untuk dihadapi… “BERDOALAH”

TUHAN selalu setia bersama kita dan apa saja yang kamu minta dalam DOA dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya…

TUHAN mendengar lebih dari yang kau katakan..

TUHAN menjawab lebih dari yang kau minta..

TUHAN memberi lebih dari yg kau inginkan..

Karena di belakangmu ada kekuatan yang tak terhingga..

Di hadapanmu ada kemungkinan tanpa batas..

Di sekitarmu ada kesempatan yang tiada akhir. Lebih dari itu, di atasmu ada TUHAN yang selalu menyertaimu..

Kasih TUHAN padamu seperti lingkaran, tak berawal & tak berakhir.
Tuhan Yesus memberkati

Sumber: http://ceritabijak.com/tag/kristen/
READ MORE - Cerita Inspiratif : Aku Belajar

Kamis, 18 April 2013

Renungan Harian : Budaya Beribadah

Bacaan: Matius 15:1-20
Nats: Matius 15:2

"Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan."

Makan itu ada budayanya sendiri. Tiap daerah memiliki budaya yang berbeda. Pergilah ke daratan Cina, Anda harus bersiap-siap menggunakan sumpit sebagai ganti sendok dan jangan kaget atau merasa aneh kalau mereka yang duduk semeja dengan Anda bersendawa dengan bebasnya. Budaya Latin juga berbeda, kalau Anda menghabiskan semua makanan di piring Anda tanpa sisa, itu sama saja memberitahukan kepada tuan rumah bahwa Anda masih lapar. Di Italia, para bangsawan selalu meletakkan pisau dan garpu bersilang setelah selesai makan. Budaya Yahudi berbeda lagi. Ada aturan mutlak yang harus mereka patuhi soal makan, yaitu membasuh tangan lebih dulu sebelum makan.

Suatu ketika murid-murid Yesus mengindahkan tata cara makan ala Yahudi ini. Akibatnya, Yesus ditegur habis-habisan oleh orang-orang Farisi dan ahli taurat hanya karena para murid tidak membasuh tangan lebih dulu sebelum makan. Jawaban Yesus sungguh bijak menanggapi pertanyaan Farisi, bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.

Saya mau beritahu, tapi jangan kaget. Kita seringkali bertindak seperti para Farisi dan ahli taurat itu. Kekristenan tak lebih dari sekedar tata cara dan aturan, bukan kehidupan. Kening kita mengkerut dan tidak suka kalau tata cara beribadah yang dilakukan tidak seperti aturan baku dalam gereja kita. Kita lebih memusingkan soal bertepuk tangan atau tidak. Kita lebih memusingkan antara memakai musik lengkap ataukah hanya menggunakan organ tua. Bagi yang biasa beribadah dengan tenang akan marah kalau suasana ibadah meriah dan hiruk pikuk. Bagi yang biasa beribadah dengan meriah akan mengecam kalau ibadah itu tidak ada urapan, seandainya dilakukan dengan cara yang tenang.

Kekristenan lebih penting hanya dari sekedar tata cara atau budaya saja. Kekristenan bukan hanya sekedar ritual belaka, tapi sungguh merupakan kehidupan nyata. Jadi, bagaimanapun beraneka ragam budaya saat beribadah itu tak terlalu penting, tak perlu dipusingkan, apalagi dipeributkan. Tuhan kita adalah Tuhan diatas segala budaya. Jadi, apakah kita akan memegahkan diri kalau merasa bahwa tata cara ibadah kita lah yang paling berkenan di hadapan Tuhan?

Lebih fokus kepada gaya hidup kita sebagai orang Kristen daripada ritual yang kita lakukan.

Sumber: http://www.renungan-spirit.com
READ MORE - Renungan Harian : Budaya Beribadah

Jumat, 12 April 2013

Kesaksian: Nasib Anak Papua di Metropolitan

Edo Kondologit hanya seorang pemuda asal Papua (Irian Jaya), tepatnya desa Klapot Sorong. Lahir dari keluarga miskin 5 Agustus 1967, sangat akrab dengan kehidupan alam bebas karena hanya hutan, rawa, pegunungan, dan sungai yang mengelilinginya. Tidak sedikitpun terbayang akan kota besar, apalagi Jakarta yang selama ini hanya dikenalnya lewat gambar-gambar. 

