AJARAN KRISTEN SEBAGAI PENUNTUN HIDUP

ajaran kristen tentang banyak hal

Yesus berkata: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Minggu, 17 Maret 2013

Humor: Orang Paling Bijaksana

Waktu mengajar sekolah minggu, seorang guru mencoba bertanya kepada muridnya.

Guru : "Mengapa Salomo menjadi orang yang paling bijak di dunia?"

Murid: "Karena ia memunyai banyak istri yang menasihatinya."
READ MORE - Humor: Orang Paling Bijaksana

Selasa, 12 Maret 2013

Cerita Inspiratif : Renungan dari Si Pencuri Kue

Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu,ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara, lalu menemukan tempat untuk duduk.

Sambil duduk wanita tersebut membaca buku yang baru saja dibelinya. Dalam keasyikannya tersebut ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka berdua. Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskan persediaannya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu. Wanita itupun sempat berpikir: (“Kalau aku bukan orang baik sudah kutonjok dia!”). Setiap ia mengambil satu kue, si lelaki juga mengambil satu.

Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir (“Ya ampun orang ini berani sekali”), dan ia juga kasar malah ia tidak kelihatan berterima kasih. Belum pernah rasanya ia begitu kesal. Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan, dan ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si “Pencuri tak tahu terima kasih!”.

Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget. Disitu ada kantong kuenya, di depan matanya. Koq milikku ada di sini erangnya dengan patah hati. Jadi kue tadi adalah milik laki-laki tersebut dan ia mencoba berbagi. 

Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih dan dialah pencuri kue itu. 

Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi. Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya.

Orang lainlah yang selalu salah, orang lainlah yang patut disingkirkan, orang lainlah yang tak tahu diri, orang lainlah yang berdosa, orang lainlah yang selalu bikin masalah, orang lainlah yang pantas diberi pelajaran. Padahal kita sendiri yang mencuri kue tadi, padahal kita sendiri yang tidak tahu terima kasih. Kita sering mempengaruhi, mengomentari,mencemooh pendapat, penilaian atau gagasan orang lain sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya.

Sumber: http://renunganhidup.com
READ MORE - Cerita Inspiratif : Renungan dari Si Pencuri Kue

Senin, 04 Maret 2013

Renungan Harian: Menghitung Berkat

"mulutku akan menceritakan keadilan-Mu dan keselamatan yang dari pada-Mu sepanjang hari, sebab aku tidak dapat menghitungnya."
Mazmur 71:15


Iseng saja, pernahkah Anda berpikir berapa lama waktu yang diperlukan untuk menghitung satu sampai satu triliun? Anggap saja tiap satuan diperlukan waktu satu detik, maka diperlukan waktu 1 triliun detik, atau sama dengan 16,67 milyar menit, atau sama dengan 277,78 juta jam, atau sama dengan 11,57 juta hari, atau sama dengan 31.709,79 tahun!

Bagaimana dengan berkat Tuhan yang kita terima? Sangat banyak, bahkan tak terhitung. Pertanyaannya, sudahkah kita menghitung setiap berkat tersebut? Meski Tuhan tidak pernah menuntut kita menghitung dan menyebutkan berkat yang kita terima satu per satu, seharusnya muncul kesadaran dalam diri kita untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Setiap berkat yang kita terima harusnya membuat kita semakin dekat dan intim dengan Tuhan, karena kita akan selalu mengucap syukur kepada-Nya. 

Sayangnya yang terjadi tidak selalu seperti itu. Banyak orang Kristen tidak mengawali hari untuk bersekutu dengan Tuhan dan kembali mengakhiri hari tersebut dengan bersekutu dengan Tuhan, meski dalam sepanjang hari itu Tuhan sudah memberkati, menjagai, melindungi, dan melimpahkan anugerah-Nya kepada kita. Ironis, bukan? Lebih ironis lagi karena kita sering mengajari anak kita untuk selalu mengucapkan terima kasih atas setiap pemberian yang diterimanya, namun kita sendiri tidak pernah berterima kasih atas berkat-berkat-Nya. 

Seandainya kita mau menghitung setiap berkat yang kita terima, tentu kita akan selalu ingat kepada Dia yang menganugerahi kita dengan berkat-berkat itu. Hitunglah berkat-Nya, maka akan selalu ada ucapan syukur yang melimpah. Hitunglah berkat-Nya, maka hati kita tidak akan melekat dengan berkat tersebut, tapi akan melekat kepada Dia yang memberikan berkat tersebut. Awali hari dan akhiri hari dengan menghitung berkat-Nya dan bersekutu dengan-Nya.