Di Sorong, ia bertemu dengan seorang purnawirawan TNI yang melatihnya menjadi pelari dengan medan Sorong yang bergunung-gunung. Ia diajak pindah ke Jakarta agar dapat dilatih dan dipersiapkan menjadi pelari yang handal dan dapat mengikuti kejuaraan-kejuaraan lari. Namun sayang, ia tidak berhasil dan menyebabkannya memiliki niat untuk pulang dan tidak menjadi atlet lari. Tapi ia tidak memiliki ongkos untuk pulang, dan ia mulai berfikir mencari serta mengumpulkan uang agar bisa pulang. 

Edo Kondologit mulai dengan menjadi kuli bangunan. Ia mengangkat batu, mengaduk pasir, dan sebagainya dengan penghasilan yang sangat minim. Dari tukang bangunan, ia berpindah menjadi seorang satpam di daerah Kelapa Gading Jakarta Utara. Ia mulai menjadi seorang pemimpin yang punya kuasa atas keamanan di lingkungan perumahan. Setelah menjadi satpam perumahan, ia pindah ke sebuah kafe di Jakarta. Selain menjadi satpam, ia juga menjadi seorang petugas kebersihan di kafe itu, semua pekerjaan dilakukan dngan penuh semangat dan tanpa ada rasa terpaksa, ia belajar untuk selalu bersyukur kepada Tuhan. 

Waktu senggangnya selalu digunakan bernyanyi memuji nama Tuhan, Ia memang suka menyanyi sejak kecil. Saat menyanyi dirasakannya suka cita yang mendalam, sehingga ia memiliki semangat yang tinggi menjalani kehidupannya di kota metropolitan. Ia sangat menikmati pekerjaannya, termasuk saat bernyanyi untuk menghibur teman-temannya. Banyak teman-temannya bilang suaranya bagus dan sangat terhibur oleh lagu-lagu yang dilantunkannya. Tidak terpikir baginya untuk menyanyi sebagus mungkin, sampai ada saran dari temannya untuk menyumbangkan lagu di kafe. 

Sejak itu ia mulai menyanyi di kafe itu, ia menyanyi untuk menghibur orang tanpa peduli apakah dibayar atau tidak. Edo Kondologit mulai sering mengikuti lomba-lomba menyanyi, dan atas dorongan teman-temannya tahun 1992 ia mengikuti audisi peserta Asia Bagus yang diadakan di Singapura. Dari 30 peserta hanya 5 yang terpilih dan ia salah satu diantaranya. Ia sangat senang, dan berangkat ke Singapura untuk mengikuti audisi itu. 

Setelah Asia Bagus, ia mendapat berbagai kesempatan menjadi backing vocal penyanyi-penyanyi terkenal seperti Ermi Kulit, Ruth Sahanaya, dan artis lainnya. Ia mendapat banyak kesempatan untuk berkeliling ke berbagai tempat mengiringi berbagai macam show. Bukan hanya penyanyi Indonesia yang mengakui kemampuannya, tetapi penyanyi lainpun mulai melihat potensinya sebagai backing vocal. Oleh Erwin Gutawa, pada bulan Desember 1992 ia memperoleh kesempatan menjadi backing vocal dari seorang penyanyi profesional Malaysia yang mengadakan konser terbesarnya. 

Banyak hal yang tak pernah dipikirkannya terjadi dan disediakan Tuhan padanya. Terus ia berusaha menggali potensi yang dimilikinya, menghayati setiap lagu yang dinyanyikannya sebagai satu kenikmatan. Ia selalu berharap kepada Tuhan dalam menghibur banyak orang. Orag tuanya selalu membimbingnya untuk beriman dan berpengharapan kepada Tuhan dalam menjalani kehidupan, sehingga walaupun tengah mengalami kesukaran, ia tetap teguh dan beriman pada Tuhan. Edo Kodologit tidak mau putus asa menjalani setiap halangan dalam hidupnya, kini ia bisa menikmati hasil yang mungkin baru sebagian kecil dari apa yang Tuhan telah sediakan dalam hidupnya. 

Setelah sekian lama mengadu nasib di metropolitan, akhirnya ia boleh menikmati sedikit hasilnya dan boleh berdiri di Rumania untuk menerima penghargaan atas usahanya yang tidak kenal lelah. Hidup masipanjang, harapan keluarga dan hidupnya masih banyak yang harus diwujudkan dengan tetap berharap pada Tuhan. Berbagai festival diikutinya untuk meningkatkan potensi yang dimilikinya. Pada bulan Agustus 1999, Ia mampu menembus Voice of Asia International Song Festival di Kazakhtan mewakili Indonesia sebagai juara pertama dari 21 peserta. 

Berkat Tuhan tidak pernah berkesudahan, akhirnya pada tahun 1996 ia meminang seorang gadis cantik berkulit putih sebagai istrinya. Bahkan sekarang sudah memiliki seorang putri cantik yang telah berusia 2 tahun, buah kasihnya bersama istri tercinta. Tuhan tetap mempercayakan perkara yang besar dalam hidupnya, karena tahun 2004 ini ia diberi kepercayaan melakukan rekaman album solo yang dilakukan di Jepang. Rekaman yang dilakukan ini dikontrak dan didstribusikan oleh sebuah perusahaan di Jepang dan mendapat sambutan yang sangat hangat. 

Edo Kondologit menyadari, semua yang didapatnya adalah atas berkat dan kasih karunia Tuhan, dan ia menyadari apa yang diperoleh tidak datang dengan sendirinya tetapi melalui proses yang sangat panjang. Sebagai ungkapan syukur, ia selalu memberikan diri dalam pelayanan bagi umat Tuhan, baik perkataan, perbuatan dan segala ucapan hanya untuk kemuliaan Tuhan. 

Sumber:  http://kesaksian.sabda.org/nasib_anak_papua_di_metropolitan
READ MORE - Kesaksian: Nasib Anak Papua di Metropolitan

Senin, 08 April 2013

Humor : Kasihan Sekali Singanya

Samuel dibawa ayahnya menonton film tentang kehidupan di zaman kekaisaran Roma. Ketika di layar muncul adegan budak-budak dan orang- orang Kristen dilempar ke dalam stadion yang penuh singa yang siap memakan mereka, Samuel menggenggam tangan ayahnya kuat-kuat dan mulai menangis.

"Jangan menangis. Ini hanya sebuah film."

"Tapi Ayah, lihatlah singa yang di pojok itu."

"Itu hanya sebuah film, Sam."

"Tapi Ayah, singa yang di pojok itu," kata Samuel dengan tersedu-sedu,

"Dia belum mendapat bagian makanan. Kasihan singa itu, Yah ... dia kelaparan." kata Samuel sambil terus menangis.

Sumber: http://ketawa.com
READ MORE - Humor : Kasihan Sekali Singanya

Minggu, 31 Maret 2013

Cerita Inspiratif: Arthur Ashe (True Story)

Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yang memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; Amerika Open (1968), Australia Open (1970), dan Wimbledon (1975).

Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yg mengharuskannya menjalani operasi by pass. Setelah dua kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui transfusi darah yang ia terima.

Seorang penggemar menulis surat padanya, "Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?"

Ashe menjawab, "Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis, di antaranya 5 juta orang yang bisa belajar bermain tenis, 500 ribu belajar menjadi pemain tenis profesional, 50 ribu datang ke arena untuk bertanding, 5.000 mencapai turnamen grand slam, 50 orang berhasil sampai ke Wimbledon, empat orang di semi final, dua orang berlaga di final. Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan, 'Mengapa saya?' Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan, 'Mengapa saya?'".

Sadar atau tidak, kerap kali kita merasa hanya pantas menerima hal-hal baik dalam hidup ini; kesuksesan, karier yang mulus, kesehatan.

Ketika yang kita terima justru sebaliknya; penyakit, kesulitan, kegagalan, kita menganggap Tuhan tidak adil. Sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Tuhan.

Namun Ashe, tidak demikian.tetap teguh dalam pengharapan, pun bila beban hidup menekan berat. Ketika menerima sesuatu yang buruk ingatlah saat-saat ketika kita menerima yang baik.

Tetapi jawab Ayub, "...Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya." (Ayub 2:10)

Tuhan bisa menggunakan pengalaman hidup kita untuk melayani, memotivasi dan menginspirasi orang lain.

Kita tidak bisa hanya menerima sesuatu yang baik saja dari Tuhan tetapi juga kita harus bisa menerima apapun yang tidak pernah kita harapkan, ingatlah Tuhan tahu apa yang hendak Dia lakukan dalam hidup kita. Yoh 6:6 - Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab ia sendiri tahu, apa yang hendak di lakukan-Nya.

Sbab Dia bisa merenda hidup kita menjadi sebuah bangunan yang indah bagi kemuliaanNya.

Sumber: http://inspirasi-kristen.blogspot.com
READ MORE - Cerita Inspiratif: Arthur Ashe (True Story)

Selasa, 26 Maret 2013

Renungan Harian : Kuasa Kasih

Nats : I Tesalonika 3:12 

kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih... 


Hal-hal paling baik dan paling indah di dunia ini tidak bisa dilihat dengan mata, atau disentuh ... tetapi dirasakan dengan hati.