Sumber: www.renungan-spirit.com
READ MORE - Renungan Harian: Menghitung Berkat

Minggu, 24 Februari 2013

Kesaksian : George Frederick Handel

Tuhan itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk.
Mazmur 145:14

George Frederick Handel mungkin adalah komponis yang namanya tidak seterkenal Mozart atau Beethoven. Namun Anda semua pasti mengenal lagu ‘Halleluyah’, atau lebih tepatnya opera ‘The Messiah’. Lagu ini adalah masterpiece Handel. Seorang penulis biografi Handel menulis, "karya tersebut akan tetap menjadi karya terbesar dalam sejarah penggubahan lagu/musik. Mungkin untuk selamanya". 

Handel sebenarnya sudah mulai terkenal sejak usia 8 tahun. Sejak usia itu ia sudah mahir bermain organ dan pernah tampil di depan Pangeran Frederick III dari Berlin. Bahkan kota-kota besar di Eropa juga pernah disambanginya. Namun nama besar bukanlah jaminan. Karena situasi, Handel kehabisan uang, nyaris bangkrut dan antusias penonton tak lagi berpihak padanya. Itu makin diperparah oleh kesehatannya yang semakin memburuk (terkena stroke hingga tangan kanannya lumpuh). Meski akhirnya bisa disembuhkan, Handel memutuskan untuk pensiun dari dunia musik yang telah membesarkannya.

Empat bulan setelah konser perpisahannya, seorang bernama Charles Jennings memberikan sebuah buku musik kepada Handel. Buku itu ditulis berdasarkan kehidupan Yesus. Tak disangka ternyata buku itu mampu mengubah hidup Handel. Ia pun menulis karya-karyanya lagi. Kreativitasnya mengalir terus menerus selama 21 hari tanpa henti dan dalam waktu tiga minggu itu, ia berhasil merampungkan ‘Messiah’ setebal 260 halaman, dengan bobot karya yang tak tertandingi.

Nama besar Handel sempat menjadi contoh sebuah kegagalan. Namun itu bukanlah penghambat untuk seseorang kembali bangkit dan menjadi sukses. Gagal bukanlah aib, kita bisa berkali-kali gagal, namun apakah kita bisa bangkit lagi atau tidak itu intinya. Mungkin sekarang kita sedang terpuruk akibat sesuatu yang kita lakukan atau alami. Namun dari situ, bukan mustahil akan muncul karya masterpiece kita. Asalkan kita berani untuk memulai lagi dan siap menanggung risiko, sukses tentu akan bisa diraih.

Terpuruk tidaklah buruk, berani bangkit akan melejit
READ MORE - Kesaksian : George Frederick Handel

Humor : Kingkong Badannya Besar

Seorang guru sekolah minggu yang masih baru, saat mengajak murid-muridnya menyanyi, tampak grogi.

Guru: "Adik-Adik, kita akan menyanyikan "Kingkong Badannya Besar". Siapa yang pernah lihat kingkong?"

Murid-murid: (berebut) "Saya..!!!" (sambil mengangkat tangan)

Guru: "Di mana?"

Alex yang terkenal paling bandel menjawab dengan santai sambil menunjuk pada sang guru, "Di sini".
READ MORE - Humor : Kingkong Badannya Besar

Sabtu, 09 Februari 2013

Cerita Inspiratif: Teguran Untuk Si Penggosip

Seorang wanita menyebarkan sepotong berita yang memalukan mengenai tetangganya. Dalam beberapa hari, seluruh desa mengetahui berita yang memalukan itu. Dan, orang yang menjadi korbannya merasa sakit hati dan terpukul.
 
Kemudian, wanita yang menyebarluaskan berita buruk tersebut mengetahui bahwa berita itu betul betul salah. Dia menyesal dan mendatangi orang tua yang bijak untuk meminta nasihat mengenai apa yang dapat ia lakukan untuk memperbaiki kesalahannya itu.

Pergilah ke pasar ,kata orang tua bijak itu, dan belilah seekor ayam. Sembelihlah kemudian, dalam perjalanan pulang, cabuti bulu bulunya dan buang satu per satu disepanjang jalan.