Anda mungkin pernah membaca kata mutiara yang sangat menyentuh hati tersebut. Hanya mungkin Anda tidak pernah tahu sebelumnya bahwa pengarang kata mutiara tersebut adalah Helen Keller, seorang wanita yang buta tuli sejak berusia 19 bulan. Karena cacat itulah Helen bertumbuh menjadi anak yang susah diatur. Dia tidak bisa melihat dan tidak bisa mendengar suara apapun. Dia tak bisa berkomunikasi dengan dunia sekitarnya. 

Rasanya hampir mustahil untuk membuat Helen bisa berkomunikasi karena ia buta sekaligus tuli. Adalah seorang Anne Sullivan yang penuh dengan kasih mencoba mengajari Helen untuk bisa berkomunikasi. Anne mengajari Helen untuk membaca gerakan tangannya di atas telapan tangan Helen. Setelah sekian lama tanpa hasil, akhirnya Helen bisa mengerti juga dengan apa yang dimaksud Anne lewat sentuhannya di atas telapak tangannya. Semenjak itu kemampuan belajarnya jauh di atas orang normal meski ia buta dan tuli. Sampai hari ini kita mengenal Helen Keller sebagai seorang pembicara yang luar biasa, menjadi berkat bagi banyak orang dan jasanya terus dikenang sampai sekarang. 

Meski namanya jarang dibicarakan, saya sangat salut dengan Anne Sullivan. Mengajari orang buta- tuli bukan hal yang mudah, dan rasanya juga mustahil. Namun karena ia didorong oleh kasih, maka tak ada kata menyerah atau putus asa, bahkan akhirnya hal yang tidak mungkin pun menjadi mungkin! Kasih lah yang pada akhirnya mengubah kehidupan seseorang.

Kasih membuat perilaku suami berubah, bukan omelan. Kasih membuat pernikahan yang tawar menjadi manis, bukan kemewahan yang kita berikan. Kasih membuat anak-anak kita menjadi taat, bukan hadiah-hadiah yang kita berikan. Ada kuasa di dalam kasih. Kasih akan mengubah. Kasih akan memulihkan. Kasih akan memperbarui. Kasih akan membuat yang tak mungkin menjadi mungkin. Itu sebabnya anugerah terbesar adalah ketika kita menerima kasih dan perbuatan terbesar adalah ketika kita membagikan kasih.

Ijinkan kasih bekerja dan memerintah kehidupan kita.

Sumber: http://www.renungan-spirit.com/artikel-rohani/kuasa_kasih.html
READ MORE - Renungan Harian : Kuasa Kasih

Kamis, 21 Maret 2013

Kesaksian Bertha (Istri Robby Sugara): Penantian yang Panjang

Langit rasanya runtuh menimpa saya saat peristiwa itu. Bukan saya saja yang terpukul, tapi anak-anak saya juga. Mereka yang dulunya periang menjadi pemurung, hampir tiap hari saya dipanggil ke sekolah, menangani dampak dari kesedihan mereka yang dalam.

Perekonomian keluarga yang sudah sangat sulit menjadi ambruk sama sekali. Sementara anak-anak harus tetap sekolah dan makan. Berbagai usaha saya lakukan, yang penting halal, walaupun ada perasaan sedih dan malu karena memikul nama suami saya. Tapi saya tutup telinga karena bagaimanapun saya tetap harus menghidupi ketujuh anak saya. Walaupun harus berhemat luar biasa sehingga beberapa tahun kami harus bergelap-gelapan karena saat malam kami mengandalkan lilin. Itu karena kami tidak mampu membayar listrik.

Kesedihan saya yang terbesar karena ketakutan saya akan masa depan anak-anak saya. Pergaulan dan teman-teman saya banyak yang mengalami kehancuran rumah tangga seperti ini, dan semua anak-anaknya menjadi hancur menyedihkan. Sedih sekali, jangan sampai hal itu juga terjadi pada anak-anak saya.

Tapi saya tahu, saya tidak boleh terus bersedih dan merenungkan nasib saya. Karena kalau saya goyah, bagaimana anak-anak saya bisa bertahan. Untuk itu, saya harus menunjukan bahwa saya kuat, agar mereka bisa bertahan.

Pada saat-saat tertentu, seperti saat bermain, mereka bisa langsung berhenti bermain dan berlari mencari saya, menangis dengan sedihnya menyatakan betapa ia merindukan papinya. Saat makan bersama, anak saya bisa mendadak berhenti dan menangis dengan sedihnya, "Aduh Mama ... aduh ... tolong aku ... aku rindu ... aku rindu sekali dengan Papi ... bagaimana Mama...?!" Sebagai seorang ibu, apa yang harus saya lakukan menghadapi hal seperti itu?

Dalam kepedihan seperti itu, saya membawa anak-anak mengenal Tuhan. Hasilnya sekitar satu tahun kemudian, anak saya yang paling tua sering mengajak saudara-saudaranya bergandengan tangan, menyanyikan pujian penyembahan, dan berdoa. Saat mereka berdoa, saya menjadi begitu terharu, bangga, dan bahagia. "Tuhan kami mengampuni Papi kami karena ia tidak tahu apa yang diperbuatnya. Ampunilah juga perempuan yang mengambil Papi, berilah suami yang baik untuknya dan kembalikan Papi kami."

Sebelas Tahun Kemudian

Satu saat telepon berbunyi, ternyata telepon dari Robby. Robby selalu memanggil saya Etha. Robby mengatakan hal ini kepada saya, "Halo Etha, ini aku. Etha, aku mau pulang dan kembali ke rumah. Kamu bersabar yah, aku mau menyelesaikan semua masalah di sini. Aku pasti akan kembali padamu dan anak-anak!" Setelah suami saya Robby berbicara seperti itu, suatu perasaan sayang, perasaan cinta sepertinya mulai timbul dan saya rasakan kembali.

Satu tahun lewat, dua tahun lewat, tiga tahun lewat. Tapi ayahnya belum juga pulang sesuai janjinya. Anak saya yang pertama selalu membeli hadiah untuk kado ulang tahun papinya, menyiapkannya untuk papinya saat ia pulang. Dan ia tidak mau membuka kado-kado itu, meskipun papinya tidak kunjung pulang.

Priscila, putri saya menyatakan kerinduannya akan ayahnya, mewakili saudaranya, "Kami bertemu Papi hanya pada waktu Natal lalu saja, itu pun tidak bisa setiap tahun. Di saat itu, kami baru bisa melepas rasa kangen dan rindu. Kami benar-benar gunakan waktu untuk jalan bareng dan bercanda dengan Papi. Tapi, hanya di saat itu saja kami memunyai waktu dengan Papi."

Petronela, putri sulung Robby sungguh merindukan kehadiran ayahnya.

"Begitu bertemu Papi semua perasaan sakit di dada rasanya langsung hilang begitu saja. Tapi begitu Papi mau pergi lagi, aku memeluk Papi, rasanya sayang untuk melepas Papi pergi lagi. Kerinduanku akan Papi besar sekali. Kalau aku merasa kurang puas, aku biasanya akan tulis di diari atau di bukuku. Aku akan tulis: 'Papi, aku kangen banget sama Papi. Kok Papi nggak merasa apa yang aku rasain sih? Aku sungguh kangen Papi!'. Aku selalu menulis tulisan itu berulang-ulang dengan kata-kata yang sama."

Suatu hari pada bulan Januari 1998, Robby berjanji untuk kembali ke rumah pada tanggal sekian. Anak-anak menanti ayah mereka kembali ke rumah hingga jauh malam. Di saat dini hari menjelang, doa-doa Bertha beserta anak-anaknya selama empat belas tahun akhirnya berbuah; jawaban Tuhan pun datang. Jam dua pagi ada ketukan di pintu. Anak-anak membuka dan ternyata Robby kembali .... Anak-anak bersuka cita sekali. Mereka memeluk papi mereka, saya sendiri terharu melihatnya.

Petronela: "Kita semua menangis, semua sakit di dada terlepas, Tuhan angkat."

Priscila: "Saya tidak bisa ngomong apa-apa lagi, yang ada cuma tangis!"

Tuhan memulihkan hati saya dan hati Robby. Luar biasa ...! Hubungan kami lebih daripada masa pacaran. Saat ini saya merasakan satu kebahagiaan yang luar biasa. Kami tahu bahwa Tuhanlah yang memberikan kebahagiaan dan sukacita yang kami alami saat ini. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, suami saya yang rasanya sudah mustahil untuk kembali, empat belas tahun kemudian bisa pulang lagi. Terus berdoa dengan sungguh dan berharap pada Tuhan Yesus; asal kita percaya dan bertekun, semua mungkin terjadi.

Sumber: http://kesaksian.sabda.org/penantian_yang_panjang
READ MORE - Kesaksian Bertha (Istri Robby Sugara): Penantian yang Panjang