Meskipun terkejut mendengarkan itu, dia melakukan apa yang disarankan orang bijak itu kepadanya. Namun, ia merasa masih belum bisa memperbaiki kesalahannya menyebarluaskan berita bohong itu kepada seluruh penduduk desa. Keesokan harinya, ia kembali mengunjungi orang tua bijak itu dan menanyakan kembali persoalannya. Orang bijak itu berkata, Hmm….kalau begitu, sekarang pergilah dan kumpulkanlah semua bulu yang telah kaubuang kemarin dan bawa kembali kepadaku.

Wanita itu pun menyusuri jalan yang telah dilaluinya kemarin dan berusaha mengumpulkan bulu bulu ayam yang telah dicabutinya. Sayang, angin telah menerbangkan bulu bulu itu kesegala penjuru sehingga mustahilah ia bisa mengumpulkan semuanya. Setelah mencari cari selama berjam jam, ia kembali dan hanya bisa membwa tiga helai bulu. Lalu, ia kembali menemui orang bijak itu.

Lihatlah! kata orang bijak itu, sangat mudah mencabuti bulu ayam dan melemparkannya kemana anda suka, Namun, sangat tidak mungkin mengumpulkannya kembali. Begitu pula dengan gossip dan berita bohong. Tidak sulit untuk menyebarluaskan rumor, tetapi sekali terlempar, Anda tidak akan pernah secara penuh memperbaiki kesalahan anda.

Sumber : http://renunganhidup.com
READ MORE - Cerita Inspiratif: Teguran Untuk Si Penggosip

Rabu, 06 Februari 2013

Renungan Harian : Jujur

Bacaan: Yunus 1:1-17
Nats: Yunus 1:12
"Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu."

Sangat sedikit manusia yang dengan jujur berani mengakui kesalahannya. Daripada bersikap jujur, banyak manusia lebih suka berkelit dan memakai seribu satu macam dalih dan alasan demi pembenaran diri. Bahkan tak segan-segan mereka mengorbankan orang lain untuk dijadikan kambing hitam. Dia yang berbuat kesalahan tapi orang lain lah yang harus menanggung akibatnya. 

Kita menyalahkan lingkungan kerja yang kurang baik, padahal itu hanya untuk menutupi kesalahan yang kita lakukan. Kita menyalahkan orang tua untuk kegagalan kita. Kita menyalahkan gereja karena iman kita lemah. Kita menyalahkan Tuhan atas dosa yang kita perbuat. Aneh memang, tapi itulah yang terjadi! Padahal seharusnya jika iman kita lemah, itu adalah tanggung jawab kita sendiri, bukan tanggung jawab gereja. Atau jika kita jatuh ke dalam dosa, itu adalah masalah kita bukannya kita menyalahkan Tuhan karena Ia membiarkan kita melakukan dosa itu.

Aksi pembenaran diri dan saling melemparkan kesalahan sebenarnya sudah ada sejak dulu. Manusia pertama yang memulainya. Bukannya mengakui kesalahannya, Adam justru menyalahkan Hawa sebagai biang kerok bahkan ia juga menyalahkan Tuhan atas insiden ini, seolah-olah Tuhan dipersalahkan karena menempatkan Hawa di sisinya. Gantian Hawa menyalahkan si ular yang menggodanya. 

Meski Yunus lari dari panggilan Tuhan, saya masih melihat ada sikap positif dari Yunus yang bisa kita tiru, kejujurannya dalam mengaku kesalahan. Saat badai menggoncangkan kapal yang ditumpanginya, ia mengakui dengan jujur bahwa semuanya ini terjadi karena kesalahan yang ia buat. Yunus tidak menyalahkan alam yang tak bisa diajak kompromi. Yunus tak menyalahkan nahkoda yang tak becus mengemudikan kapal.Yunus tak menyalahkan Tuhan sebagai pengatur alam. Yunus tak mengelak dan mengkambinghitamkan orang lain untuk menutupi kesalahannya. Mungkin karena kejujurannya inilah Yunus diberi kesempatan oleh Tuhan hidup saat berada di perut ikan selama tiga hari. 

Apa reaksi yang kita buat saat melakukan kesalahan? Akankah kita bersikap jujur untuk mengakui kesalahan itu dan melakukan perbaikan diri, ataukah kita lebih suka berkelit, berdalih, mencari alasan dan menyalahkan orang lain?

Jika hari Anda melakukan kesalahan, akuilah dan katakanlah dengan jujur.

Sumber : http://www.renungan-spirit.com
READ MORE - Renungan Harian : Jujur